Dihuni 42 Lansia, Panti Wredha Harapan Ibu Kekurangan Dana Operasional

METROSEMARANG.COM – Panti Wredha Harapan Ibu di Kelurahan Gondoriyo Kecamatan Ngaliyan yang dihuni sebanyak 42 orang lansia kekurangan dana untuk operasional. Selama ini bantuan biaya hanya dari Kementerian Sosial dan Dharmawis, sementara dari Pemkot Semarang masih belum ada.

Wakil Wali Kota Semarang dan Ketua PKK Kota Semarang Tia Hendrar Prihadi memberikan bingkisan Lebaran dan menjenguk para lansia penghuni Panti Wreda, Kamis (22/6). Foto: metrosemarang.com/masrukhin abduh

Ketua Panti Wredha Harapan Ibu, Suyatni Soerono mengatakan, untuk memenuhi kebutuhan dan merawat para lansia setiap bulan panti mendapat bantuan dari Kemensos sebesar Rp 5,7 juta dan Dharmawis Rp7,8 juta. Tapi dana tersebut masih belum mencukupi untuk memenuhi kebutuhan.

”Itu belum cukup, karena kebutuhan untuk masak saja perhari habis 12 kilogram beras, untuk lauk 3 hari minim Rp 5 ribu,” katanya ditemui setelah penyerahan bingkisan Lebaran kepada para lansia penghuni panti oleh Wakil Wali Kota Semarang, Ketua PKK Kota Semarang dan Ibu-Ibu Forkompinda Kota Semarang, Kamis (22/6).

Untuk memenuhi kekurangan, terpaksa hanya mengandalkan bantuan orang-orang dari luar yang kebetulan setiap hari selalu ada. Kalau hanya mengandalkan dari bantuan Kemensos dan Dharmawis dipastikan tidak cukup. Apalagi, dana tersebut juga digunakan untuk menggaji para karyawan.

Guna mengurus para lansia yang berusia 60 tahun hingga 80 tahun lebih, pihaknya mempekerjakan empat orang karyawan dan enam pengurus panti. Setiap hari karyawan masuk, sedangkan pengurus panti dibagi dengan sistem piket harian. Gaji mereka jauh di bawah Upah Minimal Regional (UMR).

Selain masalah biaya, kendala lainnya peralatan panti seperti tempat tidur dan lemari banyak yang sudah rusak, sedangkan kasur masih tersedia cukup. Karena itu dari kapasitas 50 penghuni saat ini hanya ada 42. Mereka selain dari Kota Semarang juga dari Kudus, Solo, Klaten dan daerah lainnya.

”Dulu dari mana saja bisa diterima asal punya surat pindah, tapi sekarang sudah ada aturan baru yang boleh diterima di panti harus warga Kota Semarang dan ber-KTP,” ungkapnya.

Selain itu, bangunan panti bagian depan sekitar 400 meter juga akan terkena proyek jalan tol Batang-Semarang. Namun karena bangunan dan tanah panti ini aset milik pemkot sehingga masalah tersebut diserahkan kepada pemkot. Pihaknya tidak mengetahui bagaimana proses ganti ruginya.

”Tidak ada ruang kamar tidur yang kena, hanya bagian depan, sehingga nanti hanya direhab dengan merubah wajah panti, karena meped tol nanti kami minta dibangun pagar yang tinggi,” jelas Suyatni Soerono.

Ditambahkan, bangunan panti ini memang aset miliknya pemkot, yang dikelola oleh Yayasan Sosial Harapan Ibu di bawah Organisasi Dharma Wanita Kota Semarang. Tapi, sayangnya tidak ada bantuan dari Pemkot Semarang untuk memenuhi kebutuhan dana operasional yang masih kurang.

”Dulu memang selalu ada, tapi dua tahun terakhir ini tidak turun. Setelah ganti kepala, kami sudah diminta untuk mengajukan proposal bantuan lagi untuk tahun 2017 dan 2018, mudah-mudahan nanti bisa turun lagi,” katanya.

Pihaknya juga sudah memiliki makam khusus. Karena untuk urusan sakit hingga meninggal dunia para lansia termasuk menjadi tanggungjawab panti. (duh)

You might also like

Comments are closed.