FOTO: Nowis, dari Semarang Menembus Pasar Jepang

 

PURNOMO mengamplas potongan-potongan kayu, pada Rabu (18/4) siang. Bertempat di workshopnya Jalan Gemah Selatan, Pedurungan, Semarang, ia dibantu dua temannya sibuk menggarap pesanan jam tangan kayu dari para pembeli. Purnomo butuh ketelatenan untuk menekuni kerajinan jam tangan kayu. Dengan berbekal keterampilannya mengelas besi, ia kemudian coba-coba menggeluti kerajinan jam tangan kayu.

“Pikirku kemampuan mengelas besi bisa diaplikasikan buat kerajinan kayu. Ternyata memang benar, material kayu dari sisa-sisa pembuatan gitar bisa saya buat jadi jam tangan,” ungkap Purnomo kepada metrosemarang.com.

Ia bilang sudah dua tahun menekuni pembuatan jam tangan kayu ini secara otodidak. Mula-mula ia tertarik setelah melihat tayangan di televisi. “Karena keliatan menjanjikan, maka pelan-pelan sisa kayu yang berserakan di sekitar rumah saya bikin jadi jam tangan,” imbuhnya. Dalam sebulan ia mampu mengerjakan pesanan 15 jam tangan kayu. Bahan bakunya diperoleh dari kayu mepel, sonokeling maupun kayu eboni.

Menurutnya material kayu dipotong kecil-kecil lalu dibuat pola jam tangan sesuai pesanan pembeli. Diakuinya pula proses pembuatannya jam tangan kayu paling rumit pada rancangan pola frame jam tangan. “Saya cari referensi untuk menentukan modelnya sendiri,” ujar Purnomo.

Proses pembuatannya, terangnya, butuh waktu dua sampai tiga hari. Bahan bakunya didapat dari beberapa daerah di Kalimantan. Sebuah jam tangan kayu dibanderol seharga Rp 400 ribu-Rp 650 ribu. Selain itu, ia juga menggarap pesanan kacamata kayu. Untuk barang yang satu ini, harganya lebih murah. “Cuma Rp 375 ribu,” sergahnya.

Keunikan jam tangan kayu buatan Purnomo rupanya mampu memikat para pembeli. Ia memberi merek Nowis untuk jam tangannya.  Tak kurang pemesan jam tangan kayu tersebar dari Jawa sampai merambah ke Jepang. “Suatu hari ada reseller yang membawa pembeli dari Jepang kemudian tertarik membeli 20 jam tangan pada tahun lalu,” jelasnya.

Kini, resellernya berasal dari Yogyakarta dan sekitar Semarang. Ia mengatakan sangat leluasa mengembangkan bisnisnya karena tidak punya kompetitor. “Palingan kami bersaing dengan Klaten dan Yogyakarta. Sebab, kerajinan seperti ini sangat langka. Hanya saja, kami masih kekurangan tenaga kerja,”.

Ia berharap daya dukung dari pemerintah untuk menambah modal perajin mikro berbasis kayu seperti dirinya. Dengan begitu maka kualitas produk yang dihasilkan dapat ditingkatkan lebih baik lagi.

Sucahyo, Kasi Pemasaran Dinas Koperasi dan UMKM Jateng, mengatakan kerajinan jam tangan kayu buatan Purnomo menjadi salah satu yang unik di wilayahnya. Perajin tersebut merupakan binaan dinas yang sejak diikutsertakan dalam pameran UMKM skala provinsi maupun nasional.

“Makanya, kami mendorong UKM-UKM lainnya untuk berinovasi dalam meningkatkan kualitas produknya agar dapat bersaing sampai ke mancanegara,” tutupnya. (Fariz Fardianto)

Comments are closed.