Dilema Yuliana Mempertahankan Sekolah yang Nyaris ‘Tenggelam’

Genangan air di halaman TK YWKA II akibat hujan deras pada Minggu (3/1) malam. Foto: metrosemarang.com/khoiruddin muhammad
Genangan air di halaman TK YWKA II akibat hujan deras pada Minggu (3/1) malam. Foto: metrosemarang.com/khoiruddin muhammad

METROSEMARANG.COM – Kepala Sekolah Taman Kanak-kanak (TK) Yayasan Wanita Kereta Api (YWKA) II Yuliana Sumini mengaku berat hati harus menanggung biaya sewa gedung sekolah sebesar Rp 6 juta pertahun. Dia kebingungan karena besaran uang tersebut susah dicapai apalagi kondisi murid semakin menurun setiap tahun.

“Sekarang sudah dilepas dari yayasan pengurus pusat di Bandung oleh PJKA. Mulai tahun ini sewa ditarget Rp 6 juta pertahun,” terang Yuliana saat ditemui di sekolahnya di Jalan Tawang Sari No 60 B Kelurahan Tanjung Mas Kecamatan Semarang Utara, Senin (4/1).

Dia mengaku kebingungan karena tidak mungkin meminta bantuan pada wali murid, mengingat mereka dari kalangan menengah ke bawah. “Saya sampai kemringet, sudah lapor yayasan tidak ada uang, mau minta dari uang murid ya kasihan,” ungkapnya.

Pengurugan terus menerus mengakibatkan bangunan sekolah semakin rendah. Foto: metrosemarang.com/khoiruddin muhammad
Pengurugan terus menerus mengakibatkan bangunan sekolah semakin rendah. Foto: metrosemarang.com/khoiruddin muhammad

Untuk menggaet murid agar semakin bertambah, tahun kemarin Yuliana bahkan membebaskan  uang pangkal yang besarannya Rp 100-150 ribu. “Biar muridnya banyak, karena penurunan siswa mencapai 30 persen. Tahun ini tinggal 46 murid untuk 2 kelas, tahun 2013-2014 kemarin ada 60, 2012 ada 72,” katanya.

Uang pangkal tersebut dikumpulkan 3-4 tahun untuk meninggikan lantai sekolah. Lantai yang dulunya berkeramik, kini hanya di plester dengan semen. “Sayang kalau dikeramik, nanti kan bakal diurug lagi,” keluhnya.

Pada musim penghujan tahun lalu tepatnya bulan Januari, Yuliana bahkan sempat meliburkan proses belajar mengajar. Genangan air yang masuk hingga ke dalam kelas tak memungkinkan untuk murid belajar di dalam kelas. “Libur 3 hari kadang lebih, kalau ruang kelas kering tetap masuk, tapi kalau kelas kemasukan air ya libur, orang tua sudah maklum,” terangnya.

Kondisi di dalam ruangan juga kurang layak, karena sering ditinggikan, guru harus merunduk saat memasuki ruang penyimpanan alat peraga permainan. Yuliana berharap banyak pada pemerintah dan Dinas Pendidikan khususnya agar ada perhatian. “Kalau mau ngerubah lagi, terus terang tidak sanggup,” keluhnya. (M.Khoiruddin)

You might also like

Comments are closed.