Dekase dan Warga TBRS Tolak Trans Studio Tanpa Syarat

Pegiat seni Semarang dan warga TBRS akan berjuang mempertahankan TBRS dari 'gempuran' Trans Studio. Foto Metrojateng/Anton Sudibyo
Pegiat seni Semarang dan warga TBRS akan berjuang mempertahankan TBRS dari ‘gempuran’ Trans Studio. Foto Metrojateng/Anton Sudibyo

SEMARANG – Dewan Kesenian Semarang (Dekase) dan warga Taman Budaya Raden Saleh menyatakan menolak pembangunan Trans Studio di Komplek TBRS. Ada sepuluh poin yang menjadi alasan penolakan tersebut.

Keputusan diambil pada rapat Senin (9/3) dini hari di TBRS. Rapat itu dilaksanakan untuk merespons hasil pertemuan dengan Wali Kota Semarang Hendrar Prihadi di Joglo TBRS. Pertemuan yang dihadiri oleh ratusan orang dari beragam kalangan itu tidak menghasilkan keputusan apapun.

“Kami menganggap pertemuan itu membuat sikap kami mengambang dan mudah dipecah. Maka malam tadi hingga dini hari diputuskan mengambil sikap bulat,” kata Sekretaris Dekase Daniel Hakiki.

Rapat yang dihadiri Ketua Dekase Mulyo Hadi Purnomo, jajaran pengurus Dekase, sejumlah seniman teater dan seni rupa, pemilik warung TBRS, serta pekerja seni kampus itu baru berakhir pukul 01.45.

“Keputusannya, kami warga TBRS dan Dekase menolak pembangunan Trans Studio di Komplek TBRS tanpa syarat. Sekalipun di Wonderia itu masih masuk Komplek TBRS dan tetap kami tolak,” kata Daniel.

Ketua Sanggar Seni Paramesthi itu mengungkapkan, ada sepuluh poin alasan penolakan. Di antaranya; pembangunan Trans Studio adalah privatisasi ruang publik, tidak didahului pembicaraan dengan entitas TBRS, serta ancaman pada pemangkasan RTH dan penutupan akses sendang.

Pengalihan fungsi TBRS menjadi Trans Studio juga melanggar Perda Nomor 14 tahun 2011 tentang RTRW Kota Semarang 2011-2031. “Dalam Pasal 86, huruf g angka 13 disebutkan kawasan TBRS di Kecamatan Candisari sebagai pasar seni yang masuk dalam kawasan pengembangan dan peningkatan wisata alam dan cagar budaya,” tegas Daniel. (byo)

You might also like

Comments are closed.