Datangi Percobaan Bunuh Diri, Persalinan, Hingga Kesurupan

Dokter Ambulans Motor Semarang

Kendaraan roda dua digunakan untuk mempercepat gerak dokter, serta mempermudah gerak dokter menjangkau gang-gang sempit perkotaan. Hal itu sangat membantu dalam kondisi darurat

NURUL Afifah baru saja datang dari Sendangguwo, Kecamatan Tembalang, Semarang. Di sana ia mendapati seorang warga yang mencoba bunuh diri. Beruntung Nurul segera tiba, memberikan pertolongan pertama dan merujuknya ke rumah sakit untuk penyelamatan.

“Tadi saya cek kondisinya. Saya ajak ngobrol. Saya tangani ususnya yang terburai dengan ditutup kasa lalu disterilkan. Untungnya tertolong sampai di rumah sakit,” cerita Nurul. Ia adalah dokter yang setiap hari bertugas menggunakan ambulans motor.

 

Saya dituntut menjangkau semua lokasi di pusat kota. Lokasinya tidak melulu gampang.

-Nurul Afifah, dokter Ambulans Motor Semarang-

Di kantornya, Pos Ambulans Motor lantai dua Ruko Tri Lomba Juang-Semarang, berkali ulang Nurul harus beringsut dari tempat duduk. Ia harus merespon informasi yang keluar dari alat komunikasi yang terpasang di ruangan itu. Alat itu tidak pernah mati.

Laporan-laporan warga Kota Semarang berkaitan dengan kebutuhan pertolongan medis masuk lewat alat tersebut. Mulai dari ibu melahirkan, orang pingsan di jalanan, kecelakaan lalu lintas, hingga laporan demam dan batuk-batuk.

ambulans motor semarang
Nurul Afifah saat membonceng temannya untuk menyambangi rumah warga yang mendapat pertolongan. (foto: dok metrojateng)

Setelah menangkap laporan, Nurul akan melakukan proses identifikasi lokasi terlapor. Dokter Nurul akan menanyakan detail letak rumah, hingga jalur yang akan dilewati untuk menuju rumah terlapor yang membutuhkan pertolongan medis.

Setelah itu, Nurul bakal bergegas membawa perlengkapan dan peralatan medis. Stetostkop, alat suntik, dan obat-obatan dimasukkan ke dalam kotak yang terpasang pada sepeda motor automatic.

“Biasanya saya ditemani perawat, berboncengan. “Tapi kalau dapat laporan ada penyakit pasien tergolong ringan, ya saya motoran sendiri,” kata Nurul.

Sudah dua tahun Nurul berprofesi sebagai dokter. Bertugas menggunakan sepeda motor ia lakoni sejak Pemerintah Kota Semarang meluncurkan ambulans motor pada pertengahan Juli 2018 lalu. Kendaraan roda dua digunakan untuk mempercepat gerak dokter, serta mempermudah gerak dokter menjangkau gang-gang sempit perkotaan. Hal itu sangat membantu dalam kondisi darurat.

“Saya dituntut menjangkau semua lokasi di pusat kota. Lokasinya tidak melulu gampang. Kadang saya harus blusukan ke gang-gang sempit untuk menolong warga yang sakit,” kata Nurul.

Menurut Nurul, medan yang paling sulit dijangkau berada di kawasan wisata Kampung Pelangi. “Lokasinya naik turun dengan gang yang sempit,” ujarnya. Untuk menyiasatinya ia harus bergantian saat berboncengan, demi dapat pertolongan cepat. Tapi jika warga yang didatangi membutuhkan penanganan yang lebih kompleks dan darurat, maka mobil ambulans tetap didatangkan.

 

Nyasar dan Salah Sasaran

Dokter Nurul bukan penduduk Kota Semarang. Maka wajar jika ia tak hafal jalanan Semarang. Ia pernah tersasar, salah jalan menuju lokasi terlapor. Hal itu lantaran minimnya petunjuk jalan. Jika sudah begitu, Nurul lantas mengandalkan orang yang rela membantu memberi petunjuk jalan dengan jangkauan tercepat dari tempatnya berada.

“Sempat khawatir sih kalau dibegal di tengah jalan. Tapi karena niatnya menolong, pasti kita dijaga sama Allah,” paparnya.

Nurul pun pernah salah sasaran tatkala mendatangi rumah terlapor, lantaran laporan yang tidak akurat. Awalnya, Nurul mendapat laporan seorang yang terjatuh dengan badan kaku. Namun setelah sampai di lokasi dan melakukan pemeriksaan, pasien yang dihadapi Nurul malah menurun kesadarannya. Ia kesurupan.

“Itu pengalaman yang tidak terlupakan. Mau nggak mau ya saya harus bantu baca-baca doa. Untung bisa sadar seperti semula. Itu kejadian di kampus swasta, belum lama ini,” cerita Nurul. Ia menyebut, pekerjaan yang dilakoninya menantang dan mengasyikan. Ia rela harus pulang-pergi hingga larut malam dari rumahnya di Kaliwungu, Kendal menuju Semarang.

Ia pun masih berstatus sebagai pekerja honorer di lingkungan Dinas Kesehatan Kota Semarang, dengan bayaran Rp 7 juta sebulan. “Pekerjaan ini memacu adrenalin sekaligys banyak belajar tentang kehidupan,” ungkap Nurul yang memang masih muda. Umurnya baru 28 tahun di tahun ini.

 

Gratis

Ambulans sepeda motor merupakan diversifikasi tipe armada layanan ambulans gratis yang disediakan Pemerintah Kota Semarang. Sebelum ambulans motor, pemerintah lebih dulu meluncurkan Ambulance Hebat Si Cepat dengan bentuk Mini Bus (untuk layanan gawat darurat), dan Ambulance Hebat Siaga dengan bentuk MPV (untuk layanan perawatan di rumah).

Sejak peluncurannya pada Juli lalu, ambulans motor yang bisa dihubungi lewat pusat panggilan dengan nomor 1500-132 itu telah melayani sekuranganya 700 warga Kota Semarang. Selain Pos Layanan Ambulans Motor di Mugas, juga ada pos serupa di Jalan Halmahera, Karangmalang, Bangetayu dan Srondol. Jumlah petugas ambulans motor terdapat 10 orang.

Menurut Kepala Dinas Kesehatan Kota Semarang, Widoyono, sejauh ini respon masyarakat sangat bagus. Pos Mugas selalu kebanjiran laporan. Banyak orang yang memanfaatkan ambulans motor sebagai alternatif pertolongan pertama. Karenanya ia menyebut, jumlah petugas ambulans motor kini masih sangat kurang. “Seharusnya ada 25 petugas,” kata Widoyono.

Agar pelayanan tetap maksimal, ia membagi tiga shift tugas, dengan durasi kerja masing-masing delapan jam kerja per hari.”Kami akan buka lowongan tahun depan. Semoga dapat mencukupi,” ujar Widoyono.

Ambulans motor diharapkan menjadi ujung tombak peningkatan kualitas kesehatan masyarakat di Kota Semarang. Mengingat, angka kematian ibu dan anak di Semarang masih tinggi. “Saya dan teman-teman harus bersusah payah menyambangi ke rumah warga agar angka kematian ibu dan anak menurun,” pungkas Nurul.

 

Reporter: Fariz Fardianto
Editor: Eka Handriana

Artikel ini telah diterbitkan metrojateng.com

 

 

Comments are closed.