Fadhlun: Kenangan Indah di Tidore

Fadhlun Foto: metrosemarang.com/achmad nurseha
Fadhlun
Foto: metrosemarang.com/achmad nurseha

PULAU Tidore tak hanya menawarkan keindahan dan orisinilitas alam yang dimiliki. Banyak hal unik sekaligus menggetarkan yang bisa ditemui di pulau yang berada di Maluku Utara itu.

Inilah yang dialami Fadhlun saat dia berkesempatan singgah di pulau yang juga dikenal dengan nama ‘Limau Duko’ atau ‘Kie Duko’ tersebut pada April sampai Juli tahun kemarin. Pulau yang dianggapnya serba alami itu bisa membuatnya tentram dan jauh dari hiruk pikuk kota.

“Indonesia bagian timur itu indah kedengarannya, sejuk, banyak pantai yang masih bersih. Kekaguman itu membuatku punya impian untuk bisa berkunjung ke sana dan akhirnya bisa tercapai,” ungkapnya saat berbincang dengan metrosemarang.com, Kamis (21/5).

Impian itu terwujud setelah ia lolos seleksi Kuliah Kerja Nyata (KKN) Mandiri Sosialisai Ekspedisi NKRI pada awal 2014. Tepatnya di Desa Loleo, dara kelahiran Indramayu ini diwajibkan mengabdikan diri pada masyarakat, melakukan penelitian, dan belajar kehidupan baru bersama 14 rekannya dari UIN Walisongo, AKI Kendal, USM, dan para pakar peneliti LIPI.

Selama ekspedisi, Fadhluni menjadi pendidik di tingkat SD, SMP, dan SMA. Pembelajaran yang ia berikan beragam, yakni Bahasa Inggris untuk tingkat SD, keahlian untuk SMP, dan SMA lebih ke wawasan kebangsaan dan perfilman.

“Tugasnya memang dibagi. Ada yang ngajar, penelitian, dan pelatihan ketahanan oleh TNI, AD, AU, AL, dan Polri yang juga ikut dalam ekspedisi itu,” tutur gadis 23 tahun ini.

Ketika akhirnya Fadhlun tiba di pulau yang sudah sejak kecil dia impikan tersebut, seketika dirinya takjub dengan pemandangan yang terhampar di depannya. Pulau yang dikenal memiliki makanan pokok sagu itu memang tak jauh beda seperti dibenaknya selama ini. Lingkungan yang masih asri serta masyarakat yang sangat ramah tamah.

Namun ia menyesalkan, minimnya  tenaga pengajar lulusan sarjana membuat pendidikan di sana jauh dari kata baik. Serta ia prihatin terhadap kesehatan masyarakat sekitar yang masih sering terserang penyakit malaria dan muntaber. “Masih banyak yang masak pakai tungku, asapnya berbahaya bagi anak-anak. Air pam di sana juga kurang bagus,” tukasnya.

Kendati demikian, penghobi travelling ini mengaku Pulau Tidore memberikannya banyak ilmu dan pengalaman. Waktu yang diberikan empat bulan serasa tidak cukup baginya untuk mengabdikan diri di kepulauan yang ramah itu. “Pengalaman itu pasti akan terus terkenang. Semoga apa yang saya berikan bisa bermanfaat,” tandasnya.

Fadhlun yang kini sudah semester X masih ingin meneruskan ekspedisinya di kepulauan lain di Indonesia. Bahkan tahun ini, penyuka bakso itu sudah lolos mengikuti seleksi Ekspedisi Indonesia Raya 2015. Rencananya, mulai 25 Mei ini sampai Juli akhir nanti, ekspedisi akan dilakukan dengan menyusuri laut dari Semarang, Karimun Jawa, Kalimantan, Kalimantan Tengah, hingga Kalimantan Barat.

“Pinginnya selain keliling di pulau-pulau Indonesia, juga bisa sampai ke luar negeri. Pasti sangat menyenangkan. Kuliahnya nanti dulu, tapi tetap semester depan harus lulus,” imbuh aktivis blogger ini menegaskan. (ans)

 

 

 

 

 

 

 

You might also like

Comments are closed.