Dolar Melambung, Pengrajin Tenun Troso Kesulitan Bahan Baku

Ahmad Fahrudin menunjukan produksi kain Troso di Pameran Batik Tenun di Java Mall. Kain Tenun Troso Japara dijual dengan harga Rp 200 ribu sampai Rp 1juta. Foto: metrosemarang.com/indra prabawa
Ahmad Fahrudin menunjukan produksi kain Troso di Pameran Batik Tenun di Java Mall. Kain Tenun Troso Japara dijual dengan harga Rp 200 ribu sampai Rp 1juta. Foto: metrosemarang.com/indra prabawa

SEMARANG – Melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar membuat pengrajin kain tenun Troso Jepara kelabakan. Mereka terpaksa mengurangi produksi untuk menekan kerugian.

“Kenaikan dolar saat ini mengakibatkan adanya penurunan produksi 40 persen, karena sebagian bahan baku kain Troso masih mengimpor,” kata Ketua Koperasi Asosiasi Tenun Troso Tekstil dan Konveksi Jepara, Ahmad Fahrudin di sela Pameran Batik, Tenun dan Craft di Java Mall, Kamis (3/9).

Menurut dia, selama ini pengrajin masih mengandalkan bahan baku dari Himalaya dan  India. Sebabnya, bahan baku lokal terlalu kaku dan tidak cocok. Dengan kenaikan dolar, dipastikan biaya produksinya juga membengkak.

Ahmad menambahkan, kain tenun Troso mempunyai harga variatif, mulai Rp 200.000 sampai Rp 1 juta. Tingginya harga juga karena disesuaikan dengan proses pembuatanya yang lumayan panjang dari pemintalan, pewarnaan dan penjemuran sampai siap jual.

Dikatakan Ahmad, sekarang ini ada 20 pengrajin yang masih aktif dan bisa memproduksi 20 sampai 200 lembar kain untuk pesanan eceran maupun  partai besar. “Untuk menyiasati ketidakstabilan ekonomi pengrajin mengurangi biaya produksinya agar bisa tetap berkarya dan berjalan lancar usahanya,” pungkasnya. (CR-01)

You might also like

Comments are closed.