Cut and Paste Musik Ekperimental, Kolase dan Sikap Hidup

Riska Farasonalia

Perempun pemain drum yang selama ini berladang karya di Semarang itu belakangan menggeluti musik eksperimental. Bermain musik secara “liar” untuk menghasilkan bebunyian baru

NAMANYA tercatat sebagai salah satu penampil terakhir pada hari pertama konser Nusasonic di gedung Societet Militair Taman Budaya Yogyakarta, 10 Oktober 2018. Riska Farasonalia tergabung dalam Quartet Residency yang tampil terakhir Rabu malam itu. Pada panggung berukuran 10×8 meter, Riska mendapat tempat di sisi kanan.

Bergaun hitam, berselendang, bertelanjang kaki, Riska duduk di belakang drum set. Ia menambah vibraslap di atas simbal. Di sebelah kiri ada Nadya Hatta dari Yogyakarta bermain keyboard piano. Cheryl Ong dari Singapura memainkan perkusi tradisional, ditingkahi suara vokal Kok Siew-Wai dari Malaysia.

View this post on Instagram

The last performer, Quartet Residency. Live Performances / Pertunjukan Day 1. 10.10.2018 Gedung Societet Militair Taman Budaya Yogyakarta Jalan Sriwedani No. 1, Yogyakarta. Riska Farasonalia, musician, journalist, and member of an inter-local feminist collective called Kolektif Betina. She's also creates collage-based artwork that takes on personal themes, the unconscious, psychology, and spirituality. Nadya Hatta, learned classical piano during her childhood but gradually became interested in exploring the piano’s sound (digital piano and effects) and creating music compositions. She also provided input into film scores: “Arini” by Ismail Basbeth (as assistant composer), and “The Gift” by Hanung Bramantyo, as assistant orchestrator. Kok Siew-Wai, vocal improviser, video artist, and organiser who has shown video works and performed in Asia, Europe, Canada, and USA. Cheryl Ong, A recipient of the National Arts Council Arts Bursary, Cheryl graduated with a degree in Chinese Percussion from the Central Conservatory of Music, Beijing. She’s always up for playing, bucking trends, and going for broke~ #nusasonic #nusasonicJOG [credit photos by: @wandirana]

A post shared by Crossing Aural Geographies (@nusasonic) on

Nusasonic diinisiasi oleh Goethe-Institut di Asia Tenggara. Merupakan proyek multitahun yang menyelami keberagaman budaya bunyi dan musik eksperimental di Asia Tenggara, membuka dialog dalam kawasan tersebut, dengan Eropa, dan negara-negara lainnya. Berada dalam helatan seperti itu, Riska seperti mendapat tempat bertumbuh.

Perempun pemain drum yang selama ini berladang karya di Semarang itu belakangan memang sedang menggeluti musik eksperimental. Bermain musik secara “liar” untuk menghasilkan bebunyian baru.

Drum sudah digelutinya sejak umur belasan tahun. Menjadi personel marching band hingga drummer musik keras sudah pernah ia lakoni. Ia juga menekuni kolase untuk menuangkan buah pikirnya yang lain.

Kami berbincang dengannya tentang karya, pandangan dan laku hidupnya.

 

Selamat atas penampilanmu di Nusasonic. Bagaimana ceritanya kamu bisa terlibat di sana? Sepertinya menyenangkan sekali ya?
Tentu. Nusasonic pertama itu diadakan di Jogja (Yogyakarta). Acara festival musik eksperimental yang pertama di Asia Tenggara. Selanjutnya bakalan muter ke luar negeri. Tahun berikutnya di Manila, lalu Singapura, dan lain-lain.

Awalnya aku ditelfon oleh koordinator dari Jogja. Lalu kami dipertemukan dengan tiga musisi perempuan lain. Kami diberi tema peran musisi eksperimental perempuan. Proses kreatifnya, latihan 4 hari mulai dari tanggal 5-9 Oktober 2018 kemudian tanggal 10 Oktober 2018 showcase, presentasi hasil dari latihan tersebut.

