Citizen Gigs, Hiburan Berkelas untuk Kampung-kampung di Semarang

METROSEMARANG.COM – Sebuah gang kecil di Jalan Cilosari Dalam RW 7, Kemijen, Semarang Timur tampak berbeda dari biasanya. Puluhan orang berdiri menghadap sebuah panggung kecil berhias gantungan kotak-kotak lampion di atasnya. Tampaknya mereka sedang menyaksikan pertunjukan dari berbagai penampil dalam sebuah acara yang bertajuk Citizen Gigs.

Penampilan Musical Sewing Machine di Citizen Gigs, Kamis (13/4) malam. Foto: metrosemarang.com/efendi mangkubumi

Diinisiasi oleh komunitas Hysteria, Citizen Gigs merupakan sebuah upaya untuk mengajak warga untuk kembali menumbuhkan aktivitas kreatif di kampung-kampung Kota Semarang khususnya. Selain untuk memberi hiburan, kegiatan ini merupakan sebuah ajakan untuk memulai sebuah gerakan untuk meningkatkan rasa kekeluargaan sesama warga.

“Karena memang perilaku warga di kampung pinggir kota juga selayaknya kampung-kampung yang lain nggak melulu semuanya kenal, dengan kegiatan seperti ini saya pikir menjadi salah satu bentuk membangun jaringan internal kampung dengan membuat kegiatan bersama,” ujar salah satu Inisiator, Purna Cipta Nugraha, Kamis (13/4) malam.

Berbagai penampilan unik terlihat menyita perhatian warga sekitar. Antusias warga juga sangat tinggi menanti sebuah pertunjukan yang mungkin tek pernah mereka lihat sebelumnya. Yaitu Musical Sewing Machine, duo asal Jerman yang menyuguhkan musik eksperimental dengan menggunakan mesin jahit. “Musiknya sih lebih bereksperimen dengan alat keseharian, salah satunya adalah mesin jahit,” beber Purna.

Uniknya lagi, setiap selesai mempertunjukkan musik eksperimental dengan mesin jahit, mereka mampu menghasilkan sebuah baju ataupun hasil konveksi lainnya.

Selain itu, acara ini sengaja digelar di tengah kampung guna memberikan sebuah hiburan kepada warga yang lelah dengan rutinitasnya. “Mungkin warga sudah capek dengan berusaha, ekonomi juga tidak terlalu tinggi, rutinitas, akhirnya kegiatan bersama yang menghibur itu menjadi sebuah jalan masuk,” ujar Purna.

Purna mengatakan, untuk mengadakan festival seperti ini di sebuah area yang tak biasa dirasa sangat susah, pasalnya ia bersama dua orang temannya tidak berasal dari lembaga pemerintahan. “Nggak ada masuk kampung yang nggak susah, kecuali kalau menyatakan diri sebagai lembaga-lembaga ternama lainnya ya, karena kami kebetulan komunitas, istilahnya kita ya babat alas mau nggak mau,” ungkap Purna.

Ia juga mengaku sempat mendapat slentingan saat pertama masuk ke kampung Kemijen. “Tapi kami memberikan penjelasan yang baik, pendekatan yang lebih manusiawi, nggak memberikan perintah gitu lho. Jadi bagaimana kita memberikan penjelasan dan pemahaman kepada warga itu menjadi sangat penting,” tutur Purna.

Tak hanya pertunjukan musik eksperimental dengan mesin jahit, beberapa penampil lain juga turut memeriahkan acara ini. Seperti BDBH, musik eksperimental menggunakan peralatan elektronik seperti mixer audio yang didampingoi dengan lafal sejarah Jawa sebagai narasinya. Kemudian beberapa penampil lainnya yakni Woeoed, Racau Kemarau, Suluk Semarangan, dan Perkusi KTBA Kemijen.

Meski di awal acara sempat diguyur hujan, namun acara ini berjalan dengan lancar dan meriah. Kemeriahan tersebut ditutup dengan riuh tepuk tangan warga usai penampil terakhir mempertunjukkan kebolehannya. (fen)

You might also like

Comments are closed.