Ditanya soal Kasus KONI, Ini Reaksi Teguh Widodo

Teguh Widodo Foto: metrosemarang.com/dok
Teguh Widodo
Foto: metrosemarang.com/dok

METROSEMARANG.COM – Ketua Tim Pemenangan pasangan calon Soemarmo-Zuber, Teguh Widodo belum mau berkomentar banyak terkait statusnya sebagai salah satu tersangka kasus dugaan korupsi dana hibah Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) Kota Semarang tahun 2012-2013.

Setelah lama tidak terlihat, Teguh Widodo nongol dalam rapat tim pemenangan Soemarmo-Zuber. Rapat tersebut dilaksanakan pada Jumat (11/9) siang di Kantor DPW PKB Jawa Tengah Jalan Pamularsih Semarang.

Namun, saat dicegat wartawan untuk dimintai tanggapannya soal status tersanga dalam kasus yang sedang disidik Kejari Semarang, Ketua DPC PKB Kota Semarang itu memilih bungkam. Hanya sedikit kata yang muncul saat dia disinggung permasalahan tersebut. “Besok saja,” ujarnya singkat.

Penyidik Kejari Semarang menetapkan tiga tersangka baru dalam kasus dugaan korupsi dana hibah KONI Kota Semarang tahun 2012-12013. Salah satu tersangka baru itu disebut-sebut adalah Teguh Widodo, yang juga menjabat sebagai Bendahara II KONI Kota Semarang.

Penetapan tiga tersangka tersangka tersebut ditorehkan melalui Surat Perintah Penyidikan (Sprindik) dengan nomor, 05/O.3.10/Md.1/08/2015, kemudian 06/O.3.10/Md.1/08/2015, dan 07/O.3.10/Md.1/08/2015, pada 26 Agustus 2015.

Dalam kasus ini, penyidik Kejari Semarang telah menetapkan lima tersangka. Dua tersangka, Djody Aryo Setiawan dan Suhantoro masih menjalani proses hukum di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) Semarang. Keduanya juga sudah ditahan di Lapas Kedungpane. Sedangkan tiga tersangka lainnya, belum dilakukan penahanan.

Dalam kasus ini, dana hibah 2012-2013 yang dicairkan berjumlah Rp 19 miliar. Dana tersebut diduga telah diselewengkan karena banyak temuan pemotongan dana terutama dari cabang olahraga (cabor), pengadaan lelang seragam senilai Rp 745 juta yang tidak dibayarkan ke rekanan serta penggelembungan harga di sejumlah item terkait kegiatan Porprov di Banyumas dan Purwokerto.

Berdasarkan perhitungan penyidik dan dibantu Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan (BPKP) Jateng, kerugian dalam kasus ini diperkirakan mencapai Rp 1,575 miliar. (ade)

 

 

 

 

You might also like

Comments are closed.