Senang ya, karena di sana bisa ada gabungan drum modern dengan perkusi tradisional. Yang keduanya memiliki perbedaan pada ketukan. Ketukan bernuansa tradisi seperti gendang, tribal, ketukan-ketukan dangdut tapi diaplikasikan pada drum. Itu luar biasa.

 

Sejak kapan sih kamu menyadari kalau kamu bisa bermain drum?
Aku mulai tertarik bermain drum sebetulnya sudah sejak SD. Itu berawal dari marching band. Waktu itu saya memilih genderang untuk dimainkan. Kemudian pada waktu SMP-SMA aku les drum. Pada saat kuliah, aku bikin band dan akhirnya sampai sekarang.

 

Apa yang membuatmu memilih drum untuk ditekuni dalam berkarya musik?
Bagaikan mencari pasangan hidup ha..ha..ha. Tapi begini, main drum itu seperti naik kapal. Kita bisa merasakan sensasi gelombangnya, ombaknya, sampai  di pantainya kita bisa merasakan suara-suara pasir, ibarat mendengarkan suara gelombang air laut.

Itu yang saya rasakan saat main drum. Hal seperti itu mulai saya rasakan terutama saat memainkan musik eksperimental.

 

Namamu cukup dikenal skena musik beraliran hardcore punk (HC punk) sebagai wadah kreasimu. Bagaimana ceritanya?
Saya sebenarnya kenal musik punk sudah sejak SMP-SMA. Kok kedengarannya enak ya. Musiknya semangat, terus hentakan-hentakannya itu. Itu belum ke lirik. Nah, setelah melihat liriknya, ternyata kok ada kegelisahan yang sama dengan yang saya rasakan.

Untuk berkarya musik, saya memang berangkat dari ranah musik HC punk. Sekitar tahun 2009 awal. Pada waktu kuliah dan main bareng teman-teman komunitas, saya diposisikan sebagai drumer pada band dengan genre lebih ke punk rock. Lirik lagu yang dimainkan, isinya lebih kritik ke isu-isu perempuan, pergerakan perempuan, kesetaraan dan hal-hal yang ada di sekitar kita.

Ada tiga personel cewek di band (Riska bergabung dengan band hardcore punk Dead Alley – red). Aku, Marlinda dan Nurul sebagai vokalis, basis dan gitarnya cowok. Kami berangkat dari “kemarahan” yang sama. Bahwa ternyata dunia kok tidak sedang baik-baik saja.

Tahun 2009 itu kami membuat album pertama. Lalu tahun 2014 kami membuat album kedua, tapi dengan formasi yang berbeda. Kami merekrut anggota lain. Untuk album kedua, aku lebih banyak ikut andil nulis lirik, daripada album pertama.

 

Apa rasanya bisa menyuarakan kritik?
Aku sendiri di belakang drum, tentunya senang. Karena bisa ada wadah untuk menuangkan pendapat. Apalagi banyak sekali isu-isu pelecehan terjadi. Banyak teman-teman HC punk yang datang ke konser musik atau gigs mengalami pelecehan seksual, lebih ke arah seksisme.

Yang saya rasakan, saya memiliki media penyampai pesan. Dengan memiliki sarana penyampaian pesan itu, kami berkembang di situ.

 

Lalu sekarang kamu “bermain-main” di ranah musik eksperimental. Sejak kapan dan bagaimana kamu mengenal musik eksperimental?
Tahun 2012-2013 itu aku nonton Senyawa (band) saat perform. Saat itu musisi eksperimental di Indonesia sudah mulai bermunculan. Tapi menurutku yang paling kelihatan adalah Jogja. Yang dari Jogja, salah satunya ya Senyawa

Musiknya unik, pakai alat-alat tradisional, dan itu buatan sendiri. Vokalisnya nyanyi tapi seperti nggak nyanyi. Seperti mengucapkan mantra-mantra aneh. Mulai dari situ aku kenal teman-teman komunitas yang mengenalkan dan merekomendasikan musik-musik eksperimental.

Tahun 2014 bikin musik sendiri di Band HMMM. Kami melewati proses penyelaman karakter masing-masing. Kami bertiga dan sudah saling kenal, sebelumnya sudah berteman. Maka kami memutuskan, harus ada satu visi. Nah dari situ kita mengapliaksikan filsafat pada ranah penciptaan lirik-lirik.

