Eksekusi Berlangsung Tegang, Pemkot Dituding Telantarkan Pedagang Kanjengan

METROSEMARANG.COM – Eksekusi pembongkaran Pasar Kanjengan blok C dan D berlangsung tegang, Rabu (23/8). Ratusan pedagang berusaha untuk menghadang aparat gabungan yang akan melaksanakan tugas. Mereka dengan tegas menyatakan menolak pembongkaran tersebut.

Eksekusi Pasar Kanjengan Blok C Dan D, Rabu (23/8). Foto: metrosemarang.com/masrukhin abduh

Namun mereka tidak dapat berbuat banyak, karena kalah jumlah dengan personel gabungan yang berasal dari Satpol PP, Kepolisian, TNI, Dinas Perdagangan, Bagian Hukum, dan sejumlah kelompok Organisasi Masyarakat (Ormas). Eksekusi pembongkaran tetap berjalan dan pedagang hanya pasrah mengangkuti barang-barangnya dari dalam toko.

Ketua Paguyuban Pedagangan Kanjengan blok C, Sri Suhartiningsih kecewa dengan Pemerintah Kota Semarang yang melalui Pengadilan Negeri yang mengeksekusi bangunan pasar. Pedagang menilai pemkot tega menelantarkan pedagang, karena mengeksekusi tapi tidak menyediakan tempat relokasi.

Dalam proses eksekusi, pedagang juga merasa tidak diberi kesempatan membela diri, bahkan pengacara mereka diamankan dan dianggap provokator. ‘’Pengacara tidak dikasih ngomong, diseret-seret. Saya juga dicap provokator, saya tidak terima,’’ katanya.

Dia mengatakan, ada 800 pedagang Kanjengan dan 100 toko, semuanya menolak pembongkaran. Dirinya menilai pemkot tidak bertanggung jawab karena menelantarkan ratusan pedagang. ‘’Wali kota juga sudah janji ketemu dengan pedagang, malah ditinggal pergi. Kami geram,’’ ujar pedagang mas blok C 4 ini.

Karena tak diberi tempat relokasi, pedagang mengaku tidak tahu nasibnya sekarang mau bagaimana. Tidak punya lagi tempat untuk berjualan. Sementara barang dagangan di toko sudah dipindahkan semua di tempat aman.

‘’Setuju dieksekusi, silakan, tapi ratusan pedagang ini harus disediakan tempat. Kami punya anak-anak yang harus diberi makan,’’ tegasnya.

Sementara itu, Kepala Dinas Perdagangan Kota Semarang, Fajar Purwoto mengatakan, klaim pedagang belum disediakan tempat relokasi tersebut biasa. Sebab semua sebenarnya sudah disiapkan relokasi di komplek Masjid Agung Jawa Tengah (MAJT). Hanya ada satu dua orang saja yang provokator karena tidak puas.

‘’Kita siapkan di komplek MAJT blok F, kalau tidak mau dan maunya ke Pasar Banjardowo, Dargo, Meteseh silahkan, tapi kepentingan pemkot mbangun Johar baru sampai Kanjengan jangan dihalang-halangi,’’ katanya.

Ditegaskan, pihaknya dengan Pengadilan Negeri Semarang dan aparat keamanan berkomitmen pembangunan kawasan Johar baru termasuk Kanjengan harus selesai tahun 2020. Pedagang kemudian akan dipersilakan masuk lagi menempati pasar baru. Pasar Kanjengan rencana akan dibangun menjadi empat lantai.

‘’Blok C dan D itu hak pemkot, segera akan kami bangun jadi satu kawasan Pasar Johar baru. Kalau blok A, B, E dan F kami akui masih proses hukum, kami memang tidak akan eksekusi. Dan tidak semua menolak, pedagang blok C dari 36 sudah ada 25 yang pindah ke MAJT dan blok D dari 34 ada 8,’’ ungkapnya.

Diakui, memang saat proses eksekusi ada pedagang yang ingin menyampaikan komplain. Namun, katanya, pedagang tersebut bukan dari blok C dan D, sedangkan yang dieksekusi kali ini adalah dua blok tersebut.

‘’Karena blok C lebih banyak (pedagang yang mau pindah), maka kami prioritaskan dulu ke MAJT. Sedangkan pedagang pancaan, yang jumlahnya sekitar 800an, kami sudah berikan sosialisasi. Silakan bertempat di MAJT, tapi kalau mau bertahan di Kanjengan berarti tidak akan masuk data base dan pasca pembangunan mereka tidak akan mendapat tempat di Pasar Johar baru,’’ katanya.

“Untuk Pasar Johar baru ini anggarannya sekitar Rp 580 miliar yang bertanggung jawab Dinas Perdagangan dan Dinas Tata Ruang. Kami bertugas menata pedagang, kalau ditata pedagang tidak mau tidak ada masalah,” tandasnya. (duh)

You might also like

Comments are closed.