Cerita Samurai Pemenggal Tentara Jepang yang Melegenda di Semarang

SAMHURI Prasetyo terlihat sibuk membolak-balik beberapa arsip kuno miliknya saat berada di rumahnya, Kampung Tegalsari Candisari Semarang, Kamis (19/10).

Mbah Samhuri memerlihatkan samurai yang dia rampas dari tentara Jepang saat pertempuran Lima Hari di Semarang. Foto: metrosemarang.com/fariz fardianto

Sembari menghela napas, pria 91 tahun ini mengatakan hari ini tepat dengan puncak peringatan Pertempuran 5 Hari. Di hari yang sama pula, Mbah Huri mengingat bagaimana perjuangannya saat membebaskan Semarang dari penjajahan Jepang.

“Waktu pertempuran meletus, pasukan Jepang menyerbu masuk Semarang, mereka menembaki apa saja yang dilihatnya. Di pusat kota Semarang, dentuman tembakan terdengar berulang kali memekakan telinga,” ungkap kakek 12 anak dan 13 cucu tersebut.

Ia menyebut pertempuran 5 hari di Semarang berlangsung mulai tanggal 15-19 Oktober 1945 silam. Ingatannya masih tajam betapa dirinya bersama tiga rekannya bahu-membahu bertempur melawan tentara Jepang.

Ia masih berusia 19 tahun ketika perang meletus di pusat kota. Usia yang sangat muda bagi seorang pemuda untuk berjuang melawan bala tentara Nippon. “Jepang sangat sadis. Tetapi kita bertekad untuk melawan kekejaman mereka. Tumpah darah kita pertaruhkan demi merebut kemerdekaan,” ujarnya.

Para muda-mudi pun angkat senjata saat pertempuran berlangsung. Samhuri tergabung dalam Tentara Pelajar. Samhuri masih mengingat satu nama rekannya yang gigih bertempur di garda depan.

“Sayuto namanya. Dia nekat menyusup gudang-gudang senjata Jepang. Ada tiga samurai yang kami ambil di sana. Dan ini adalah satu-satunya yang tersimpan sampai sekarang,” kata Mbah Samhuri,  sambil menunjukkan sebilah pedang legendarisnya.

Saat perang memasuki hari keempat, Samhuri bersama rekannya menyusup ke pusat pertahanan musuh yang ada di Jalan Bojong (sekarang berubah jadi Jalan Pemuda).

Saat berjalan di depan kawasan Lapas Bulu, seorang dokter Jepang ditebas menggunakan samurai itu. “Saat bergerak menuju Jalan Pemuda, kami menyerang musuh, Sayuto menyahut pedang yang saya bawa kemudian memenggal kaki beberapa tentara Jepang,”. Ia tak ingat lagi berapa banyak tentara Jepang yang kena tebas pedangnya.

Guratan-guratan perlawanan dengan tentara Jepang terlihat dari gagang dan mata pedang tersebut. Bentuknya masih asli seperti yang dulu karena masih disimpan dengan baik.

Sepeninggal sang istri, Samhuri kini menghabiskan hidupnya bersama cucunya. Namun, ia menganggap zaman yang cepat berubah telah melupakan jasa para pejuang zaman kemerdekaan.

“Saya berharap pemerintah memberi perhatian lebih kepada kita sebagai veteran pejuang kemerdekaan,” ujarnya. (far)

You might also like

Comments are closed.