Derai Air Mata Iringi Visualisasi Jalan Salib di Gereja Santa Theresiana Bongsari

METROSEMARANG.COM – Ratusan pasang mata tertuju pada visualisasi kisah sengsara Yesus berjudul “Mengapa Kau Tinggalkan Aku” yang dimainkan oleh Teater Lentera di halaman Gereja Santa Theresiana Bongsari, Jalan Puspowarno Raya, Semarang, Jumat (14/4). Tangis para jemaat pecah saat Sang Juru Selamat mendapat siksaan dari prajurit Romawi.

Visualisasi Jalan Salib di Gereja Santa Theresiana Bongsari, Jumat (14/4). Foto: metrosemarang.com/efendi mangkubumi

Disutradarai oleh Nicolas Rafael, teatrikal ini berkonsep tentang kedatangan Yesus ke dunia dan mempertanyakan sesuatu kepada jemaat.

“Konsepnya saya kepingin membayangkan seandainya pada hari ini Tuhan Yesus yang ada di surga turun ke dunia bersama Bunda Maria lalu bertanya pada kita semua. Saya mencoba menanyakan pada semua jemaat maksud dateng ke sini, melihat visualisasi, rutinitas, atau ada sesuatu yang kita ambil,” ujar Nico.

Diperankan oleh sekitar 35 orang, mereka berlatih selama 3 bulan. Tak hanya berlatih peran, selama tiga bulan mereka juga mempersiapkan segala properti yang digunakan saat pentas.

“Nggak ada kendala sih sebenarnya, cuman kadang waktunya aja yang susah soalnya kan ada yang kerja, ada yang sekolah,” ujar Nico.

Wajah haru juga tampak pada ratusan jemaat saat Yesus hendak disalib. Berulang kali cambukan yang mengarah pada badan Yesus memecah tangis dari ratusan jemaat yang menyaksikannya. Derai air mata mulai mengalir dari ratusan jemaat saat kaki dan tangan Yesus mulai dipaku pada sebuah salib.

Visualisasi Jalan Salon di Gereja Santa Theresiana Bongsari, Jumat (14/4). Foto: metrosemarang.com/efendi mangkubumi

Yohanes Dendi Alfianto, pemeran Yesus mengaku bangga bisa memerankan sosok yang menjadi panutan umat nasrani itu. “Iya dicambuk beneran,” ujar Dendi saat ditanya tentang pencambukan yang dilakukan oleh para prajurit.

Ia mengaku tak merasa sakit meskipun berulang kali menerima cambukan dari para prajurit. “Kalau sakit itu kita kembali lagi masalah keikhlasan, sebenarnya dari cambuk sendiri memang sudah dibuat dari tali pramuka, makanya tidak terlalu sakit,” tambah Dendi, meskipun badanya tampak beberapa luka bekas cambukan.

Ini memang kali pertama bagi Dendi memerankan sosok Yesus. Hanya memerlukan waktu sekitar 3 bulan saja, dia mampu menguasai karakter sebagai Yesus.

“Tantangannya sih sebagai Yesus, secara pribadi saya sebenarnya tidak pantas akan tetapi terus disupport dan kedekatan kepada Tuhan dan berlatih, dan kuncinya ya itu ikhlas, sabar, dan tidak memikirkan apa-apa yang penting jalan aja,” tutup Dendi. (fen)

You might also like

Comments are closed.