Dukung TBRS, Seniman Magelang Gelar Ritual ‘Mati Ati’ di Bundaran Air Mancur

Aning Purwa menggelar performance art sebagai dukungan terhadap TBRS dari ancaman Trans Studio, Selasa (17/3). Foto Metrosemarang/Achmad Nurseha
Aning Purwa menggelar performance art sebagai dukungan terhadap TBRS dari ancaman Trans Studio, Selasa (17/3). Foto Metrosemarang/Achmad Nurseha

SEMARANG – Kepedulian akan TBRS tidak hanya muncul dari seniman-seniman Semarang. Hari ini, Selasa (17/3), seniman asal Kota Magelang, Aning Purwa menggelar performance art bertema ‘Mati Ati untuk #saveTBRS’ di air mancur Jalan Pahlawan, Semarang.

Performance art yang didukung kawan-kawan seniman muda Semarang itu berlangsung selama 1 jam, dimulai sejak pukul 11.00 tadi. Bola merah hati, bergulir, berisi manusia-manusia, warnanya serba merah. Kain biru kuning keluar dari bola itu, menjulur, sampai ujungnya menyentuh air mancur, salah satu ikon di perempatan strategis Semarang.

Sepanjang pertunjukan, Aning Purwa “nembang” (melagukan nyanyian Jawa) tentang tanah dan batu, dengan gerakan “kabur kanginan” menuruti panggilan alam. Tabur bunga menjadi adegan pamungkas performance art siang itu.

Aning Purwa mengatakan, performance art ini merupakan sebuah pertanyaan mendasar kepada semua manusia di Semarang, bukan semata sindiran ataupun hujatan. “Performance-art ini menjadi bukti, adanya sinergi (satu-gerak) antar-seniman dari kota-kota lain dengan seniman Semarang dalam menyikapi konflik pembangunan Trans Studio di kompleks TBRS,” paparnya.

Terkait konflik #SaveTBRS, menurut dia, pembangunan Trans Studio adalah sikap merasa menguasai, jemawa, melupakan sejarah serta memutus kelahiran-kelahiran baru jiwa-jiwa murni yang kreatif di TBRS.

Selain itu, lanjutnya, pembangunan ini bentuk kemunduran yang dianggap sebagai kemajuan. “Kami sudah berkomunikasi dengan seniman-seniman luar Semarang lainnya dan rencana akan menggelar performance art secara berkala,” tegasnya.

Aning Purwa dikenal publik sebagai seniman Borobudur Magelang, penggagas ritual Hanacaraka. Sebelumnya pernah menjadi pekerja seni di TBRS Semarang, kemudian mengembara ke Borobudur Magelang, selama 8 tahun, menekuni dunia musik pertunjukan, lukisan, dan seni rupa pertunjukan (performance-art).

Untuk mempersiapkan ‘ritual’ ini, Aning sudah sejak sepekan terakhir berada di Semarang. Dia juga mendapat dukungan dari para seniman muda Kota Lumpia. (ans)

You might also like

Comments are closed.