Ada sesi diskusi, kontemplasi dan sharing. Kami terinspirasi dari keadaan sekitar, kemudian meliris single “Kota Setan”. Kami mengangkat masalah pertemanan, persabatan, sampai kompetisi yang tidak sehat. Kami mengkritisi hal-hal yang kami rasakan di ranah komunitas teman-teman kami sendiri.  Terkadang banyak gunjingan di komunitas teman. Yang kelihatannya memberi support ternyara dia menggunjing di belakang.

 

Jadi, lebih tertarik musik eksperimental atau punk?
Keduanya beda. Pada saat perform yang saya rasain itu beda. Bagaimana kita bisa menjalin relasi antar musisi sambil tetap bisa berimprovisasi? Bagaimana memahami mereka dan merespon masing-masing personel? Itu seperti suatu tantangan. Kalau musik HC punk sendiri, kan lebih bebas.

 

Apa yang membuatmu beralih?
Jadi prosesnya begini. Waktu itu aku masih gabung di Dead Alley, tapi aku punya side project. Seiring berjalan waktu, karena personel Dead Alley masing-masing sibuk, aku memilih off dulu. Kemudian aku lebih banyak berproses di HMMM, ada beberapa panggung.

Dari situ aku ketemu komunitas-komunitas baru di eksperimental. Tapi akhirnya HMMM juga sempat off. Lalu aku konsentrasi bikin karya eksperimental lagi bersama Samber Nyawa, sejak 2017. Fokus di situ, sampai akhirnya diundang ke Nusasonic.

 

Kamu kalau menyeleksi panggung yang ditawarkan ke kamu nggak?
Iya. Selektif ke penyelenggara acara, dilihat dulu bagaimana kesepakatan awalnya. Kemudian lihat konsep acara, apakah cocok dengan konsep musik yang kita bawa dan visi misi yang kita suarakan. Ya harus selektif.

Tapi sebetulnya musik itu media yang universal sih. Kita paling mudah membawakan apa saja melalui musik.

 

Selain bermusik, kamu juga bikin karya kolase dan bikin merchandise. Dari semua karyamu, mana yang lebih mengeskresikan dirimu?
Lebih ke kolase sih. Aku lebih bisa meluapkan sisi lain dari diriku yang bergejolak, yang butuh dituangkan ke suatu karya. Dengan kolase, aku bisa menceritakan diriku sendiri. Seperti personal life, dan hal-hal spriritual dalam diriku. Lebih ke alter ego sih kalau kolase.

Di kolase itu lebih menampilkan simbol-simbol, maknanya lebih dalam. Secara psikologis, ini bisa dijadikan terapi untuk diriku sendiri di dalam, dengan segala interaksi yang sudah kulakukan di luar.

 

Pada saat seperti apa kamu membuat kolose?
Tidak harus kapan. Biasanya pada saat aku merasa kecewa, putus asa kayak desperate karena suatu hal, ya aku mulai menuangkannya di kolase. Dorongan untuk membuatnya itu tanpa disadari. Lebih ke mood sih, jadi pada saat nemu ide ya dituangkan saja.

 

Adakah hubungan antara kolase musik eksperimental yang kamu mainkan?
Menarik! Ternyata ada pertanyaan ini juga ya hahaha..

Iya, ada. Suatu korelasi yang aku rasain. Kalau kolase kan gunting tempel atau cut and paste karena memang tekniknya seperti itu. Nah, yang aku rasain di musik eksperimental itu cut and paste juga.

Bagaimana memproduksi bunyi tapi dengan potong tempel. Istilahnya dengan patah-patahan bunyi drum. Setelah itu ditempel lagi, dicut lagi, ditempel lagi, sampai kita mendistruksi itu.

Musik eksperimental yang aku bawa kebetulan musik destruktif. Di kolase pun itu destruktif juga. Karena dari tahap penghancuran obyek menjadi semacam puzzle yang bisa kita susun ulang satu-satu untuk jadi pondasi yang baru. Jadi yang aku rasain itu seperti berada di gelombang yang sama.

