Film Tepang Kajat Potret Toleransi Tasyakuran Beda Agama

Salah satu agedan dalam Film Tepang Kajat
REMBANG – Toleransi dan kerukunan umat beragama menjadi salah satu fokus perhatian Kementerian Agama (Kemenag). Untuk itu Kemenag terus mengintensifkan penguatan moderasi beragama, salah satunya melalui pesan film sebagaimana dibuat oleh Forum Kerukunan Umat Beragama Kabupaten Rembang.

Bertajuk ‘Tepang Kajat, Bagimu Agamamu, Bagiku Kaulah Segalanya’, film ini diproduksi oleh FKUB Kabupaten Rembang dan Generasi Muda (Gema) FKUB Kabupaten Rembang bekerjasama dengan Kemenag Rembang dan Kesbangpolinmas Kabupaten Rembang. FKUB juga menggandeng rumah produksi ‘Kertangkes.Id.’

Film pendek ini dilaunching perdana pada 14 Desember 2020 di akun Youtube Kemenag Rembang News dan telah mendapatkan respon yang cukup banyak dari pemirsa.

‘Tepang Kajat’ adalah istilah Bahasa Jawa yang dapat diartikan menemukan jawaban dari harapan atau keinginan seseorang. Dalam adat Jawa, Tepang Kajat adalah suatu acara yang mengungkapkan rasa syukur atas terkabulnya hajat seseorang.

Untuk mengupas film ini, FKUB Kabupaten Rembang mengadakan acara ‘Bedah Film Tepang Kajat’ pada Sabtu (26/12) di aula Gedung PLHUT Kemenag Rembang. Acara ini menghadirkan Kepala Kesbangpolinmas Kabupaten Rembang, Harijono, Plt Kakankemenag Kabupaten Rembang, Moh. Mukson, Ketua FKUB Kabupaten Rembang, Masyhuri, aktor dan tim produksi film.

Film ini berkisah tentang kehidupan sederhana di satu RT. Pak Andreas adalah warga beragama Katholik yang kebetulan akan mengundang tetangga RT untuk menghadiri hajatan dalam rangka tasyakuran putrinya yang sudah diterima kerja. Ia lantas meminta tolong Alex, anak muda di RT itu untuk mengantarkan undangan ke beberapa orang yang kebetulan agamanya berbeda-beda.

Awalnya Alex menolak, lalu akhirnya dengan rayuan akan diberi upah, ia pun bersedia membantu. Tapi ternyata Alex tidak mengenal satu pun nama yang tertera di undangan itu. Alhasil, Alex merasa malu karena beberapa kali salah sangka terhadap agama orang-orang yang diundang tersebut, hanya karena identitas namanya.

Film ini beralur sederhana. Namun terkesan sangat menghibur, karena Okvan Rentua (pemeran Alex) berhasil membawa permirsa terhibur dengan aktingnya yang lucu dan menggemaskan. Apalagi, dialeknya yang campur antara bahasa Ambon dan dialek khas Rembang.

Pelibatan pemeran dari enam agama dan pengambilan latar belakang tempat ibadah dan simbol-simbol agama, semakin menambah kekentalan pesan kerukunan beragama.

Abid Sampurna selaku tim produksi film ini mengatakan, ide cerita film ini berangkat dari fenomena nyata di lingkungan masyarakat yang masih mempunyai sikap cuek terhadap masyarakat sekitar. “Awalnya kami ada dua ide, yang pertama agak kontroversi, yang kedua film Tepang Kajat ini. Akhirnya kami memutuskan untuk mengambil ide cerita yang kedua. Karena memang banyak dialami oleh masyarakat,” kata Abid.

Ketua Gema FKUB Kabupaten Rembang, Deni Tri Mulyana mengatakan, Rembang adalah daerah yang nyaris tak ada konflik agama atau bisa dibilang rukun. Namun menurutnya, rukun ini hanya luarnya saja. Rukun lebih dikarenakan antar tetangga yang kurang saling mengenal atau cuek.

Karakter Alex ini menunjukkan sikap cuek yang hanya peduli terhadap dunia ‘muda’nya sendiri tanpa mau tahu dan mengenal tetangga sekitarnya yang ternyata mempunyai latar belakang agama yang berbeda-beda. “Pada akhirnya, Alex menyadari bahwa dalam kehidupan bermasyarakat, kita tidak bisa cuek. Kita harus mengenal baik masyarakat sekitar, berinteraksi dengan baik, sering berada dalam sebuah forum agar tercipta kehidupan yang harmonis. Inilah arti toleransi yang sebenarnya,” ujar Deni.

Plt Kakankemenag Kabupaten Rembang, Moh. Mukson mengatakan, film ini sangat tepat untuk mewarnai kehidupan umat beragama di Indonesia. Menurut Mukson, film ini tepat menggambarkan agama sebagai inspirasi sesuai yang disampaikan oleh Menteri Agama Yaqut Cholil Qoumas.

“Agama itu agar mampu menjadi inspirasi. Menjadi sumber mata air di mana kita bisa mengambil kebaikan, kejujuran, kedamaian dan persahabatan, serta berpihak kepada yang lemah,” terang Mukson.(ari)

Comments are closed.