Garna Raditya, Hasrat yang Tinggi dan Grindcore Biaya Rendah

Pentolan Band AK//47

Secara logistik, upah dari tiap pertunjukan sekitar US$50-100 dipakai untuk menutup pengeluaran sehari-hari. Seperti bensin, perawatan mobil van yang kami pakai, ganti oli atau ganti ban

Meski tak banyak membawa penghasilan untuk keluarga, tapi saya bisa keliling dan merekam AS dalam dua bulan. Low budget grindcore.

– Garna Raditya, AK//47 –

 

BISA jadi, siapa saja yang memiliki band, punya impian manggung di Amerika Serikat (AS). American dream! Siapa yang tak punya?

Kami berbincang dengan musisi asal Semarang, Garna Raditya, yang berkelana di AS sebagai imigran. Ia membawa serta bendera band beraliran ekstrem yang dibentuknya bersama kawan-kawan di Semarang.

Dimanapun tempatnya dan apapun situasinya, Garna seolah tak terhenti. Tak hanya musik, ia juga punya proyek seni yang lain. Baru saja bandnya, AK//47, meluncurkan album baru yang mengusung pesan-pesan kegelisahan pada beberapa keadaan. Dua kali tur mengitari daratan AS mendahului peluncuran itu.

Garna bersama musiknya menyusuri panggung-panggung West Coast dan menuntaskan East Coast. AK//47 disebut-sebut sebagai band Indonesia yang melakukan tur terpanjang di AS. Bagaimana Garna melakukan itu semua? Simak obrolan yang kami lakukan lewat surel ini.

ak//47
Garna Raditya dalam salah satu aksi panggungnya. (foto: dokumentasi)

“Loncati Pagar Berduri” direkam di Indonesia, diluncurkan di Indonesia, tapi tur keliling Amerika Serikat. Bagaimana bisa Amerika?

Siapapun yang memiliki band, ada hasrat untuk tampil di Amerika Serikat (AS). Saya sudah diuntungkan menjadi imigran sejak hampir tiga tahun yang lalu di sini (Garna tinggal di Oakland, California, Amerika Serikat – red).

Memang tidak mudah mengurus keimigrasian. Belum lagi biaya hidup sehari-hari yang bisa dibilang cukup mahal. Tapi saya lantas berpikir, bagaimana saya membawa format AK//47 ke sini.

Dalam keseharian, saya sempatkan untuk pergi ke show lokal, sembari menonton band-band idola. Di sela-sela show itulah saya melakukan pencarian personel. Itu juga tidak mudah. Saat bertemu dengan orang yang cocok, masih perlu jadwal yang selaras, pemikiran dan berbagai pertimbangan lainnya.

Setelah pencarian demi pencarian, pada Juni 2017 saya bertemu dengan formasi Damian Talmadge (bas) dan Mark Miller (drum) untuk menjalankan rencana tur. Dengan restu dari personel di Semarang yakni Yogi Ario a.k.a Kotob (drum) dan Novelino Adam a.k.a. Inu (bas), kami menjalankan band ini di dua negara. AK//47 kemudian melakukan tur keliling AS dalam rangka promosi album baru, “Loncati Pagar Berduri” yang juga merupakan tajuk dari tur ini.

 

Bagaimana turnya?

Tur pertama berlangsung  pada 20 April-1 Juni 2018 di West Coast dengan 24 pertunjukan dan 23 kota di negara bagian California, Washington, Oregon, Utah, Idaho dan Montana. Tur yang kedua pada 16 Oktober-17 November 2018 menyusuri 21 kota dan pertunjukan ke East Coast dan kembali ke West Coast di negara bagian Oregon, Idaho, Utah, Colorado, Kansas, Missiouri, Maryland, New York, Pennsylvania, Michigan, Wisconsin, Minnesota, North Dakota, Montana, Washington, dan California.

Jadi total dengan tur yang pertama, ada 45 pertunjukan di 41 kota dengan 15 negara bagian AS. Untuk tur kedua ini jarak per kotanya cukup jauh. Di hari pertama, menempuh 12 jam yang saat itu dari Oakland, California menuju Portland, Oregon.

Kemudian ke kota-kota berikutnya menempuh 8-10 jam tiap hari. Sebagai gambaran di peta nusantara, kurang lebih seperti dari Sabang ke Merauke dan kembali lagi ke Sabang yang menempuh jarak hampir 10.000 kilometer.

 

Wow! Pasti itu menjadi perjalanan yang menantang. Bagaimana kalian melewatinya?

