Gagal Atasi Macet, Trayek BRT Diminta Dikaji Ulang

METROSEMARANG.COM – Pengamat transportasi Unika Soegijapranata Semarang, Joko Setijowarno, mengkritisi keberadaan Bus Rapid Transit (BRT) Trans Semarang yang dioperasikan oleh Pemerintah Kota Semarang.

Keberadaan BRT dinilai belum mampu mengatasi masalah kemacetan di Semarang. Foto: metrosemarang.com/dok

Menurutnya, keberadaan BRT Trans Semarang sejak 2009 yang diharapkan bisa mengatasi kemacetan di Kota Atlas ternyata hanya isapan jempol belaka. Kemacetan justru semakin bertambah di beberapa ruas jalan protokol Semarang.

‘’Terbukti, sekarang sudah beroperasi 6 koridor bahkan akan bertambah jadi 7 koridor, belum bisa mengurangi kemacetan di Kota Semarang. Kemacetan kian bertambah, sehingga seolah tidak ada manfaatnya BRT sebagai solusi atasi kemacetan,’’ katanya, Kamis (15/3).

Menurutnya, ada salah rancang rute atau trayek dalam pengoperasian BRT Trans Semarang. Mestinya trayek menghubungkan setiap kawasan perumahan dan permukiman menuju pusat kota. Melewati perkantoran, pusat bisnis, sekolah dan kampus.

Bukan seperti sekarang dimana dilakukan point to point sehingga membuat publik di kawasan tempat tinggal, harus menggunakan moda transportasi dulu baik berupa sepeda motor atau mobil. Sehingga keberadaan BRT Trans Semarang tidak efektif.

‘’Terlebih berhenti di shelter atau halte tidak tersedia park and ride. Lebih baik menggunakan kendaraan (motor atau mobil) tersebut menuju pusat kota,’’ ungkapnya.

Belum lagi, lanjutnya, manajemen pengelolaan yang seharusnya operator eksisting, tapi malah diberikan kepada operator baru. Sehingga akhirnya ada tumpang tindih dengan rute angkot.

‘’Beberapa daerah kawasan pinggiran tidak disediakan shelter atau halte, khawatir bentrok dengan angkot. BRT jadi mubazir, sering kosong, sementara subsidi tetap berjalan,’’ tegasnya.

Dia pun mendesak supaya dilakukan kajian ulang trayek (rerouting) BRT Trans Semarang dan juga menggunakan operator eksisting sebagai pengelola. (duh)

You might also like

Comments are closed.