Dituding Lakukan Pungli, MAN 1 Semarang Klaim Ada Kesalahan Stempel

METROSEMARANG.COM – Madrasah Aliyah Negeri (MAN) 1 Semarang mengundang wali siswa baru terkait dugaan pungutan liar yang dilakukan oleh pihak sekolah, Rabu (29/6) pagi. Pihak sekolah memberikan penjelasan kepada seluruh wali siswa baru dengan dihadiri oleh Ombudsman dan Kasi Kesiswaan Kantor Wilayah Kementerian Agama Jawa Tengah.

Kepala Ombudsman RI Kantor Perwakilan Jawa Tengah, Achmad Zaid  Foto: metrosemarang.com/yulikha elvitri
Kepala Ombudsman RI Kantor Perwakilan Jawa Tengah, Achmad Zaid
Foto: metrosemarang.com/yulikha elvitri

Sebelumnya, MAN 1 semarang telah didatangi oleh Kepala Ombudsman RI Kantor Perwakilan Jawa Tengah, Achmad Zaid terkait dugaan adanya pungutan bagi calon peserta didik pada Selasa, kemarin. Sidak yang dilakukan oleh Ombudsman ini merupakan tindak lanjut atas laporan salah seorang wali siswa yang mengaku diberikan permintaan kesanggupan membayar sumbangan Rp 2,5-5 juta.

“Sudah jelas aturan itu melarang adanya pungutan, bukan sumbangan namanya kalau ada batas nominal dan batas waktu,” tegas Zaid kepada metrosemaramg.com.

Aturan terkait masalah sumbangan ini sebenarnya sudah tercantum dalam peraturan Dirjen Pendidikan Islam pasal 22 ayat 4 tahun 2016. Dalam peraturan itu telah disebutkan bahwa wali siswa diberi kesempatan untuk memberikan sumbangan kepada madrasah setelah siswa tersebut diterima sebagai siswa.

“Yang terjadi di sini kan belum diterima tapi telah diminta,” imbuh Zaid.

Pihak sekolah sendiri mengakui bahwa telah terjadi kesalahan prosedur. Mereka bersikukuh tidak ada niatan dari sekolah untuk melakukan pungutan. Atas kekeliruan tersebut pihak sekolah mengembalikan uang yang telah diterima dari siswa baru ini.

“Kan sudah diklarifikasi, jadi ini urusan komite, dan juga kesalahannya kan karena stempel yang digunakan,” ungkap Muchlas, Kepala Sekolah MAN 1.

Stempel yang digunakan dalam surat permintaan kesanggupan itu adalah stempel madrasah dan bukan stempel komite. Hal inilah yang akhirnya menjadi pemicu dugaan adanya pungutan liar. “Kalau stempel komite itu berarti sudah disepakati komite sekolah, lah ini stempel madrasah,” tukas Zaid.

Zaid juga mengimbau pada para wali siswa jika memberikan sumbangan itu sebenarnya juga untuk anak-anak mereka. Namun ia menegaskan sumbangan tersebut harus sesuai dengan kemampuan masing-masing. (vit)

You might also like

Comments are closed.