Faktor-faktor Kegagalan Facebook sebagai Media Pendidikan

 

Faktor-faktor Kegagalan Facebook sebagai Media Pendidikan

Facebook sangat peduli pada isu pendidikan. Ada banyak sumber daya di Facebook yang menjelaskan pemakaian Facebook untuk pendidikan. Ini dia, faktor-faktor yang membuat Facebook gagal untuk pendidikan di Indonesia.

Betapa menyenangkan jejaring sosial ini. Orang bisa menulis teks status sampai 64.000 karakter (melampaui Google+ dan Twitter),share link/video dengan preview, upload file ke group, upload video buatan sendiri, dan menuliskan catatan, langsung ke Facebook. Semua itu bisa di-embed. Fasilitas paling menyenangkan, tentu saja upload foto, bisa menandai sampai 100+ orang per foto, membuat album, dan semua itu bisa di-embed ke dalam website/blog. Embed, berarti memuat content sebagaimana aslinya.
Persoalannya, mengapa peran Facebook di pendidikan belum optimal?
Facebook mengenal penundaan tanpa batas. Perilaku paling umum: login, masuk Beranda, melihat notifikasi, membalas komentar (dan membaca komentar), membuka inbox (atau chat yang belum terjawab), lalu membuka halaman profile sendiri. Kembali ke beranda. Ulangi sampai tak-terbatas. Tidak selalu menuliskan status.
Sebelum seseorang menuliskan status, biasanya menunda-diri (self-delay) dengan melakukan aktivitas tersebut. Arsitektur Facebook dirancang untuk mudah menunda. Satu halaman Facebook memuat lengkap apa saja yang dibutuhkan orang.
Faktor “satu halaman memuat semua” membuat Facebook tidak bisa disaingi Google+ (jejaring sosial kepunyaan Google). Facebook pintar mengadopsi. Ketika Google+ menawarkan konsep “lingkaran pertemanan”, Facebook memberikan fitur “daftar teman” yang bisa mengklasifikasi teman. Ketika Google+ memberi space lebih untuk menuliskan “post” (postingan), Facebook menambah keleluasaan orang menulis status sampai 64 ribu karakter, setara dengan 24 artikel. Konsep #hashtag dan @mention diadopsi pula dari Twitter, bukan asli milik Facebook, meskipun orang jarang menggunakan kekuatan ini. Facebook sekarang punya fitur “Save” untuk menyimpan status yang Anda sukai di Beranda, semacam Bookmark yang pernah dikenalkan Digg. Facebook menang, sekali lagi, karena arsitektur aplikasi yang bisa menampilkan semua yang dibutuhkan menjadi 1 halaman dan mengadopsi fitur terbaik milik jejaring lain, menuju “penundaan tanpa batas”.
Banyak instansi dan lembaga yang memperlakukan pelarangan pemakaian Facebook pada saat jam kerja. Facebook menjadi lawan dari efisiensi dan konsentrasi bekerja atau bersekolah.
Setelah fitur mobile dipegang semua orang, pelarangan menggunakan Facebook bisa diatasi dengan mudah. Berjuta-juta smartphone, tentu dengan fitur “bisa buat Facebookan” membanjiri pasar.
Bagaimana peraturan yang diterapkan perguruan tinggi terhadap pemakaian Facebook? Tidak mungkin menjadikan Facebook sebagai piranti dan media pendidikan jika sudah berlaku pelarangan memakai Facebook.
Bagaimana perspektif (cara pandang) para ahli terhadap Facebook? Facebook mengalami perkembangan signifikan, memperbaiki-diri dengan fitur-fitur yang melampaui jejaring-sosial lain.
Faktor lain yang menentukan pemakaian Facebook adalah perangkat yang dipakai untuk membuka Facebook. Seperti kita ketahui bersama, fitur dan tampilan Facebook di desktop dan versi mobile, jelas berbeda. Versi desktop lebih leluasa dan lengkap, sebaliknya fitur mobile menyederhanakan tampilan dan kemampuan.
Kecepatan dan biaya koneksi juga menjadi faktor penting. Kecepatan koneksi (upload/download) berpengaruh pada kemampuan kreatif. Kalau smartphone bisa untuk Facebookan, belum tentu bisa untuk browsing. Provider seluler punya kebijakan lain, mereka mengeluarkan paket jejaring sosial untuk Blackberry, misalnya, namun tidak bisa dipakai browsing, akhirnya link eksternal yang ada di Facebook tidak bisa dibuka, harus menunggu koneksi kabel atau hotspot. Orang masih baru dengan fasilitas “Save” dari Facebook.
Saya ingat, bagaimana dulu mIRC mengasyikkan untuk belajar hacking. Orang meregister nickname yang mereka pakai. Semacam sign-up, mendaftar, itupun tidak harus. mIRC punya fungsi simple: chat dan group. Begitu membuka mIRC, orang bisa chat atau nongkrong di group. Tidak ada istilah keanggotaan di group, adanya aktif atau tidak aktif. Ada pengurus dengan level akses tertentu, selainnya adalah pengunjung group. Pengurus menjaga keamanan group dengan ketat, mengatur agar tidak ada yang pasang link spam, memfilter kata, dll. Mereka bisa chat di dinding group. Facebook sempat punya fasilitas chat bersama tetapi dalam kotakan. Member lain tidak melihat chat ini kalau fitur chatnya dimatikan dan tidak tersimpan. mIRC punya konsep “percakapan dinding”. Begitu orang datang, membaca “topik hari ini”, mereka ikut nimbrung dan berbicara di dinding. Orang bisa melihat notifikasi langsung pada dinding, dibedakan warna font-nya. Group Facebook tidak seperti itu.
Saya masih sulit melihat perbedaan signifikan antara: Beranda, Halaman, dan Group. Sama-sama orang menuliskan status, berkomentar, dan membaca arsip.
Bayangkan jika konsep “percakapan dinding” di mIRC bisa diadopsi Facebook. Tidak perlu mengandalkan jumlah anggota, yang penting sebuah group punya sesuatu yang dibahas hari ini. Popularitas group ditentukan berapa orang yang aktif “saat ini”. Facebook tidak akan bisa, sebab mengurus keamanan mIRC berbeda dengan mengurus keamanan Facebook. Orang-orang mIRC punya kebiasaan nge-flood, nge-junk, dan sindrom superman seorang admin. Percakapan dinding punya konsekuensi tersendiri yang tidak akan disukai Facebook.
Facebook bertumpu pada supremasi kepribadian (profile). Kalau mau dipakai untuk berkelompok, masih sulit dijadikan sebagai media pendidikan selagi arsitektur aplikasinya masih sama antara halaman, beranda, dan halaman.

Day Milovich,,
Webmaster, artworker, penulis, tinggal di Semarang dan Borobudur.

You might also like

Comments are closed.