Entaskan Kemiskinan dengan Kube PKH, Berdayakan Ibu Rumah Tangga

SEKELOMPOK ibu-ibu terlihat sibuk membersihkan ikan bandeng. Satu-persatu isi perut dan sisiknya dibersihkan sebelum dicuci dan diolah menjadi ikan bandeng presto atau bandeng duri lunak.

Produk bandeng duri lunak hasil olahan Kube Kauman Jaya Desa Lebak Jepara. Foto: metrosemarang.com/khoiruddin muhammad

Kegiatan tersebut merupakan proses produksi yang dilakukan Kelompok Usaha Bersama (Kube) Kauman Jaya Program Keluarga Harapan (PKH) di Desa Lebak, Kecamatan Pakis Aji, Kabupaten Jepara. Anggota Kubr merupakan Keluarga Penerima Manfaat (KPM) peserta penerima bantuan sosial dari Kementerian Sosial Republik Indonesia (Kemensos RI).

Ketua kelompok Zuliati dibantu sembilan rekannya sesama ibu rumah tangga sudah membagi tugasnya masing-masing. Sebagian membersihkan ikan, sebagian menyiapkan bumbu, sebagian lagi menyiapkan kemasan yang akan dipakai untuk membungkus ikan presto ketika sudah matang. Setelah bahan sudah siap, ikan bandeng pun dimasukkan ke panci presto yang sudah dilapisi daun pisang agar ikan tidak saling menempel.

“Cara masaknya, menggunakan panci presto, airnya sedikit saja. Nanti tunggu satu setengah jam, baru diangkat,” kata Zuliati kepada metrosemarang.com di sela-sela pembuatan bandeng presto kemarin.

Setelah matang, ikan tidak langsung disajikan, tapi digoreng terlebih dahulu dengan dibalut telur. Usai digoreng, bandeng presto siap dikemas dan dikonsumsi. Setelah semua proses produksi selesai, ikan bandeng pun siap dipasarkan ke pelanggan dan dititipkan di warung makan yang sudah bekerjasama.

“Digoreng dulu biar rasanya lebih gurih, satu bungkus isi dua, dikasih saos saset bagi yang suka pedas,” katanya seraya menambahkan setiap bungkus ikan presto dibanderol Rp 7.000.

Peran Pendamping

Koordinator Pendamping Sosial PKH Kecamatan Pakis Aji, Kiki Ari Cahyo Prayitno mengatakan, terbentuknya Kube tak lepas dari peran pendamping yang mendampingi KPM. Ia menjelaskan, setiap pendamping mendampingi 200-250 keluarga yang kemudian dibagi menjadi kelompok yang beranggotakan sekitar 20 orang setiap kelompok.

Setiap bulan, lanjut Kiki, diadakan Pertemuan Peningkatan Kapasitas Keluarga (P2K2) minimal satu kali. Dalam pertemuan itu pendamping memberikan materi tentang pengetahuan keluarga seperti tentang pengasuhan dan pendidikan anak, kesehatan, dan ekonomi.

Proses produksi bandeng duri lunak dengan memberdayakan ibu rumah tangga anggota Kube Kauman Jaya Desa Lebak Jepara. Foto: metrosemarang.com/khoiruddin muhammad

“Kube ini bisa dikatakan hasil dari materi tentang ekonomi yakni memulai usaha. Kita berdayakan ibu-ibu rumah tangga yang kita dampingi agar nanti kalau sudah tidak menerima bantuan dari pemerintah mereka sudah bisa mandiri dengan usaha kelompok,” terangnya.

Ia mengaku sudah merintis beberapa kelompok usaha yakni Kube Mamba’ul Rizki yang bergerak di bidang peternakan kambing di Desa Mambak, Rizki Pakistan dengan produk keripik pisang di Desa Suwawal Timur, dan Kube Kauman Jaya yang memproduksi ikan bandeng presto di Desa Lebak.

“Kita manfaatkan potensi di masing-kelompok, ada yang mau ternak kambing, aneka makanan ringan dan lainnya. Yang penting bahan pokok pembuatan produk gampang dicari,” beber Kiki yang mengaku pernah mendapat bantuan modal usaha untuk ternak kambing sebesar Rp 20 juta dari pemerintah.

Tak hanya Kiki, Koordinator Pendamping Sosial PKH Kecamatan Mayong Ariyanto juga berupaya memberdayakan ibu rumah tangga yang ia dampingi untuk berwirausaha dengan membentuk kelompok usaha. Ari, sapaan akrabnya, juga mengaku memanfaatkan potensi yang dimiliki warga dampingannya.

“Tujuan PKH merupakan latar belakang pembentukan Kube. Untuk mengentaskan kemiskinan, maka salah satu caranya ialah memberdayakan masyarakat miskin sehingga nantinya mereka bisa mandiri dan mentas dari kemiskinan,” tegas Ari.

Pemberdayaan masyarakat ini, kata dia, disesuaikan dengan kompetensi dan potensi daerah. Apa yang bisa ibu-ibu PKH lakukan untuk membantu ekonomi keluarga dan apa yang alam sediakan untuk mereka. Salah satu Kube yang ia rintis adalah kelompok usaha konveksi yang melayani pembuatan aneka baju, kerudung, seragam dan produk konveksi lainnya.

“Laba dari masing-masing anggota yang menjual dicatat dalam buku tabungan. Hingga tak terasa setelah satu tahun dan dibuka bisa membuat suami mereka menjadi bangga sekaligus terenyuh,” katanya.

Namun, merintis usaha tersebut tak semudah membalikkan telapak tangan. Kiki maupun Ari mengaku mengalami kendala dalam membina Kube, baik terkait modal, pemasaran atau sumber bahan baku yang terkadang stok di pasaran sedang berkurang.

“Perlu adanya dukungan pemerintah, bukan hanya finansial. Tapi melakukan pameran hasil Kube supaya produk-produk ini bisa bersaing,” tambahnya.

PKH merupakan program bantuan sosial tunai bersyarat yang diberikan kepada KPM yang mempunyai tiga komponen yakni pendidikan yang meliputi anak SD, SMP, dan SMA, komponen kesehatan meliputi ibu hamil, nifas, balita, dan anak pra sekolah.

Terakhir adalah komponen kesejahteraan sosial yang meliputi disabilitas berat dan lanjut usia minimal berumur 70+1 hari yang masih punya tanggungan keluarga. Maka, keluarga yang tidak memiliki salah satu dari tiga komponen tersebut tidak mendapatkan bantuan sosial dari Kemensos.

PKH di Indonesia dimulai sejak tahun 2007 pada era kepemimpinan SBY. Sedangkan di kota Jepara, program ini mulai masuk sejak tahun 2014. Sampai sekarang, jumlah KPM di Kabupaten Jepara sekitar 23 ribu. Jumlah tersebut masih bisa bertambah sesuai dengan kebijakan dari pemerintah pusat.

Setiap KPM mendapat bantuan sebesar Rp 1.890.000-2.000.000 dalam setahun yang dicairkan setiap tiga bulan sekali.(khoiruddin muhammad)

You might also like

Comments are closed.