Dewan Ingin Semarang Kembangkan Wisata Berbasis Budaya

METROSEMARANG.COM – Pengembangan pariwisata di Kota Semarang diminta sebaiknya berbasis budaya daripada hanya sekadar mengikuti tren modern. Sehingga wisata yang dikembangkan nantinya lebih kokoh dan tidak mudah lapuk oleh zaman.

Klenteng Sam Poo Kong. Dewan meminta pengembangan wisata berbasis budaya. Foto: metrosemarang.com/dok

Komisi D DPRD Kota Semarang yang membidangi pariwisata mengapresiasi Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar). Karena terlihat mencoba untuk mengikuti tren pariwisata modern yang berbasis MICE (meetings, incentives, conferences and events).

‘’Dengan harapan hotel laris, menaikkan income, dan lain-lain. Termasuk juga menggelar SNC (Semarang Night Carnival) yang ada nilai modernitas,’’ kata Anggota Komisi D Imam Mardjuki, Senin (19/3).

Namun, Imam mengatakan bahwa sebetulnya wisata yang kokoh dan kuat serta tidak akan lapuk oleh zaman adalah wisata yang berbasis budaya. Dia mengambil contoh misalnya di Bali, di sana orang berkunjung puluhan kali tidak akan merasa bosan, karena basisnya budaya. Di samping budaya itu juga disatukan dengan daya tarik alam.

Kemudian Solo juga menggagas wisata yang berbasis budaya, yaitu menggagas Solo Spirit of Java. Maksud dari gagasan itu menurutnya tentunya adalah ingin menyampaikan kepada khalayak bahwa Jawa itu ya Solo.

‘’Nah Semarang sebenarnya juga punya kelebihan di aspek (budaya) itu. Budaya Semarang kaya, karena dulu sejarahnya merupakan kota transit. Kekayaan religi, bahkan cagar budayanya Semarang punya semua. Mulai dari Masjid Kauman, Gereja Blenduk, Sam Poo Kong, dan lainnya,’’ terangnya.

Politisi PKS itu mengatakan, kekayaan budaya itu kalau dipadu dengan kekayaan histori dan alam Semarang yang indah, dimana Semarang merupakan sedikit dari kota yang punya pantai dan pegunungan sekaligus, akan menjadi daya wisata yang tinggi.

Di samping tentu tetap membuka eksplorasi kekayaan wisata yang ada dengan kreatifitas. ‘’Seperti di Tinjomoyo, yang mungkin pendekatan pengembangannya daripada hanya jadi ruang kosong, terus dijadikan Pasar Semarangan. Itu tidak masalah,’’ katanya.

Tapi konsep umumnya, dia menegaskan Komisi D sebenarnya ingin Pemkot Semarang memulai pengembangan wisata dengan berbasis budaya. Misalnya, dimulai dengan seluruh stasiun dan bandara serta hotel harus selalu memutar lagu Gambang Semarang.

‘’Begitu orang masuk Semarang (lagu) itu yang didengar pertama kali, sebagaimana kita ke Bali yang pertama kita dengar ya lagu khasnya sana. Jadi dengan suara lagu itu, orang ibarat buta saja ketika mendengarnya bisa mengatakan ini di Semarang, kita ingin seperti itu,’’ tegasnya.

Di Rencana Induk Pariwisata Semarang, tambahnya, pengembangan wisata berbasis budaya ini juga sudah disampaikan. Karenanya, tinggal pemerintah dalam hal ini Dinas Kebudayaan dan Pariwisata saja bagaimana untuk menindaklanjutinya. (duh)

You might also like

Comments are closed.