Eksekutor Pembunuhan Driver Taksi Online Divonis 10 Tahun Penjara

METROSEMARANG.COM – IBR (16) eksekutor pembunuhan Deni Setiawan, seorang sopir taksi online dijatuhi hukuman 10 tahun penjara. Sedangkan rekannya, DIR (15) divonis setahun lebih ringan atau 9 tahun penjara.

IBR, eksekutor pembunuhan driver taksi online divonis 10 tahun penjara. Foto: metrosemarang.com/efendi

Vonis tersebut sesuai dengan tuntutan Jaksa Penuntut Umum (JPU) dan dibacakan oleh Hakim Tunggal, Sigit Harianto dalam sidang yang dilaksanakan di Pengadilan Negeri Semarang, Selasa (27/2).

Hakim menyatakan terdakwa terbukti melanggar Pasal 339 KUHP tentang pembunuhan. “Pembunuhan tersebut dilakukan oleh terdakwa dengan sengaja dan sudah direncanakan,” ujar Sigit dalam sidang.

Sigit juga mengatakan, tindak pidana tersebut bermula dari IBR yang merencanakan perampasan untuk mencari pengganti uang sekolah sebesar Rp 510 ribu. Saat itu, IBR mengajak satu temannya, DIR.

Perencanaan yang mereka lakukan antara lain, IBR menyiapkan sebilah belati sepanjang 40 centimeter yang digunakan untuk mengeksekusi Deni. Keduanya memilih pengemudi taksi online sebagai sasarannya lantaran mudah didapat.

Dalam pelaksanaanya IBR duduk di belakang kursi kemudi. Sesampai di lokasi kejadian, IBR membayarkan uang senilai Rp 22 ribu yang ternyata masih kurang. Kemudian ia mengajak sang sopir menuju ke rumah saudaranya yang berada tak jauh dari lokasi dibunuhnya Deni.

“Terdakwa sengaja membayarkan uang Rp 22 ribu padahal dalam aplikasi di awal mereka memesan sudah tertera harganya lebih dari itu,” kata Sigit.

Deni dibunuh di Jalan Cendana Selatan IV, Tembalang, Semarang pada Sabtu (20/1) lalu. IBR mengeksekusi Deny dengan menggesekkan belati tepat di leher koban dengan kedua tangannya. Sedangkan kakinya menekan kursi kemudi dari belakang.

Sementara, peran DIR ialah untuk mengalihkan perhatian Deni dengan cara duduk di samping kursi kemudi dan mengajak ngobrol. IDR ikut terlibat dalam tindak pembunuhan tersebut setelah diajak IBR dengan alasan mencari pengganti uang sekolah senilai Rp 510 ribu.

Rencanatersebut sebenarnya sudah tecetus sejak pertengahan Desember 2017 lalu dan dilakukan pada Sabtu (20/1) lalu. “Pada 31 Januari 2018 lalu, terdakwa sudah menjalani pemeriksaan psikologi dan tidak terindikasi adanya gangguan jiwa, dan dalam keadaan sadar. Dengan begitu mereka memenuhi unsur kesengajaan,” kata Sigit.

Atas vonis tersebut, terdakwa maupun jaksa penuntut umum menyatakan pikir-pikir dan meminta waktu satu minggu untuk memutuskan. Selanjutnya, kedua terpidana akan ditahan di Lembaga Pemasyarakatan Anak, Kutoarjo. (fen)

You might also like

Comments are closed.