Cuaca Terik, Semarang Waspada Kebakaran

Kebakaran di Jalan Banowati Tengah, Selasa (1/9). Tingginya temperatur menjadi salah satu pemicu terjadinya kebakaran. Foto: metrosemarang.com/dok
Kebakaran di Jalan Banowati Tengah, Selasa (1/9). Tingginya temperatur menjadi salah satu pemicu terjadinya kebakaran. Foto: metrosemarang.com/dok

SEMARANG – Stasiun Klimatologis Klas I Badan Metrologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Kota Semarang, mengingatkan warganya agar meminimalisir potensi kebakaran akibat cuaca panas yang mendera wilayah tersebut sejak tiga bulan terakhir.

“Karena gesekan-gesekan dedaunan kering dapat memicu bunga api dan membakar wilayah sekitarnya. Ini harus dihindari,” kata Prakirawan cuaca BMKG Semarang, Zauyik, kepada metrosemarang.com, (6/9).

Menurut Zauyik, potensi kebakaran lahan yang dipicu gesekan dedaunan di lahan kering masih bisa terjadi di Semarang. “Jadi kalau bisa seminimal mungkin kita harus menjauhi gesekan-gesekan benda yang rawan terbakar,” tegas Zauyik.

Cuaca panas hingga kini memang masih terjadi di Semarang. Temperaturnya yang naik turun ditambah faktor human error membuat rumah-rumah di wilayah ini sering terbakar.

Terakhir, peristiwa kebakaran muncul di rumah Jalan Banowati Semarang Utara. Kebakaran yang timbul di satu rumah Jalan Banowati akhirnya merembet ke dua rumah sebelahnya, sehingga menimbulkan kerugian mencapai jutaan rupiah.

Lebih jauh, Zauyik menjelaskan, puncak musim kemarau masih terjadi pada bulan ini hingga November nanti. Dalam kurun waktu itu, BMKG memperkirakan, temperatur udara bisa menyentuh angka 37 derajat celcius.

Berdasarkan data Dinas Kebakaran Kota Semarang, selama delapan bulan terakhir sudah terjadi 191 kasus kebakaran. Angka ini bisa saja lebih tinggi dibanding tahun 2014. Sebagai perbandingan, pada Januari hingga Oktober 2014 terjadi 194 kebakaran di Semarang. (far)

You might also like

Comments are closed.