Doca Vestalia, Awalnya Passion Akhirnya Profesional

Watercolor Artist

Salah satu seniman lukis Semarang yang menekuni digital art hingga cat air

SEORANG perempuan berkerudung hitam membuka pagar rumahnya untuk kami. Ia merekahkan senyum ke arah tersenyum. Kami merasa menjadi tamu spesial yang dinanti. Kami memang memiliki janji untuk bertandang ke kediamannya di Tembalang, Semarang.

Namanya Doca Vestalia. Ia memilih ilustrator sebagai pekerjaan tetapnya. “Langsung ke studio aku aja, yuk!” ajaknya. Tak Cuma Doca, si Sruntul, kucing hamil milik Doca juga menyambut kami. Ia tak berhenti mengeong.

Studionya berada di lantai paling atas rumahnya. Ruangan serba putih yang sudut-sudutnya dipenuhi karya Doca. Setumpuk gambar yang sudah selesai, kuas dan cat air memenuhi meja.

“Kalau ditanya cita-cita, aku bingung mau jawab apa. Karena saat lagi jalan (perjalanan hidup-red) pasti nemu aja yang aku suka. Makanya ketika ada hal yang di luar ekspetasi terwujud, itu aku seneng dan bersyukur aja,” Doca menyambut pembukaan obrolan kami.

 

Bagaimana kamu bisa jadi illustrator profesional?

Iya memang dari kecil sudah suka menggambar sih. Kalo mulai jadi porfesional itu tahun 2012 saat SMA kelas dua. Ada teman yang menawarkan. Dia bilang kalau ada temennya yang mau dibuatkan lukisan wajah.

Awalnya sih takut, karena belum pernah sama sekali menerima orderan. Tapi aku mau coba. Dulu masih pakai pencil warna watercolor.

Sempat bingung untuk memberi harga. Akhirnya aku diskusi sama ayah. Dia bilang “Kamu gambar aja, untuk biaya terserah teman kamu mau bayar berapa.” Akhirnya aku dibayar Rp 40 ribu untuk dua wajah.

Itu dibayar seikhlasnya, tapi jadi patokan harga pertama kali buat aku. Jadi dari situ aku bisa menentukan start harga. Kemudian, baru lama-lama naik deh dari 50.000, 75.000, 100.000, dan seterusnya. Kalau sekarang aku lebih lihat harga pasar aja sih.

 

Untuk bisa seperti sekarang kamu belajar dari mana? Otodidak, kursus, atau memang sekolah desain?

Awalnya memang otodidak. Suka menggambar dari kecil. Tapi nggak pernah ikut les. Ya karena hobi aja. Bahkan sejak SD aku memang sudah memutuskan untuk memilih jurusan kuliah.

Jadi, ceritanya aku nggak sengaja baca artikel di majalah. Artikel itu bilang kalau DKV (desain komunikasi visual) itu jurusan yang cocok buat orang yang hobinya menggambar kayak aku.

Aku masuk tahun 2013 di Universitas Dian Nuswantoro (Udinus) jurusan DKV, barulah dari situ dapat ilmu yang beneran di sana. Aku juga dapat ilmu banyak yang berhubungan dengan pembuatan komik sewaktu magang di Papillon studio.

Papillion Studio merupakan rumah produksi komik di Semarang dan bergerak dibidang ilustrasi. Didirikan tahun 2002, dan hingga kini telah menerbitkan karya-karya cetak hingga online.

(sumber: www.papillonstudio.org)

 

 

 

Kenapa kamu memilih cat air sebagai media di lukisanmu?

Awal kenal cat air tahun 2014 saat aku ikut lomba karikatur di Udinus. Gambarku menang dan disukai salah satu jurinya, yang pada saat itu dosen Udinus. Waktu itu aku menggambar karikatur Michael Jackson.

Doca merupakan salah satu seniman lukis Semarang yang menekuni digital art hingga cat air. Karyanya sering diunggah ulang oleh akun media sosial ternama.

Aku dapat hadiah alat gambar, ada pensil, pensil warna dan watercolor juga. Lalu aku mulai cari-cari di youtube gimana sih caranya bikin karya dari watercolorEh Keterusan sampe sekarang.

 

Ada teknik apa saja sih untuk melukis pakai watercolor?

Hmm .. aku malah nggak begitu tahu. Biasanya aku coba-coba sendiri. Seperti teknik cukil, itu aku nemu tekniknya sendiri dan nggak tahu namanya apa. Tahunya gara-gara aku pinjam buku dosen waktu itu. “Ooo.. iki jebul nama teknik yang aku pakai waktu itu”.

Aku itu anaknya lebih ke eksperimental sih. Coba-coba aja. Meskipun ada sih belajar dikit ke teknik.

 

Bisa dijelasin nggak bagaimana proses sebuah lukisan dibuat?