Setiap kota yang kami singgahi memiliki ceritanya sendiri. Kami menjalani seperti rutinitas yang harus dijalankan. Rasa bosan dan letih luar biasa. Adu pendapat tentu saja ada. Tetapi segera sirna tiap sudah sampai di kota kami tuju. Bertemu orang baru, diberi aneka oleh-oleh, sukacita dan hal yang aneh-aneh.

Rutinitas yang saya lakukan untuk melewati perjalanan adalah menulis jurnal, transfer foto dan video dari pertunjukan semalam, melamun, baca buku, menggambar, dan sesekali membidik pemandangan yang kami lewati dengan lensa kamera. Dari pegunungan menuju pantai, dari daerah bersalju menuju gurun yang kering, dari kota besar hingga tampil di pedesaan.

Secara logistik, upah dari tiap pertunjukan sekitar US$50-100 dipakai untuk menutup pengeluaran sehari-hari. Seperti bensin, perawatan mobil van yang kami pakai, ganti oli atau ganti ban. Sedangkan untuk transit, kami tidak mengeluarkan biaya. Karena kadang tidur di venue atau di rumah teman baru yang menawarkan tempat singgah kepada kami.

Pengeluaran yang lain, untuk masing-masing personel, US$20 per hari untuk makan minum. Untuk menutup itu semua, kami menjual merchandise yang kami bawa. Kaus, emblem, pin, kaset, dan CD. Penjualan sehari-hari menghasilkan US$50-80. Meski tak banyak membawa penghasilan untuk keluarga, tapi saya bisa keliling dan merekam AS dalam dua bulan. Low budget grindcore.

 

Sepanjang tur, panggung mana yang paling mencuri hatimu? Kenapa?

Salah satu yang berkesan adalah di Brooklyn, New York. Saat main di Saint Vitus Bar. Pertunjukan malam itu merupakan pertunjukan terakhir bersama Antigama, band grindcore asal Polandia. Sejak 10 hari sebelumnya kami berada dalam satu mobil van dari West Coast ke East Coast.

Sebelumnya saya sering nonton di YouTube; band-band idola main di venue ini. Sambil berandai-andai bisa manggung di bar yang penuh nuansa “kegelapan” dan interior yang satanik.  Eh ndilalah, diberi kesempatan saat tur kemarin. Saya grogi lho main disitu, karena sound-nya bagus, ha..ha..ha..

Oiya, saya senang sekali di venue itu disamperin Cholil Mahmud (vokalis dan gitaris band Efek Rumah Kaca – red). Dia bawa risoles buatannya, enak sekali. Saking enaknya, saya sampai makan pakai nasi. Bisa tuh!

Saya juga ketemu dengan Rully Rochmat (vokalis dan gitaris band Suaka – red). Dia itu jadi teman curhat saya selama di Amerika. Kami membicarakan mimpi-mimpi band Indonesia di masa depan. Bagaimana band-band ini bisa menjajal panggung Amerika yang dikenal “keras”, dan itu betul adanya.

 

Setelah keliling Amerika Serikat dalam dua kali tur ini, lalu apa?  

Album baru kami “Loncati Pagar Berduri” baru saja dirilis bulan ini oleh Lawless Jakarta Records dalam bentuk CD dengan distribusi Demajors. Format kasetnya dirilis oleh Disaster Records. Untuk digital platform akan tersedia pada Januari 2019 mendatang.

Setelah tur ini, kami mulai menyusun jurnal, catatan-catatan dokumentasi yang terserak, untuk digunakan dalam video dokumenter. Selebihnya, kami mengumpulkan energi lagi untuk tahun 2019. Barangkali tur Asia Tenggara, kalau tidak ada halangan. Kami juga sudah menyelesaikan video “Lempar Petasan ke Podium”.

 

O..iya. Apa makna “Lempar Petasan ke Podium” itu?

Lagu “Lempar Petasan ke Podium” merupakan respons dari momentum politik kepemiluan. Terutama tahun politik bagi Indonesia yang saat ini kerap diwarnai dengan mobilisasi sentimen SARA dan aksi-aksi fasis yang kian brutal.

Seolah-olah kita hanya bisa duduk diam. Menyaksikan blundernya aksi politisi dan pemuka agama. Mereka mudah berbicara sambil membual, dan masyarakat meyakini delusi-delusi tersebut sebagai pemecah persoalan. Lambat laun muncul pembenaran atas aksi-aksi mereka, lalu lupa mempertanyakan; untuk apa patuh terhadap mereka?

Mereka telah mengkooptasi ruang-ruang publik untuk kepentingan tertentu. Menjadikannya sebagai podium, sebagai panggung. Penggunaan petasan merupakan metafora dari sesuatu yang menghardik. Meski kecil, tapi mampu membuat terkejut untuk orang yang berada di podium tersebut.

