Cerita Saudagar-saudagar Pakistan di Balik Masjid Pekojan Semarang

METROSEMARANG.COM – Selalu ada kisah tak terlupakan di balik pendirian sebuah masjid. Begitu pula dengan Masjid Jami Pekojan. Sesuai namanya, masjid yang berada di Kampung Pekojan Semarang ini masih menyimpan rekam jejak penyebaran agama Islam yang dilakukan para saudagar asal Koja, Pakistan.

Masjid Jami Pekojan Semarang Foto: metrosemarang.com/fariz fardianto
Masjid Jami Pekojan Semarang
Foto: metrosemarang.com/fariz fardianto

“Jadi, ini masjid dinamai Pekojan yang berasal dari kata ‘Koja’. Artinya, kampung yang didiami oleh suku-suku sempalan dari India dan Pakistan yang berada di Koja,” kata Annas Salim sesepuh kampung kepada metrosemarang.com, Selasa (7/6).

Singkat cerita, kata Annas, sekitar 150 tahun silam orang-orang Koja memilih eksodus ke beberapa negara sambil berdagang dan syiar Islam.

Mereka pun singgah di Kali Semarang lalu menggelar beragam dagangan batu akik dan tasbih tepat di lokasi yang kini bernama Jalan Pekojan. “Ya, di situlah mereka berdagang. Dari lima orang jadi 10 orang sampai beranak pinak hingga sekarang,” jelasnya.

Masjid Pekojan sendiri, menurutnya merupakan tempat ibadah terpenting bagi kaum Pekojan. Syeh Latief, seorang saudagar asli Koja Pakistan lah yang pertama punya ide membangun masjid dengan penampilan serba hijau ini.

Lalu, beberapa orang dari suku Aqwan mulai membangun Masjid Pekojan. Namun, sejarah ihwal siapa yang mendirikan masjid ini masih simpang siur. Pasalnya, banyak saksi sejarah yang telah wafat atau beberapa jejak yang mulai kabur.

Namun yang jelas, sisa-sisa perjuangan orang Koja dalam membangun masjid tersebut dapat dilihat hingga kini. Pada bagian halaman masjid, masih dapat dijumpai makam Haji Alwan dan Rafii, yang konon merupakan aulia besar pada zamannya. “Tapi, saya kira dialah pendiri kampung Pekojan,” cetusnya.

Kemudian ada pula makam Syarif Al Fatimah tak lain saudaranya Haji Aulia.

Di Kampung Pekojan kini terdapat sebanyak 100 warga. Mereka umumnya sudah berubah jadi asimilasi dengan etnis Tionghoa, Jawa dan Arab. “Dan masjid Pekojan ini sudah ada di sini sejak 150 tahun silam,” tutupnya. (far)

You might also like

Comments are closed.