Ciao! Annese

Lagi, PSIS Pecat Pelatih

Lisensi UEFA Pro yang dipunya Annese tak cukup kuat untuk mengerek prestasi PSIS. Mahesa Jenar masih bercokol di posisi dua terbawah.

SEMARANG – PSIS mengakhiri kerja sama dengan Vincenzo Alberto Annese. Pelatih Italia itu dianggap gagal meningkatkan performa Haudi Abdillah cs yang masih terpuruk di zona degradasi.

Dua kali sudah manajemen Mahesa Jenar memecat pelatih musim ini. Subangkit lebih dulu didepak di detik-detik akhir jelang bergulirnya Liga 1 2018. Vincenzo Alberto Annese kemudian ditunjuk menggantikan pelatih yang mengantarkan Tim Ibukota Jateng finish peringkat ketiga Liga 2 sekaligus tiket promosi ke kompetisi kasta tertinggi.

pelatih psis semarang
Vincenzo Alberto Annese (berkaus hitam) saat melatih tim Mahesa Jenar. (foto: metrosemarang/Tri Wuryono)

Italiano berusia 33 tahun itu resmi menangani PSIS hanya dua hari sebelum laga perdana di kandang PSM Makassar, 25 Maret lalu. Namun, kebersamaan kedua kubu hanya bertahan selama lima bulan. Dengan lisensi UEFA Pro yang dipunya, belum cukup buat Vincenzo mengerek prestasi PSIS. Mahesa Jenar masih bercokol di posisi dua terbawah atau peringkat 17.

“Kami berterima kasih kepada coach Vincenzo Alberto Annese yang telah berjuang bersama kami selama lima bulan terakhir. Dan berdasarkan hasil evaluasi bersama manajemen, PSIS butuh penyegaran dan semangat baru agar bisa lebih baik di sisa musim,” demikian AS Sukawijaya, CEO PSIS dalam keterangan resmi, Kamis (23/8/2018).

“Kami sudah cukup memberi kesempatan coach Vincenzo. Tapi PSIS belum beranjak dari zona degradasi,” beber Yoyok Sukawi tentang alasan pemecatan Annese.

Bersama Vincenzo, Haudi Abdillah cs hanya sanggup memetik lima kemenangan dari 20 pertandingan di kompetisi resmi. Sepuluh laga berakhir dengan kekalahan dan sisanya seri. Laga kontra Bhayangkara FC di Stadion Moch Soebroto, 13 Agustus menjadi pertandingan terakhir Vincenzo Annese bersama PSIS. Saat itu Mahesa Jenar takluk dengan skor 1-2.

 

Efek Annese Sekejap

Vincenzo Alberto Annese menjadi sorotan ketika resmi diperkenalkan sebagai pelatih PSIS pada 23 Maret 2018 lalu. Dia adalah satu-satunya pelatih berlisensi UEFA Pro (level tertinggi kepelatihan) yang beredar di Liga 1, sebelum Arema FC menunjuk Milan Petrovic

Dengan reputasinya tersebut, cukup beralasan jika fans Mahesa Jenar bisa cepat menerima Annese, meski mereka baru saja ‘kehilangan’ Subangkit yang didepak sebelum kompetisi dimulai. Pria yang akan genap berusia 34 tahun pada 22 September itu membawa perubahan dalam metode latihan hingga program diet untuk pemain.

Kekalahan 0-2 di markas PSM Makassar di pekan pertama juga masih bisa “dimaafkan”, mengingat Annese baru bergabung dua hari sebelum kick off. Selanjutnya PSIS sempat dibawa menjalani tiga laga beruntun tanpa kekalahan.

Setelah berimbang kontra Bali United, tim kebanggaan Semarang berhasil mencuri satu poin di kandang juara bertahan Bhayangkara FC. Selanjutnya mereka melumat sesama tim promosi PSMS Medan dengan skor 4-1.

Annese pun dianggap sukses menaikkan level permainan Haudi Abdillah cs yang dinilai kurang menggigit di era Subangkit. Skema 4-3-3 racikan Annese membuat PSIS jadi salah satu tim paling berbahaya saat menyerang.

Efek Annese ternyata tak bisa bertahan lama. PSIS tak pernah memetik poin di kandang lawan. Bahkan mereka selalu kalah dengan skor mencolok, masing-masing 1-4 dari Barito Putera dan 0-4 saat dibekap Sriwijaya FC di pekan ke-10.

Tapi, sejak kekalahan dari Sriwijaya, Annese berhasil membenahi pertahanan timnya. PSIS hanya kebobolan dua gol dalam tujuh laga berikutnya dan lima di antaranya berakhir clean sheet.

Bahkan hingga pekan ke-20, PSIS termasuk dalam 10 besar tim dengan pertahanan terbaik. Sejauh ini gawang Mahesa Jenar sudah kebobolan 27 gol atau 1.35 per laga. Mereka hanya kalah dari Persib (19 gol), Bali United dan Perseru (21 gol), Persija (22 gol), Persipura (25), PSM, Madura United dan Bhayangkara FC (26 gol).

