Dulu Angkat Senjata Lawan Penjajah, Kini Mbah Min Berjuang Hidup Menjual Senjata Mainan

Pernah Jadi Mata-mata dan Berpura-pura Gila

 

Mbah Min bersama Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo menunjukan mainan senjata hasil buatannya. (metrosemarang/dok.humas)

SEMARANG – Setiap tanggal 10 November diperingati sebagai Hari Pahlawan, untuk mengenang jasa-jasa para pahlawan yang telah gugur untuk mengusir para penjajah dari Indonesia.

Namun, tidak sedikit Pahlawan yang dahulu berjuang untuk kemerdekaan, sekarang ini justru tidak mendapatkan perhatian. Jangankan penghargaan, tercatat sebagai veteran pun tidak. Kini tak sedikit Pahlawan yang harus berjuang untuk bertahan hidup di tengah kerasnya kehidupan.

Salah satunya adalah Mbah Min (88). Seorang pejuang kemerdekaan asal Kota Solo yang kini harus berjuang bertahan hidup dengan berjualan mainan anak-anak buatannya sendiri.

Kakek bernama lengkap Ngadimin Citro Wiyono atau lebih dikenal sebagai Ngadimin Semprong itu Senin (9/11) datang dari Solo menemui Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo di rumah dinasnya di Semarang.

“Merdeka!” . Pekikan semangat itu langsung terucap dari mulut Mbah Min saat bertemu Ganjar.

Yah, Mbah Min dulunya adalah seorang pejuang. Di usianya yang sudah menginjak 88 tahun itu, dirinya masih lancar menceritakan bagaimana kisah heroiknya tempo dulu. Kepada Ganjar, Mbah Min mengatakan bahwa ia ikut berjuang melawan penjajahan Belanda di Solo. Saat itu, usianya masih sangat muda, yakni sekitar 15 tahun. Kematian sang ayah di tangan Belanda dan juga masyarakat Solo waktu itu, menjadi pelecut semangatnya untuk berjuang.

“Tahun 1948-1950 ada agresi militer Belanda kedua di Solo. Saat itu berpusat di Lapangan Terbang Panasan yang sekarang jadi Adi Soemarmo Solo. Dulu, selama tiga tahun lokasi itu menjadi area perang, banyak warga yang jadi korban, termasuk ayah saya,” kata Mbah Min mengawali ceritanya.

Mbah Min ingat betul saat ayahnya ditembak mati oleh Belanda karena dianggap sebagai pejuang. Saat itu, ia berada di dekat sang ayah, sehingga melihat dengan mata kepala sendiri bagaimana kekejaman itu menimpa ayahnya dan warga desa lainnya.

“Saya marah, Belanda biadab. Setelah itu saya memutuskan untuk ikut berjuang. Saya rela mati demi nusa dan bangsa,” terang kakek 9 cucu ini.

Awal perjuangan Mbah Min adalah saat membantu para prajurit TNI yang ingin menyergap gudang senjata Belanda. Ia yang melihat senjata prajurit ditinggal di kebun, sengaja menyembunyikannya dengan cara ditutup daun kering. Tujuannya agar tidak ketahuan oleh Belanda.

“Saat itu Komandan pasukan terkejut, kok bisa senjatanya diamankan. Setelah tahu saya yang melakukan, terus saya diminta gabung berjuang dan mendapat tugas baru. Saat itu, saya ditugasi menjadi pengintai Belanda,” ucapnya.

Tugas sebagai pengintai Belanda bukanlah perkara gampang. Namun, itu semua bisa dilakukan Mbah Min. Karena masih anak-anak, Belanda tidak curiga bahwa dirinya adalah pentingai.

“Saya juga dipesani Komandan untuk berpura-pura jadi anak tidak normal. Jadi saat itu, saya menjadi pengintai untuk pasukan Indonesia,” tegasnya.

Ngudoroso Nasib

Namun kedatangan Mbah Min yang diantar pegiat sosial Solo, Agus Widanarko, itu tak cuma ingin ndongeng. Ia menemui Ganjar karena ingin mengadukan nasibnya yang hingga kini belum tercatat sebagai pejuang di Legiun Veteran Republik Indonesia (LVRI). Oleh sebab itu Mbah Min tak memperoleh haknya sebagai veteran. Untuk memenuhi kebutuhan harian, ia berdagang mainan anak-anak yang dibuatnya sendiri.

“Saya memang tidak ngurus itu, karena sekarang itu harus ada hitam diatas putih. Semua harus ada tanda bukti, sementara saya tidak punya. Dulu, saya itu hanya berani saja, tidak mikir besok begini,” jelasnya pada Ganjar.

Ganjar yang mendengarkan curhatan itu, langsung menelpon Dinas Sosial Pemprov Jateng yang mengurusi para veteran. Ganjar meminta agar Mbah Min dibantu dalam memperoleh hak sebagai seorang veteran.

“Nanti biar dibantu ya mbah, biar diurus semuanya,” kata Ganjar.

Tak selang berapa lama, petugas dari Dinas Sosial Pemprov Jateng langsung datang ke rumah dinas Ganjar. Tujuannya untuk bertemu Mbah Min dan membantu memperoleh haknya sebagai veteran.

“Ini ya mbah, biar dibantu. Nanti dijemput dan diproses semuanya. Saya doakan njenengan sehat,” pungkas Ganjar.

Mbah Min sangat bersyukur sekali bisa bertemu Ganjar. Apalagi, Ganjar mau membantunya memperoleh hak sebagai seorang veteran.

“Saya berterimakasih sekali, kebijaksanaan pak Ganjar sangat berarti buat saya. Semoga, perjuangan saya tidak sia-sia,” pungkas Mbah Min.

You might also like

Comments are closed.