Dhemit pun Menolak Trans Studio Semarang di TBRS

Pertunjukan Forum Teater Kampus Semarang (Fotkas) "Dhemit TBRS Pindah Nggon" di Taman Menteri Supeno (Taman KB), Sabtu (14/5) malam. Foto Metrojateng/Anton Sudibyo
Pertunjukan Forum Teater Kampus Semarang (Fotkas) “Dhemit TBRS Pindah Nggon” di Taman Menteri Supeno (Taman KB), Sabtu (14/5) malam. Foto Metrojateng/Anton Sudibyo

SEMARANG – Tidak hanya seniman dan Dewan Kesenian Semarang yang menolak pembangunan Trans Studio Semarang di Komplek Taman Budaya Raden Saleh. Setan dan dhemit penunggu kawasan TBRS pun menolak karena pembangunan itu akan merusak rumah yang mereka huni puluhan tahun lamanya.

Hal itu tergambar dari pertunjukan yang digelar Forum Teater Kampus Semarang (Fotkas) di Taman Menteri Supeno (Taman KB), Sabtu (14/5) malam. Pentas yang dimulai pukul 20.00 itu berjudul “Dhemit TBRS Pindah Nggon”.

Pentas itu dilakukan oleh 15 performer yang berasal dari kelompok teater yang ada di berbagai perguruan tinggi negeri dan swasta di Kota Semarang. Masing-masing memerankan satu karakter setan. Ada raja dhemit, pocong, jerangkong hidup, kuntilanak, thuyul, dan lain sebagainya.

Mereka adalah setan-setan penunggu TBRS. Tapi malam itu mereka gentayangan di Taman KB untuk mencoba apakah tempat itu layak sebagai rumah baru. Pencarian rumah baru itu tak lain karena adanya isu pembangunan taman bermain modern Trans Studio di Komplek TBRS.

Namun setelah sekian lama bermukim di Taman KB, rupanya setan-setan itu tidak kerasan. Akhirnya digelar sidang setan yang menghasilkan satu keputusan yang dituangkan dalam memorandum of understanding (MoU).

MoU itu berbunyi bahwa para setan dan dhemit menolak pembangunan Trans Studio di Komplek TBRS. Sebab pembangunan itu dilakukan manusia secara serambangan, tidak didahului kulonuwun dulu kepada para setan.

Pertunjukan berdurasi satu jam itu ditonton ratusan warga. Selain mahasiswa juga masyarakat umum yang kebetulan menikmati malam minggu di Taman KB. Begitu selesai, seluruh performer beranjak ke Tugumuda untuk menggelar pentas serupa.(byo)

You might also like

Comments are closed.