Panitia Festival Kota Lama Semarang Catut Nama Komunitas

image

SEMARANG – Panitia Festival Kota Lama Semarang (FKL) atau Pasar Sentiling 2014 dipersoalkan sejumlah komunitas pegiat Kota Lama. Persoalan berawal karena mereka merasa panitia bertindak tidak etis dengan mencatut nama dan logo komunitas.

Terkait hal itu, mereka mengumumkan pernyataan sikap dalam jumpa pers Sabtu (13/9) di The Heritage Coffee, Jalan Pleburan Tengah, Semarang. Pernyataan sikap dibuat oleh sejumlah komunitas. Yakni OASE (Oudestad’ Art & Culture Semarang), SIP (Semarang Independent Photographer), KOKAS (Komunitas Kamera Apa Saja), dan komunitas seniman musik Kerontjong Karimoeni. Sejumlah anggota Komunitas Pegiat Sejarah (KPS) dan pegiat social media Semarang juga hadir dalam jumpa pers dan mendukung pernyataan sikap tersebut.

Sekretaris Oase Adhitya KC mengatakan, persoalan berawal dari Facebook Page Pasar Malam Sentiling yang diposting 7 Agustus 2014. Di situ tercantum nama-nama komunitas yang disebutkan tergabung dalam Forum Lintas Komunitas Semarang (FOLKS). Bahkan, pada 19 Agustus 2014, Oen Foundation dan Badan Pengelola Kawasan Kota Lama BPK2L selaku penyelenggara festival yang digelar 19-21 September di Kota Lama itu, mengundang para calon donatur dengan mencantumkan logo FOLKS. Logo itu juga tercantum dalam baliho acara yang disponsori produk rokok tersebut.

“Padahal FOLKS sendiri itu tidak ada, forum itu belum terbentuk, masih berupa wacana yang belum tuntas ditindaklanjuti oleh para penggagasnya,” katanya.

Menurut Adhitya, pencantuman nama tanpa persetujuan dari komunitas bersangkutan untuk kepentingan penggalangan dana sangat tidak etis dan merugikan. Sebab masing-masing komunitas telah memiliki reputasi yang baik dan telah memiliki jam terbang yang tinggi dalam berkegiatan dengan cara swadaya maupun bekerjasama dengan berbagai pihak tanpa adanya campur tangan pihak ketiga. “Ini adalah tindakan yang tidak etis, serta menunjukkan tidak adanya profesionalisme dari penyelenggara FKL,” katanya.

Koordinator Event Oase Rahayu Urani menyatakan, pihaknya tidak menolak FKL. Namun panitia FKL harus memberikan pernyataan pada publik di media yang berisi pengakuan dan permintaan maaf bahwa panitia telah melakukan perbuatan tidak etis dan tidak profesional dengan mencantumkan nama komunitas tanpa izin. “Kami juga meminta penyelenggara FKL tidak mengulangi perbuatan serupa pada tahun-tahun mendatang,” katanya.

Doby Hendyanto dari Karimoeni menambahkan, pelanggaran etika panitia FKL telah terjadi berulang kali. Pada FKL 2013, panitia juga telah melakukan tindakan serupa. “Tahun lalu kami masih berdiam diri, kali ini tidak. Sama sekali tidak ada itikad baik dari panitia FKL untuk memperbaiki kondisi ini,” katanya.(MS-08)

You might also like

Comments are closed.