Dalam Semalam, 20 Mahasiswa UIN Walisongo Selesaikan 4 Majalah secara Manual

Para calon kru LPM Missi UIN Walisongo berusaha merampungkan majalah secara manual. Foto: metrosemarang.com/khoiruddin muhammad
Para calon kru LPM Missi UIN Walisongo berusaha merampungkan majalah secara manual. Foto: metrosemarang.com/khoiruddin muhammad

 

METROSEMARANG.COM – Sebanyak 20 mahasiswa Universitas Islam Negeri (UIN) Walisongo Semarang ditantang untuk menyelesaikan empat majalah dalam waktu semalam, Sabtu-Minggu (14-15/11). Mereka dibagi menjadi empat kelompok redaksi yaitu Destinasi, Makarya, Caping, dan Ragam.

Tak seperti membuat majalah pada umumnya, mereka harus membuat majalah dengan proses manual. Semua tanpa bantuan mesin atau peranti canggih lainnya. Tulisan harus dengan tulisan tangan, layout tanpa menggunakan aplikasi desain, dan ukuran kertas yang cukup besar seperti koran pada umumnya.

Dengan cara manual ini, peserta yang tergabung dalam acara Workshop Lembaga Penerbitan Mahasiswa (LPM) Missi ini diajarkan tentang proses pembuatan media cetak (majalah) setebal delapan halaman. Cara manual dipilih agar dalam proses pembuatan majalah bayangan, peserta mampu berkreasi secara orisinil, alias tidak copy paste karya orang lain.

Cara ini rupanya cukup ampuh untuk memaksa peserta berpikir di luar kebiasaan. Dengan deadline pada Minggu (15/11) pukul 03.00 dinihari, mereka dituntut menyelesaikan tepat waktu. Bertempat di Balai Pertanian Kelurahan Kandri, Gunungpati Semarang, Sabtu (14/11) peserta ditugaskan ke lapangan mencari bahan berita yang dimulai pukul 07.00. Sore sampai malam untuk menulis berita dan layout majalah.

Aula yang mulanya rapi, berubah menjadi lantai yang penuh kertas berserakan. Maklum, semua proses dikerjakan secara manual. Sebagian ada yang menggambar cover, ada yang menulis berita, dan ada yang sibuk merevisi berita hingga beberapa kali untuk mendapat tulisan yang enak dibaca.

Salah satu peserta, Satrio mengungkapkan kebingungannya untuk memulai layout halaman. Dia baru pertama kali me-layout majalah dengan cara manual hanya berbekal pensil dan penggaris. “Saya itu bingungnya pas waktu mau layout, itu yang membuat kami menyelesaikan majalah cukup lama,” katanya saat sesi evaluasi, Minggu (15/11).

Peserta lain, Gufron mengatakan, tantangan terberat adalah saat mendekati tengah malam, banyak kru yang sudah mengantuk, sedangkan majalah belum juga selesai. “Kelompok kita banyak yang kelelahan saat hunting berita, pas malam jadi kurang fokus. Tapi tetap kami menyelesaikan majalahnya sampai jadi,” ungkap Gufron.

Setelah melalui perjuangan yang cukup melelahkan, para peserta workshop bisa tersenyum puas. Sebab, keempat kelompok redaksi bisa merampungkan tugas sesuai jadwal, dengan hasil yang cukup baik. (CR-08)

You might also like

Comments are closed.