 

Siapa yang menginspirasi kamu selama ini?
Yang pasti dari teman-temanku. Bukan Pablo Picasso ataupun musisi terkenal. Tapi lebih ke teman-teman sendiri.

Di kolase, dulu aku terinspirasi dari karya Mbak Eka Fantiyani. Dia bisa memberikan support ketika awal-awal aku membuat kolase. Kalau aku di musik eksperimental, aku terinspirasi Mas Rully Shabara, yang banyak memberikan dukungan nyata aku berkarya.

 

Ada hambatan saat kamu berkarya selama ini?
Pasti. Hambatan dan tantangannya itu terkadang soal bagaimana membagi waktu. Karena memang aktivitas keseharian yang sekarang itu lebih kebanyakan dolan… hahaha.. Jadi dolan macak kerjo atau kerjo macak dolan. Membagi waktu itu istilanya diselain banget.

Tapi beruntungnya, yang selama ini aku jalani bisa bersinergi. Bisa saja ada waktu. Kalau memang harus latihan ya latihan (musik), kalau ada waktu untuk berkolase ya berkolase, kalau harus kerja ya kerja. (Riska bekerja sebagai jurnalis di Semarang – red)

Go with the flow aja sih. Jadi nggak harus maksain banget. Kalau misal bisa latihan sekarang ya ayo latihan sekarang, kalau tidak ya tidak. Ya jadi kita jalaninya seperti air mengalir saja. Toh itu jatuhnya ke muara yang sama.

 

Apa ketakutan terbesarmu?
Terkadang aku sempat mikir, pada umurku yang segini kalau aku harus menikah dan harus punya anak, pasti kegiatan-kegiatanku akan terbengkalai. Atau bahkan harus meningalkan kegiatan itu, karena aku punya tanggung jawab yang berbeda, harus fokus ke suamiku ke anakku.

Tapi mungkin dari ketakutan itu, akan ada antisipasinya mulai dari sekarang. Kalau memang besok menemukan pasangan, ya sebisa mungkin yang sesinergi juga dan bisa memberi support.

Katakanlah punya anak dan berkeluarga ya, itu mungkin faktor tanggung jawab yang beda saja. Tapi sebetulnya itu kembali lagi ke pilihan sih. Kalau memang punya passion biasanya nggak akan pernah bisa hilang sampai nenek-nenek.

 

Sejauh ini apa achievement yang membuatmu bangga?
Kalau untuk kolase, ketika ikut pameran atau instalasi seni. Kalau di musik, bisa merilis album atau merilis karya, itu achievement. Album “Penangkap Jiwa” bersama grup Samber Nyawa itu bagiku pencapaian. Di album itu vokalisnya Janet (Debby Selviana), tapi musiknya aku banget.    

Samber Nyawa merupakan sebuah proyek kolaboratif berbasis improvisasi. Anggota yang terlibat serta musik yang dimainkan Samber Nyawa bisa saja berubah – ubah, sesuai dengan keadaan dan jiwa zaman. “Penangkap Jiwa” direkam pada tanggal 23 September 2017. Musiknya memadukan noise rock penuh kebisingan dengan irama-irama tribal repetitif dan vokal yang berpola, menyerupai mantra di beberapa bagiannya.

Sumber: sambernyawa.bandcamp.com

Musiknya dari cut and paste, cut and paste. Karakter suara, bunyi-bunyiannya seperti itu. “Penangkap Jiwa” sendiri memfilosofikan penangkapan jiwa zaman sekarang. Seperti anak muda yang digital minded dan sudah tidak berurusan dengan sekitar kita. Ignorant.

 

Apa sih yang ingin kamu capai selanjutnya?
Nggak ada yang harus. Jalani saja, go with the flow. Seperti air mengalir, airnya jatuh ke muara yang kita bisa kapan saja berlayar dengan kapal.

 

Misalnya kamu diberi kesempatan untuk mengkritisi karya – karya kamu sendiri, apa yang harus kamu perbaiki?
Sebenarnya karya itu cerminan dari diri sendiri ya. Kalau aku sih bukan karyanya yang harus dikritisi, tapi diri sendiri. Lebih keproses dalam diriku. Kadang aku merasa ada pada momen di mana aku membenci diriku sendiri. Saat seperti itu aku harus mengkritisi diriku, bagaimana keluar dari momen-momen seperti itu.