Kalau untuk klien biasanya aku diminta untuk jadi kreatif sih. Untuk konsep aku    sering liat karya yang pernah aku buat. Seperti warnanya, temanya. Kalau anniversary ya dibuat romantis. Kalau untuk tema resmi ya aku buat lebih simpel.

Doca VEstalia (dok. pribadi)

 

Pernah kehilangan mood buat melukis?

Pasti pernah. Kalau sudah begitu mau nggak mau harus tak (saya) tinggal. Soalnya (kalau diteruskan) nanti kasian gambarnya. Cuma karena aku kerja ada deadline jadi ya harus bangun mood, bagaimanapun caranya.

 

Caranya?

Mungkin dengan main musik. Aku suka main gitar sambil nyanyi. Atau lihat gambar orang di internet, yang kemudian aku kembangkan pakai imajinasiku sendiri.

 

Siapa yang mengispirasi karya kamu?

Agnes Cecile.

Kenapa?

Saya suka dia. Dia menampilkan gaya abstrak, cuma tetap kelihatan detailnya.

 

Lukisanmu banyak lukisan wajah. Kenapa suka wajah?

Selain karena terbiasa, aku lebih suka karena mood wajah bisa dimainkan. Perasaan senang atau sedih itu bisa keluar kalau di wajah. Suka aja.

 

Dengar-dengar, kamu ini juga seorang ilustrator komik online? Bagaimana itu bisa terjadi?

Sebelum magang di Papillion Studio, aku sama sekali nggak kenal dengan komik. Cara bikinnya bagaimana aku nggak ngerti.

Waktu itu aku magang bareng teman satu kampus, Simon Munez. Dari situ juga aku lihat dia bagus kalo menulis cerita. Nah dari sanalah kepikiran untuk kolab (kolaborasi). Dia yang membuat storyline-nya, aku yang buat ilustrasi komiknya.

 

Ada berapa cerita yang kamu buat?

Ada tiga cerita. Pertama buat komik untuk kontes. Alhamdulillah dapat juara empat, lumayan lah dapat uang. Lalu sekarang aku lagi buat komik untuk kontes yang kedua di CIAYO, semoga menang. Satu lagi judulnya Lemon & Jane ada di Webtoon challenge.

CIAYO Comics dan Webtoon merupakan platform baca komik online. Platform tersebut juga mewadahi kreator komik untuk menampilkan karyanya.

 

Karyamu beragam dan banyak banget ya ternyata. Project apa yang menurut kamu paling seru dan berkesan?

Bikin wedding souvenir. Itu soalnya rekor, karya paling banyak yang aku buat. Jadi aku diberi kesempatan untuk menggambar wajah tamu dan hasilnya dikirim satu-satu.

Di tahun 2014 lalu aku juga pernah bikin illustrasi Demi Lovato dan Lorde untuk jadi tote bag di Adorable Project (salah satu local brand dengan produk baju, tas, sepatu)

 

Apa karya favorit yang pernah kamu buat ?

Meskipun aku suka watercolour, tapi aku lebih puas memakai pensil warna. Soalnya pensil warna bisa menghasilkan gambar yang detail, bisa memunculkan efek 3D. Kalau sudah pakai pensil warna dan berhasil, aku puas banget.

Misalnya karakter Marvel, Blackpanther. Itu aku suka banget. Dan itu juga di repost sama salah satu akun yang sering posting soal supehero.

 

 

Boleh tahu tips yang kamu pakai supaya karyamu dikenal?

Paling aku lebih main di sosial media, 90% lah. Saat posting karyaku, aku aktifkan sponsor dan bikin hastag. Selain itu aku juga suka bikin gambar iseng berlatih sendiri. Lalu aku post di Instagram. Biasanya malah ada yang orang tertarik.

Lalu mungkin, karena aku di instagram nggak cuma menggambar aja, ada juga hobi yang lainnya seperti main musik, make-up dan bodypanting, maka aku tampilkan juga. Mungkin juga bisa merangkul orang lain buat masuk ke wilayahku. Karena ada juga orang yang follow aku karena suka make-up.

 

Apa rencanamu dalam waktu dekat?

Mau maksimalkan water colour. Kalau bisa sampai luar negeri. Pengen meresmikan komik di CIAYO, lalu aku pengen bikin workshop menggambar.

 

Pesan untuk newbie?

Tipe orang pasti ada yang semangat. Tapi ada yang sudah mencoba dan merasa kayaknya nggak ada bakat, lalu akhirnya mundur.

Menurut aku, terusin aja. Pokoknya kamu suka dulu dan memang minat. Jangan sampai bosan. Misalnya ada kesalahan ya besok diperbaiki, sedikit demi sedikit jangan langsung pengennya cepat bisa. Karna aku juga berpropes dari tahun 2014 dulu gambarku ya acak-acak, nggak tahu tekniknya kayak gimana.

 

Penulis: Fitria Eka Mawardie
Editor: Eka Handriana

 

Comments are closed.