Duh, Bocah SD Ini Berjualan Kerak Telor untuk Biaya Sekolah

kerak telor
Adri dengan cekatan mengolah adonan kerak telor di tempat mangkalnya, di belakang Gereja Blenduk. Foto: metrosemarang.com/achmad nurseha

SEMARANG – Seperti biasa, Taman Srigunting Kota Lama selalui ramai pengunjung saat akhir pekan tiba. Begitu juga pada Sabtu (2/5) malam, taman yang juga satu kawasan dengan Gereja Blenduk tersebut dipenuhi pengunjung, mulai dari kanak-kanak, remaja, hingga orang tua.

Bulan tampak bulat dikelilingi ribuan bintang menyinari sudut-sudut kawasan yang menjadi pusat perdagangan barang antik Kota Semarang itu. Di tengah kerumunan pengunjung terlihat bocah laki-laki kecil sibuk mengatur api kompor, di samping kirinya terdapat puluhan telur. Bocah kecil berusia 12 tahun itu bernama Adri.

Bocah kelas VI SD itu adalah satu dari sekian banyak orang yang mencoba mengais rezeki di tengah keramaian Taman Srigunting. Adri adalah penjual kerak telor yang biasa mangkal di kawasan Taman Srigunting, tepatnya di belakang Gereja Blenduk.

Belasan pembeli mengitarinya, untuk mengantre giliran. Dengan cekatan bocah yang mengaku tinggal di sekitar Stasiun Poncol itu meladeni satu persatu pembeli. Tak tampak sedikitpun di raut wajahnya menandakan rasa lelah meski sudah berjam-jam meladeni puluhan pembeli.

Sepintas Adri seperti bocah pendiam, karena berulangkali ditanya para pembeli hanya menganggukkan kepala. Ternyata hal itu dilakukan lantaran ia harus konsentrasi dalam meracik adonan kerak telor. “Biar manisnya pas, gak mengecewakan pembeli,” ucapnya singkat kepada metrosemarang.com sembari menuangkan adonan kerak telor ke wajan.

Adri secara rutin membuka lapak kerak telor di kawasan Taman Srigunting setiap akhir pekan dan hari libur, karena di hari biasa ia harus sekolah. Untuk satu kerak telor dijualnya seharga Rp 10.000.

Profesi ini  dia lakoni sejak setahun terakhir. Kedua orangtuanya juga berjualan kerak telor dan kembang gula di kawasan Simpang Lima. Dengan penghasilan orangtuanya yang tak menentu, Adri pun tergugah untuk ikut mencari nafkah.

Adri mengaku hasil jualan kerak telor juga disisihkan untuk biaya sekolahnya. Jika beruntung, dia bisa menjual hingga ratusan kerak telor. “Mau gak mau harus gini Mas, untuk bantu orangtua. Apalagi sekarang ini semuanya serba mahal,” ucapnya polos.

Pengakuan yang meluncur dari mulut Adri seolah mewakili jeritan rakyat kecil yang makin terjepit dengan melambungnya harga kebutuhan pokok. Adri hanyalah satu dari ribuan anak-anak yang terpaksa berburu rupiah untuk membantu orangtua.

Kota Semarang yang baru merayakan hari jadinya ke-468, belum bisa memberi jaminan kesejahteraan bagi Adri, sehingga dia harus berbagi waktu antara bekerja dan menuntut ilmu. Hari Pendidikan Nasional pun mungkin hanya sekadar seremonial rutin setiap tahun. (ans)

 

 

You might also like

Comments are closed.