Torehan itu lebih baik ketimbang peringkat keempat Barito Putera yang sudah kebobolan 32 gol (1.6) maupun Borneo FC dan Persela Lamongan di peringkat 8 dan 9 yang sama-sama kemasukan 28 gol (1.4). Dua tim sesama penghuni zona merah, PS Tira dan PSMS bahkan sudah kebobolan 44 dan 36.

 

Antiklimaks

Masalahnya pertahanan apik tak diimbangi dengan produktivitas gol ke gawang lawan. PSIS hanya mampu menjaringkan 18 gol atau 0.9 gol per laga. Mereka hanya lebih baik jika dibandingkan dengan Perseru yang baru menorehkan 15 gol. Hari Nur cs masih kalah produktif dari PSMS (22 gol) dan PS Tira (27 gol).

Seretnya produktivitas gol PSIS juga berbanding lurus dengan persentase kemenangan. Bersama Annese, PSIS baru mengemas lima kemenangan (25%), terburuk di antara kontestan Liga 1.

PSIS juga jadi tim kedua yang paling banyak kehilangan poin di kandang. Jawara Liga Indonesia 1999 sudah menelan tiga kekalahan dan tiga kali seri saat main di hadapan Panser Biru dan SneX.

infografik: Habib Lutfi (magang)

Artinya mereka sudah defisit 15 poin dari 11 laga kandang yang sudah dimainkan, dengan total poin yang bisa dicapai 33. PSIS hanya mampu meraup 18 poin home, hasil lima kemenangan dan tiga kali imbang.

Torehan itu sebenarnya masih lebih bagus ketimbang PS Tira yang sudah kehilangan 17 poin di kandang. Tapi tim milik TNI itu mampu mencuri lima poin dari kandang lawan, salah satunya kemenangan 2-0 atas PSIS di pekan ke-9. Sedangkan PSIS hanya menorehkan dua poin away.

Sampai pekan ke-20, PSIS masih terdampar di peringkat 17 dengan 20 poin, satu setrip di atas PSMS yang mengoleksi 19 poin dan di bawah PS Tira dengan poin 21. Tim Ibukota Jateng tertinggal tiga poin dari Perseru Serui yang berada di batas akhir zona aman.

Dengan pencapaian tersebut tak cukup bagi Annese untuk meyakinkan manajemen Mahesa Jenar. Mantan pembesut klub Palestina Ahli Al-Khalil dan Bechem FC itu harus menanggalkan jabatannya usai serangkaian hasil buruk.

PSIS gagal menang dalam tiga laga terakhir, dua di antaranya berakhir dengan kekalahan. Pertandingan melawan Bhayangkara FC yang berkesudahan 1-2, Senin (13/8) silam menjadi laga perpisahan Annese.

 

Jafri Sastra Melanjutkan

Manajemen PSIS Semarang menunjuk Jafri Sastra sebagai pelatih kepala beberapa saat setelah memutus kontrak Vincenzo Alberto Annese. Bersama pelatih asal Padang tersebut, Mahesa Jenar ditargetkan keluar dari zona degradasi.

“Hari ini kami perkenalkan coach Jafri Sastra sebagai pelatih PSIS. Tentunya tantangan berat buat pelatih baru untuk mengangkat prestasi PSIS yang saat ini masih berada di zona degradasi,” kata CEO PSIS Yoyok Sukawi.

Pelatih PSIS
Jafri Sastra (tengah) bakal membesut PSIS hingga akhir musim. (foto: metrosemarang/Tri Wuryono)

Menurutnya, dengan 14 pertandingan tersisa, dibutuhkan kerja keras dan komitmen semua anggota tim. “Bersama coach Jafri kami ingin PSIS lebih berkarakter sehingga bisa lolos dari degradasi,” Yoyok menambahkan.

Jafri Sastra dianggap punya kelebihan yang tak dimiliki Annese. “Selama ini komunikasi pelatih dan pemain kurang berjalan bagus. Coach Jafri punya pengalaman di Liga 1. Lisensinya juga memenuhi syarat,” beber Yoyok.

Jafri pun siap memikul tanggung jawab memimpin Haudi Abdillah cs bertahan di Liga 1. “Saya tertantang untuk mengambil kesempatan bersama PSIS. Saat ini PSIS sedang menghadapi masalah dan ini yang akan kami hadapi bersama,” tandasnya.

Jafri Sastra akan mulai memimpin latihan resmi sore nanti di Stadion Citarum. Selanjutnya eks pembesut Persis Solo sudah ditunggu dua laga uji coba melawan Persibat Batang, Jumat (24/08/2018) dan PSS Sleman (26/08/2018).

“Dua kali uji coba akan saya maksimalkan untuk mengenal individu pemain dan karakter tim,” Jafri menegaskan. Dua laga berat menanti Jafri Sastra dalam lanjutan Liga 1. Setelah jeda Asian Games, PSIS bakal melakoni dua laga away beruntun di markas PSMS Medan dan Persija Jakarta. (*)

 

 

You might also like

Comments are closed.