Cuaca Tak Menentu, Produksi Batik Mangrove Terhambat

METROSEMARANG.COM – Perubahan cuaca yang kian tak menentu membuat para perajin batik mangrove di RT 05/RW VI Mangkang Wetan, Kelurahan Mangunharjo, Kecamatan Tugu Semarang kewalahan.

Batik Mangrove bikinan petani Mangunharjo yang mendunia. Foto: metrosemarang.com/fariz fardianto

Hariyati, Ketua Kelompok Perajin Batik Alam Wijaya Kusuma yang ada di kampung itu bahkan mengatakan produksi batik mangrove kini mengalami penurunan bila dibanding tiga bulan lalu.

“Karena batik mangrove mengandalkan cuaca, nah kalau kondisinya kadang hujan, kadang panas seperti saat ini ya batiknya enggak cepat kering. Padahal, kami sering dapat pesanan dari luar kota,” ungkap perempuan paruh baya tersebut saat dikontak metrosemarang.com, Senin (17/4).

Untuk menyiasatinya, Hariyati menyampaikan proses penjemuran batiknya kerap dilakukan di halaman rumahnya. Sesekali ia menggunakan kipas angin untuk memperlancar proses pengeringan bila hujan deras mengguyur kampungnya.

“Sebenarnya kita jadi repot kalau cuacanya enggak menentu. Malah pernah suatu hari pas lagi enak-enaknya menjemur mangrove sebagai bahan pewarna, eh tiba-tiba hujan deras. Hal-hal inilah yang enggak bisa diprediksi,” tuturnya.

Saban hari, ia mengaku rutin dibantu beberapa ibu rumah tangga untuk mengebut pembuatan batik. Ia bilang batik mangrove dengan corak warna cokelat muda dengan motif hutan bakau paling diminati pelanggan.

Hampir tiap Minggu ia mendapat pesanan dari dinas-dinas pendidikan, pemerintah daerah hingga turis mancanegara. Permintaan dari luar negeri datang dari Perancis, Jepang, Korea Selatan, Italia dan Malaysia.

“Yang banyak pesan ke sini itu ya dari Tegal, Bogor, Jakarta, Bangka sama Italia. Rata-rata mereka suka sama pola-pola warna yang kita buat. Ini tentunya membuat kita senang sekali,” kata Hariyati. (far)

You might also like

Comments are closed.