CERITA FOTO: Kompor Minyak yang Terakhir

KALA itu tahun 1972. Satio Sucipto Sudarmo, remaja 17 tahun meninggalkan kampung halamannya di Kecamatan Batu, Wonogiri menuju Semarang. Tiba di Semarang, ia mendapat pekerjaan di perusahaan pembuatan kompor minyak bermerek Gaya Baru di Jalan Bugangan Dalam, Semarang Timur.

Enam tahun bekerja di pabrik itu, mengamati dan mempelajari proses pembuatan kompor minyak, Satio berhasil mengantongi keterampilan baru. “Saya seperti belajar tapi dibayar. Waktu itu saya dibayar Rp 3 ribu seminggu,” kisah Satio.

Semenjak punya anak, pendapatan Satio tak menutup kebutuhan hidup keluarganya. Ia lantas mendirikan usaha sendiri. Tak menyimpang dari keterampilan yang telah ia punya, membuat kompor minyak. Usaha pembuatan kompor minyak ia rintis tahun 1978, mengandalkan modal dari mantan bosnya di Gaya Baru.

Mulanya Satio hanya memiliki dua orang pekerja. Ia memanfaatkan barang bekas yang ia dapat dari kawannya sebagai bahan pembuat kompor minyaknya. Harga bahan dari barang bekas jauh lebih murah dibanding dengan membeli bahan baru.

Lambat laun Satio mulai mendapat pesanan dari para penjual kompor minyak dari berbagai penjuru Jawa Tengah. Selain Semarang, juga dari Pati, Demak, dan Jepara. Usaha Satio merangkak naik, pekerjanya bertambah menjadi delapan orang.

Penjualan kompor minyak buatan Satio mencapai puncaknya di tahun 1997. Dalam seminggu sedikitnya 300 unit kompor minyak terjual. Kompor buatan Satio diberi merek Tugu Mas. Kala itu harga jualnya Rp9.000 per lusin untuk kompor sumbu 16 dan Rp11.000 per lusin untuk kompor sumbu 20.

“Memang tahun itu kan apa-apa serba murah, minyak juga murah. Apalagi pas Pak Soeharto lengser itu,” kata Satio.

Dari usahanya, ia berhasil menyekolahkan anaknya hingga lulus kuliah dan membangun rumah di Sawah Besar VII, RT 6 RW 4, Kaligawe, Gayamsari, Semarang. Itulah rumah keluarganya hingga kini. Pada waktu itu, Satio tidak menyangka dirinya bakal menjadi orang terakhir di kawasan tersebut yang membuat kompor minyak.

Tahun 2007 ketika pemerintah membuat kobijakan konversi bahan bakar minyak tanah ke gas yang dibuka dengan subsidi kompor dan elpiji 3 kg, produksi kompor minyak merosot drastis. Termasuk produksi di tempat Satio. Hingga kini tinggal Satio yang membuat kompor minyak di kawasan itu.

“Mulai saat itu saya kerja sendiri. Produksi menurun, karena penjualan juga berangsur turun. Dulu setiap hari bikin kompor. Kalau sekarang kan nggak pasti terjual. Pelanggan saya saat ini tinggal beberapa saja dan di Semarang semua. Ada di Barito, ada di Pasar Johar yang relokasi di dekat Masjid Agung Jawa Tengah,” kata Satio.

Jika dulu dalam seminggu, ratusan kompor minyak Tugu Mas terjual, kini hanya satu sampai dua lusin saya yang bisa dijual per minggu. Tergantung jumlah pemesanan. Satiopun hanya menyelesaikan tiga kompor minyak dalam sehari. Tak banyak hasil yang ia dapatkan dari kompor buatannya saat ini. Satu kompor ia banderol Rp 35 ribu saja.

“Ya kalau laku tiga-tiganya jadi Rp 105 ribu. Untung saya kurang dari setengahnya. Cuma cukup buat jajan saya sendiri, sama bantu-bantu istri sedikit,” ujar Satio.

Usia Satio kini sudah 63 tahun. Tinggal istri yang menemaninya di rumah. Setiap hari, istri Satio berjualan di kios kelontong milik mereka di Pasar Waru. Tiga anak Satio telah berkeluarga dan tak lagi tinggal bersama Satio.

Untuk menunjang kebutuhan harian bersama istrinya, Satio membuat perkakas lain. Snglo, serok, engkrak, dan tempat bakaran sate, adalah perkakas yang masih mungkin dibeli orang, lebih banyak ketimbang kompor minyak.

Penulis: Efendi
Edito: Eka Handriana

You might also like

Comments are closed.