Dwi Indriyani: Kikis Stigma Negatif SPG

Dwi Indriyani Foto Metrosemarang/Achmad Nurseha
Dwi Indriyani
Foto Metrosemarang/Achmad Nurseha

PROFESI sebagai sales promotion girl (SPG) kerap mengundang komentar miring dari masyarakat.. Mungkin karena harus ber-make up tebal, blush on tebal, dan lipstick yang menor. Namun tidak bagi Dwi Indriyani, salah satu SPG perusahan terkenal di Semarang.

Baginya, SPG bukanlah pekerjaan yang hanya mengandalkan penampilan, namun harus pandai berkomunikasi dan disiplin. “Saya menjadi SPG sudah dua tahun, dan lebih banyak positifnya daripada negatifnya,” katanya kepada metrosemarang.com, Senin (29/12).

Seperti di perusahaan tempat dia bekerja, yang sangat menekankan pada kedisiplinan. Mulai dari SPG dilarang duduk, dilarang mampir di kios lain, dan dilarang ngerumpi sesama SPG saat kerja.

Pertama kali kerja, gadis asli Semarang itu mengaku sempat sakit seminggu gara-gara disuruh berdiri selama jam kerja. “Kaget harus berdiri delapan jam, kalau lembur sampai 12 jam,” tambahnya.

Selain itu, adu mulut dengan customer sering Indri alami. Pernah, karena ia dikatakan cewek nakal dan sikap customer yang seenaknya ngobrak-ngabrik produk yang sudah ditata rapi. “Pintar-pintarnya kita membawa diri saja,” beber cewek berambut panjang ini.

Belajar dari pengalaman itu, Indri yang kini genap berusia 20 tahun pada 10 Desember 2014 lalu, ingin lebih berhati-hati dan disiplin menjalani profesi yang kini dijalani. Ia ingin membantu orang tuanya dan mencari bekal menikah saat berumur 24 kelak. (ans)

 

 

You might also like

Comments are closed.