Ekspresi Tanpa Kendali di Majelis Improvisasi

PERPADUAN berbagai alat musik membentuk suara tak beraturan, Sabtu sore, 30 Juni 2018. Pelataran belakang Grobak Hysteria Art Kos, sebuah laboratorium komunitas di Jalan Stonen Nomor 29, Semarang dipenuhi para musisi dan penikmat musik. Lima pemusik saling mengisi celah-celah kekosongan suara dengan alat musik yang mereka mainkan. Mereka berasal dari genre berbeda, dari daerah berbeda.

Majelis Improvisasi menjadi tajuk dari wadah yang menjadi ruang ekspresi para pemusik lintas genre itu. Ini adalah ruang yang kali pertama dibuka di Semarang. Liar tanpa kendali, namun terwadahi. Pemusik yang terlibat merasakan sensasi tersendiri.

“Ini acara jamming improvisasi. Cara bermainnya bebas. Komunikasi sesuai keinginan para personelnya. Siapa saja yang mau boleh bergaul disini, bermain di sini,” kata Andi Pratomo salah satu penggagas Majelis Improvisasi. Kawan-kawannya di tempat itu menyapanya dengan panggilan Kartun.

Lima musisi sore itu memainkan lima alat musik yang berbeda. Mereka berkomunikasi menggunakan suara-suara dari alat musik tersebut. Adi Laksito memainkan bass. Ia adalah bassis band death metal Diminish Preception. Albertus Arga menggerak-gerakkan gergaji yang menimbulkan suara gesekan. Albertus memang pemusik eksperimental dari grup Samber Nyawa.

Yang juga berasal dari grup musik eksperimental Samber Nyawa adalah Gerry Pindonta. Ia berkomunikasi dengan tarikan suara bersama Debby Selviana, satu-satunya perempuan musisi yang manggung sore itu. Percakapan musikal mereka syahdu beriring tiupan saksofon Nanda Goeltom dari grup musik jazz Semarang, Absurdnation.

“Ada dari mereka yang tak saling kenal. Mereka menyatu dengan suara yang keluar dari alat musik yang mereka mainkan. Majelis Improvisasi memberikan kebebasan kepada mereka. Mereka memainkan alat musik yang dipegang sesuai dengan kemauan,” ungkap Kartun.

Menurut Kartun, permainan para musisi itu tanpa arahan, tanpa aturan, dan tanpa kendali. Tak ada alur musik yang direncanakan. Hanya suara tak beraturan yang melantun di sepanjang sesi.

Meski tak beraturan, permainan musim eksperimental dengan sistem improvisasi seperti itu tetap bisa membentuk sebuah komunikasi di atas panggung. Setidaknya itu menurut pengalaman Nanda Goeltom. Baginya, mengikuti permainan tanpa kendali itu bisa melatih emosi.

“Ada saatnya semua pemain memainkan alat musiknya semua secara bersamaan. Tapi tidak selalu seperti itu. Karena kalau kayak gitu kita hanya bertarung emosi saja. Esensinya adalah, antar pemain saling mendengarkan permainan. Nah disitulah ada komunikasi untuk saling mengisi kekosongan (jeda),” kata Nanda.

Ada hal yang tidak boleh hilang dalam permainan musik tak beraturan ini. Tak lain adalah kemampuan bermusik yang dimiliki masing-masing musisi.

Sebetulnya, Majelis Improvisasi tak melulu soal musik. Para penggagasnya membuka pintu bagi pelaku seni lintas disiplin untuk berekspresi di ruang itu, dua kali sebulan. Dengan sistem kurasi tentu saja, agar pengetahuan sesama pelaku seni bertambah.

“Yang mau menari, mau performing art silakan. Terpenting tetap bisa improvisasi sesuai kemauan seniman. Kami berharap dapat membangun interaksi antar sesama pemain musik maupun antara pemain dengan penonton,” kata Kartun. (Efendi)

You might also like

Comments are closed.