Dicuci Otak oleh Gafatar, Rina Nekat Tinggalkan Islam

Rombongan eks pengikut Gafatar saat berada di Tanjung Emas Semarang, Senin (25/1). Foto: metrosemarang.com/fariz fardianto
Rombongan eks pengikut Gafatar saat berada di Tanjung Emas Semarang, Senin (25/1). Foto: metrosemarang.com/fariz fardianto

METROSEMARANG.COM – Seorang perempuan paruh baya asal Wonogiri diketahui meninggalan agama Islam sejak bergabung dengan Gerakan Fajar Nusantara (Gafatar). Hal itu terungkap tatkala Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo berdialog dengan Rina, perempuan asal Wonogiri itu yang ikut pulang ke Semarang bersama ratusan bekas pengikut ormas terlarang tersebut, Senin (25/1).

Ganjar mengatakan bekas anggota Gafatar sudah dicuci otak sehingga tak sadar telah dicekoki doktrin sesat soal keagamaan. “Saya lihat cara mereka ngomong jelas-jelas menjadi doktrin yang sudah masuk. Ditanya agama Islam, tapi tidak paham salat. Padahal dulu salat tapi sekarang tidak salat,” tutur Ganjar.

Rina yang berusia 41 tahun ikut diusir oleh warga Kabupaten Mempawah Kalimantan Barat bersama Uji, kerabat dekatnya yang masih berusia 18 tahun. Keduanya lalu dipulangkan dari Pontianak naik KRI Gilimanuk menuju Semarang sejak Jumat kemarin. Mereka tiba di Pelabuhan Tanjung Emas pukul 07.00 WIB tadi.

Beranjak siang, ada 351 bekas anggota Gafatar mulai dari orang dewasa, remaja hingga anak-anak yang langsung dikirim ke tempat karantina di Embarkasi Haji Donohudan, Boyolali.

Lebih jauh, Ganjar sempat mencecar pertanyaan secara detail termasuk alasan mereka bergabung dengan kelompok sesat tersebut.

Berdasarkan pengakuan dua orang bekas pengikut Gafatar itu, kata Ganjar, sangat kecil kemungkinan bila sejak dini mengeyam bangku pendidikan secara berjenjang dan diberikan materi pelajaran agama Islam tapi saat beranjak dewasa justru tak mengerti kewajiban salat sebagai seorang Muslim.

“Nggak mungkin orang pumya pendidikan agama dari SD hingga SMA kok tidak mengerti salat,” ujar Ganjar.

Saat ditanya alasan bergabung Gafatar hingga eksodus ke Mempawah pengakuan yang muncul pun juga tampak janggal. “Ini sebenarnya ada yang tidak clear saat mau berangkat atau apa? Setelah itu dia kaget, dan ada juga tidak kaget,” tambahnya.

“Saya ingin mengonfirmasi juga dengan keluarganya. Apakah mereka pergi, tanpa pamitan. Jadi bagi warga Jawa Tengah dan DIY yang merasa kehilangan anggota keluarganya agar segera melapor kepada kami,” terang politikus PDIP ini. (far)

You might also like

Comments are closed.