Dari Pilkada ke Pilkada (4-habis): Soemarmo Tersandung, Hendi Ketiban Pulung

Soemarmo (kanan) bersama Hendrar Prihadi. Foto: dok
Soemarmo (kanan) bersama Hendrar Prihadi. Foto: dok

KOMISI Pemilihan Umum (KPU) Kota Semarang akhirnya menetapkan Soemarmo Hadi Saputro dan Hendrar Prihadi sebagai Wali Kota dan Wakil Wali Kota periode 2010-2015. Penetapan pada hari Jumat, 21 Mei 2010 itu dilakukan setelah Mahkamah Konstitusi menolak seluruh gugatan para calon yang keberatan dengan hasil pemilihan wali kota 18 April.

Soemarmo-Hendi dilantik sebagai pasangan Wali Kota dan Wakil Wali Kota Semarang pada 19 Juli 2010 di Ruang Sidang Paripurna Istimewa DPRD Kota Semarang. Sejumlah pejabat dari pemerintah pusat, DPR RI, dan Provinsi Jateng hadir. Tapi yang selalu terngiang dari peristiwa pada hari Senin itu adalah pesan Gubernur Jateng Bibit Waluyo.

Bibit yang terkenal ceplas-ceplos itu langsung menetak Soemarmo-Hendi agar dalam memimpin Kota Semarang tidak sekali-sekali mendekati korupsi.

Duite Semarang gedhe, terus digawe apa? Aja dikorupsi. Kae ana Pak Kapolda, ana Pak Kejati. Isa-isa dikrangkeng. Itu uang milik rakyat, nek wani korupsi mengko mlebu neraka. Pak Marmo, mrene-mrene kamu tidak di surga. Kana tinggal di api yang mbulat-mbulat,’’ kata Bibit disambut riuh tepuk tangan.

Rupanya dalam sambutan Bibit yang tegas waktu itu terselip ramalan. Ya, pada Kamis siang, 24 November 2011, terjadi sebuah peristiwa menggemparkan di pelataran parkir DPRD Kota Semarang. Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) menangkap dua anggota DPRD, Agung Purno Sarjono (FRaksi PAN) dan Sumartono (Fraksi Partai Demokrat).

Keduanya ditangkap bersama uang suap Rp 40 juta yang dimasukkan dalam 21 amplop. Masing-masing amplop jumlahnya bervariasi antara Rp 1,7 juta dan Rp 4 juta. Uang itu berasal dari Sekretaris Daerah (Sekda) Ahmad Zaenuri yang juga ikut ditangkap. Diduga sebagai pelicin untuk memuluskan pembahasan program Tambahan Penghasilan Pegawai pada APBD 2012 senilai Rp 100 M. Total uang suap senilai Rp 344 juta.

Pengadilan Tindak Pidana Korupsi Semarang menyatakan ketiganya bersalah. Masing-masing dijatuhi vonis 1,5 tahun penjara untuk Ahmad Zeanuri, 2,5 tahun penjara untuk Sumartono, dan 3,5 tahun penjara untuk Agung.

Risalah persidangan tiga terpidana itu menentukan nasib Soemarmo. Dalam persidangan terungkap adanya suara Soemarmo dalam rekaman telepon yang menunjukkan dirinya mengetahui dan bertanggung jawab terhadap suap DPRD. Gelar perkara KPK pada 16 Maret 2012 diakhiri dengan penetapan tersangka Soemarmo. Dan pada 30 Maret 2012, 20 bulan setelah sambutan Bibit Waluyo, Soemarmo dijebloskan ke dalam Rumah Tahanan Cipinang.

Tapi secara de jure periode Soemarmo menjadi Wali Kota Semarang baru berakhir pada 26 Juni 2012. Pada hari itu, Bibit Waluyo meneken surat penonaktifan Soemarmo dari jabatan wali kota dan mengangkat Hendrar Prihadi sebagai Pelaksana Tugas Wali Kota. Berarti kekuasaan Soemarmo hanya bertahan 23 bulan.

Pengadilan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) Jakarta pada 13 Agustus 2012 menjatuhkan vonis 1,5 tahun penjara terhadap terdakwa Soemarmo. Setelah upaya banding tidak mendapatkan hasil, Soemarmo maju kasasi ke Mahkamah Agung (MA). Alih-alih mendapat keringanan hukuman, MA justru memperberat vonis Soemarmo menjadi tiga tahun penjara.

Pelantikan Hendi

Soemarmo tersandung, Hendrar Prihadi ketiban pulung. Jalan pria yang akrab dipanggil Hendi itu  mulus menggantikan tugas Soemarmo sebagai wali kota.

Sebulan setelah vonis kasasi dijatuhkan, tongkat kepemimpinan Kota Semarang beralih. Senin, 21 Oktober 2013, Gubernur Jateng Ganjar Pranowo melantik Hendi sebagai Wali Kota Semarang.

Acara pelantikan di Ruang Sidang Paripurna DPRD dihadiri 700 tamu undangan. Di luar gedung, 1.500 warga berjejalan menikmati 5.000 porsi makanan gratis. Meski luar biasa meriah, pihak Pemkot menampik jika pesta rakyat tersebut dianggap sebagai pesta kemenangan.

Hendi sebenarnya memiliki kesempatan memilih pendamping. Aturan menyebutkan wakil sudah harus ditunjuk setidaknya 18 bulan sebelum masa jabatan selesai pada 19 Juli 2015. Namun kesempatan itu dilewatkan, Hendi memilih jadi single fighter memimpin Kota Semarang. (Anton Sudibyo)

You might also like

Comments are closed.