Daging Gelonggongan Merebak, Konsumen Diminta Waspada

METROSEMARANG.COM – Perkumpulan Pengusaha Daging Semarang (PPDS) meminta masyarakat mewaspadai daging sapi gelonggongan saat membeli. Persentase peredaran daging sapi gelonggongan di Kota Semarang ini diperkirakan mencapai 75%.

Ilustrasi
Foto: metrosemarang.com/dok

Tanti Arisa dari PPDS Kota Semarang, mengatakan, persentase daging sapi gelonggongan itu lebih besar. Sebab untuk daging sapi kering sendiri hanya sekitar 25%. Karena itu, masyarakat harus bisa mengidentifikasi bentuk dan ciri daging sapi gelonggongan.

‘’Masyarakat selama ini masih belum banyak yang mengetahui ciri dari daging sapi gelonggongan. Padahal mereka jelas sangat dirugikan jika salah membeli daging gelonggongan,’’ katanya, Kamis (27/4).

Menurutnya, jika dimasak penyusutan daging sapi gelonggongan saat diolah mencapai 50%. Karena itu, masyarakat yang tidak tahu kemudian membeli daging sapi gelonggongan sangat dirugikan. Selain itu daging sapi gelonggongan sebenarnya tidak layak untuk konsumsi.

‘’Karena kan air yang dipakai untuk proses gelonggong kepada sapi yang mau dipotong belum tentu higienis,’’ katanya.

Daging sapi gelonggongan di pasaran harganya cukup murah, biasanya hanya dijual sekitar Rp 80 ribu/Kg. Sekitar 20 tahun lalu sebenarnya Semarang dikenal daging sapinya berkualitas. Setiap hari bisa mencapai 150 ekor sapi yang dipotong. Namun sekarang hanya sekitar 15-20 ekor sapi per hari.

‘’Namun saat ini daging sapi yang beredar di Kota Semarang sudah didominasi dari luar kota. Kami berharap pemerintah kota campur tangan,’’ ujarnya.

Diharapkan, pemerintah bisa ikut campur tangan mengawasi masuknya daging sapi dari luar. Karena daging sapi dari luar kota pasti harus ada izinnya. Hal itu bertujuan untuk memaksimalkan potensi daging sapi lokal dan daging kering. (duh)

You might also like

Comments are closed.