Congrock 17, Kolaborasi Keroncong dan Rock dengan Sentuhan Modern

Congrock 17, sudah 32 tahun bertahan dengan genre keroncong. Foto: metrosemarang.com/dok
Congrock 17, sudah 32 tahun bertahan dengan genre keroncong. Foto: metrosemarang.com/dok

TETAP konsisten pada genre musik yang diusungnya, hingga kini Keroncong Rock (Congrock) 17 masih eksis mewarnai dunia musik di tanah air, khususnya Semarang. Tepat pada 18 Maret 2015 lalu, grup musik yang lahir pada era orde baru itu menggelar konser hari lahirnya ke 32 tahun yang terangkum dalam event Rabu Legen di Taman Budaya Raden Saleh (TBRS).

Ya, Congrock 17 terbentuk pada 17 Maret 1983 yang diprakarsai Marko Marnadi. Nama Congrock sendiri diambil dari genre musik yang dibawakannya, yakni kolaborasi antara musik keroncong dan rock. Sedangkan angka 17 diambil dari personelnya yang kebanyakan alumni Universitas Tujuh Belas Agustus (Untag) Semarang.

Bertahan hingga berumur 32 tahun memang bukanlah hal mudah bagi sebuah grup musik. Pengalaman vakum selama dua tahun dari 1998 sampai 2000 juga sempat dirasakan Congrock 17.

Bangkit dari kevakumannya, grup musik dengan 15 personel yang terdiri dari Yanto (melodi), Anang (bas), Hendi (keyboard), Veri (drum), Yono dan Tono (okulele/cuk-cak), Darmaji (cello), Andre (biola), Rifai (flood), Dodo (saksofon) serta Marko, Rudi, Kunto, Andri, dan Eva (vokal) tersebut memaknai Congrock 17 sebagai musik perjuangan. Artinya, mereka berjuang  mengalahkan ego masing-masing dan kembali pada janji awal bahwa musik Congrock 17 akan terus hidup dan berkarya.

Pemaknaan Congrock 17 sebagai musik perjuangan memang tidak hanya sebatas itu. Karena genre yang diusungnya memberontak ‘kepakeman’ keroncong. Sejak awal lahir, Congrock 17 mendapat kecaman oleh banyak kalangan musisi keroncong dan tidak diakui dalam keluarga musik keroncong.

Congrock 17, menggarap musik keroncong dengan sentuhan modern. Foto: metrosemarang.com/dok
Congrock 17, menggarap musik keroncong dengan sentuhan modern. Foto: metrosemarang.com/dok

Memang, konsep keroncong yang dibawakan Congrock 17 sangat berbeda dengan musik keroncong pada umumnya. Musik keroncong yang dihadirkan lebih ngerock, ngebeat, juga -menggunakan alat-alat elektrik.

“Tak peduli orang-orang musik mau ngomong apa, bodo amat. Yang penting pada saat itu dalam benak kami berkarya dan berkarya, dan prinsip itu tertanam sampai saat ini,” ujar Marko Marnadi saat berbincang-bincang dengan metrosemarang.com belum lama ini.

Selain itu, penampilannya pun tidak melulu berkebaya bagi penyanyi wanita atau berkostum tradisional pada personel lainnya, melainkan berkostum trendy ala anak muda zaman sekarang. Namun, berkat keteguhan para personel dalam mempertahankan konsep musiknya, pada tahun 2008 Congrock 17 mendapat rekor Muri kategori grup musik yang konsisten dengan genre yang diusungnya.

Mulai tahun 2008 itulah Congrock 17 mulai diakui dalam keluarga musik keroncong hingga sekarang ini. Melalui video-video pentasnya yang diunggah di youtube, Congrock 17 pun mulai dikenal banyak orang, terlebih kalangan anak muda. “Paling banyak yang mengonsumsi video-video kami malah anak-anak muda di Jawa Timur,” terang mantan Ketua Dewan Kesenian Semarang (Dekase) itu.

Dalam perjalanannya, Congrock 17 sudah memiliki empat album, yakni karya sendiri dengan Gadis Yang Mana dan mengcover lagu-lagu musisi Indonesia ternama, seperti Ismail Marzuki, Mardiyanto, dan Kelly Puspito. Berulangkali Congrock 17 juga mengisi acara mantan presiden Indonesia, Susilo Bambang Yudhoyono ketika masih menjabat serta konser keliling ke Eropa dan Amerika Latin.

Setelah menggelar konser hari lahirnya ke 32 tahun, kini Congrock 17 semakin dikenal masyarakat Semarang. Beberapa produser musik nasional pun mulai meliriknya. “Kami tidak akan meninggalkan Semarang, karena di sini Congrock 17 lahir. Sesuai pemaknaan kami tentang Congrock 17 sebagai musik perjuangan, kami akan terus berjuang mengembangkan musik di Semarang,” pungkas Marko. (ans)

 

You might also like

Comments are closed.