 

Karyamu banyak dilihat orang, didengarkan orang, dan diapresiasi orang. Adakah yang menentang?
So far, bukan menentang. Tapi lebih ke kasih kritikan atau masukan. Biasanya aku tampung dulu, lalu difilter untuk aku ambil kritik yang membangun, supaya lebih baik lagi aku berkarya.

 

Pesan – pesan apa yang kamu sembunyikan atau ungkapkan secara lugas dalam karya – karyamu?
Untuk konteks globalnya itu sih perempuan dan diri. Sebagian besar menggambarkan diriku. Kecuali kalau misal karya yang dibuat untuk open submission biasanya menyesuaikan isu yang diusung. Tapi harus sesuai dengan visiku. Misalnya, isu lingkungan. Itu aku diminta piranti propaganda untuk demo (unjuk rasa – red), itu aku baru akan mikir konsepnya.

ekperimental semarang
Riska Farasonalia dalam permainan eksperimental drumnya. (foto: metrosemarang/Efendi)

 

Perempuan dan lingkungan. Apa pandanganmu tentang dua hal itu?
Kalau menurutku perempuan dan lingkungan memiliki korelasi. Karena kita hidup di bumi, ibaratnya bumi itu ibu bagi kita yang mana kita harus merawatnya supaya tidak rusak. Karena kita dikasih banyak oleh bumi kenapa, kita tidak ngasih ke bumi juga dengan hal-hal yang baik, dengan merawat dan menjaganya.

Kalau khusus keadaan perempuan sendiri, sekarang sih sudah banyak perkembangan. Banyak perempuan yang sudah bisa menjadi seperti yang dia mau, setara laki-laki. Tapi masih banyak juga pelecehan-pelecehan.

Yang perlu dikritisi sebetulnya, terkadang mindset si perempuan itu sendiri yang membuat mereka menjadi subordinat. Sebetulnya kita bisa saja berfikir bahwa laki-laki dan perempuan hanya sebatas jenis kelamin. Tapi soal peran, bisa setara. Laki-laki juga bisa masak kok, perempuan juga bisa nukang kok.

Kalau khusus lingkungan, sekarang ini memang sedang tidak baik dan mengerikan. Tidak bisa kebayang nanti anak cucu kita itu akan hidup seperti apa, kalau yang kita lihat sekarang ini limbah dimana-mana, polusi udara dimana-mana. Sebenarnya, pembangunan itu harus dikritisi. 

 

Pandangan – pandanganmu itu berpengaruh nggak sama perilaku sehari-hari?
Meskipun tidak militan, tapi aku menuangkanya lewat karya. Itu sampai ke temen – temen semua. Untuk laku sehari-hari sebisa mungkin aku support teman-teman perempuan sekitarku dulu. Aku sendiri juga mengurangi plastik. Sayangnya, kadang-kadang aku juga sering kelupaan juga dan kebawa arus, pakai plastik.

Sampai sekarang aku masih dalam proses belajar. Seperti berhenti merokok, makan sayur sayuran dan bercocok tanam. Aku pengen banget bercocok tanam. Nanam sayur-sayuran, tomat, lombok. Pengen punya kebun kecil di rumah. Aku sedang belajar merawat sekarang ini. Di kamarku sudah ada tanaman.

 

Kamu memimpikan perubahan?
Pastilah. Mimpiku sebenarnya adalah nggak tinggal di bumi hahaha… Maunya tinggal di luar angkasa di planet mars sana, karena bumi sudah rusak. Ya, mimpiku kabur dari bumi.  

 

Kamu mau bumi seperti apa?
Susah sih ya. Kalau di bumi sebenarnya aku pengen tinggal di hutan. Seharusnya bumi ini punya lebih banyak hutan. Lebih banyak pohon-pohon di sekitar kita, terutama mungkin di rumah-rumah. Idealnya, satu rumah punya satu pohon. Itu menurutku. (*)

 

Penulis: Eka Handriana, Zahra Saraswati, Jessica Celia
Editor: Eka Handriana
You might also like

Comments are closed.