Cuaca Ekstrem, Nelayan Sulit Deteksi Perubahan Tinggi Gelombang Laut

METROSEMARANG.COM – Sejumlah nelayan di tepi pantai Kota Semarang terpaksa berhenti melaut selama dua bulan terakhir menyusul anomali cuaca yang terjadi belakangan ini sangat ekstrem. Kondisi tersebut terlihat tatkala Dinas Perikanan dan Kelautan (DKP) Kota Semarang melakukan pemantauan di sejumlah kampung nelayan yang ada di Mangunharjo sampai Tambaklorok.

Cuaca ekstrem membuat nelayan di Jateng menganggur. Foto: dok metrojateng.com

“Kapal-kapal nelayan di sini (Mangunharjo) tidak ada yang beroperasi karena semua nelayannya berhenti melaut,” ungkap Sumayarto, Kabid Perikanan Tangkap DKP Kota Semarang, kepada metrosemarang.com, Jumat (26/1).

Ia menjelaskan saat ini para nelayan kesulitan mendeteksi perubahan tinggi ombak Laut Jawa yang sangat cepat. Setiap nelayan, kata Sumayarto telah meningkatkan kewaspadaan ketika mencoba menjala ikan di lautan lepas selama satu atau dua hari.

“Semuanya takut karena ombaknya tiba-tiba bisa naik dua meter lebih saat nelayan berada ditengah laut,” terangnya.

Nelayan Mangunharjo biasanya melaut dari Subuh sampai sore hari dengan hasil tangkapan bervariasi. “Untuk hasilnya saat ini cenderung menurun,”.

Di Tambaklorok, untuk menyiasati cuaca ekstrem, pihaknya belum lama ini telah membekali sejumlah perempuan nelayan di Tambaklorok dengan pelatihan tata boga dan menjahit. Pelatihan itu diberikan agar para perempuan nelayan setempat mendapat kesibukan di luar kegiatan menjala ikan.

“Ketimbang dua bulan menganggur tidak bisa melaut, maka ibu-ibu nelayan Tambaklorok kita beri pelatihan tata boga dan menjahit,” bebernya.

Ia memperkirakan cuaca ekstrem akan mereda pada awal Februari nanti sehingga diharapkan aktivitas para nelayan bisa berangsur normal kembali. “Kira-kira Februari nanti sudah normal. Tapi kita lihat dulu perkembangannya,” tandasnya. (far)

You might also like

Comments are closed.