Hampir seluruh lagu dalam “Loncati Pagar Berduri” ini liriknya diadaptasi dari situasi di Indonesia dan AS. Ada satu lagu berjudul “Kepada Bunga Yang (masih) Tumbuh di Beton”, yang saya adaptasi dari sajak Wiji Thukul “Bunga dan Tembok”. Sepertinya pas jika diiringi dengan musik grindcore.

 

Rupanya di AS kamu semakin produktif soal musik. Apa arti Oakland bagimu, berkaitan dengan musik?

Oakland adalah salah satu kota progresif dan memiliki aktivisme yang kuat di Bay Area (sebutan kawasan California Selatan). Berdampingan dengan Berkeley yang merupakan kawasan akademik. Sedangkan San Fransisco memiliki perputaran industri teknologi dunia yang deras.  Bayangkan betapa sibuknya orang-orang itu, begitu juga biaya hidupnya. Saya mencerap apapun yang terjadi disini, sehingga menjadi inspirasi dalam proses kreatif.

Oakland juga memiliki bagian sejarah musik bawah tanah yang berpengaruh kuat. Penyelenggaraan festival musik tahunan dengan line up yang tegap seperti California Death Fest, Coachella, Manic Relapse Fest, Burger Boogaloo, dan show-show mingguan yang menggiurkan.

Soal tempat, sebut saja Oakland Metro, The Golden Bull, Eli’s, Fox Theater, UC Theatre dan beberapa tempat do it yourself (D.I.Y) atau squat-squat anarkis. Tempat-tempat tersebut bisa saya tempuh dengan naik sepeda, termasuk 924 Gilman Street di Berkeley.

Tempat ini juga banyak menghasilkan band-band beraliran doom, old school death metal, powerviolence dan crust punk. Barangkali musik saya juga terpengaruh dengan kelokalan yang ada disini.

 

Tentunya kamu terus terhubung dengan personel AK//47 di Indonesia dong? Bagaimana kalian menyelesaikan persoalan komunikasi, penyatuan gagasan dan persoalan teknis sebuah band?

Komunikasi dilakukan melalui internet. Semuanya mudah sekarang. Karena saya yang lebih banyak menulis lagu, Inu dan Kotob yang melengkapi. Gagasan sebenarnya lebih banyak saat rekaman ketika saya pulang ke Semarang,

Nulis lirik juga berada di studio. Waktu itu saya tinggal selama dua minggu di studio Girez. Dalam album ini juga kami dibantu banyak hal oleh Afriyandi Wibisono dari Semarangonfire.com.

Video di bawah ini adalah perbincangan kami dengan Garna Raditya sesaat setelah proses rekaman “Loncati Pagar Berduri” selesai dikerjakan.

 

 

Bagaimana dengan proyek musik lain?

Antaralain sedang hiatus, karena Megan (Megan Hewitt istri Garna. Mereka berdua mengerjakan proyek musik Antaralain – red) sedang menyelesaikan disertasinya tahun ini. Tentu saja kami memiliki keinginan kembali membuat rilisan.

Sedangkan untuk OK Karaoke, saya sudah serahkan ke personel lainnya agar band ini tetap aktif. Kalau proyek solo, saya sudah merekam materi baru untuk mini album yang rencananya akan dirilis tahun 2019.

Lalu saya bikin video gitar semenit #StealThisRiff / #CuriRiffIni. Itu pelampiasan saya terhadap kegemaran memainkan musik indierock dan prog. Olala, tantangan tinggal disini adalah ingin main musik ini-itu. Tapi tak ada waktu.

 

Saat ini kamu sedang mengerjakan apa saja? Ada proyek lain di luar musik? Apa rencanamu dalam waktu dekat?

Sembari kerja paruh waktu, saya menggambar untuk flyer atau album (karya Garna bisa dilihat pada galeri Instagram @gargarart. Itu sebagai sebagai hobi, sambil membuat kolektif kecil @gambarmati. Mengumpulkan foto-foto spontan di jalanan dan pertunjukan.

Yang cukup menghabiskan waktu adalah mengerjakan video documenter. Sekarang ada tiga cerita yang masih dalam kantong. Salah satunya tentang tur AS kemarin.

Gagasannya adalah merekam pengalaman selama tur dan sejarah AK//47. Sekarang masih memilah file, menyusun cerita dan berburu arsip. Pertengahan 2019 akan pulang kampung untuk melanjutkan produksi proyek dokumenter tersebut. Rencananya bisa diselesaikan akhir tahun 2019, bertepatan selebrasi 20 tahunnya AK//47.

 

Tertarik berpendapat soal ini? Di Semarang, Kendal, dan Jogja yang semua tak jauh dari tempat asalmu, terjadi beberapa penggusuran atas pembangunan normalisasi sungai, jalan tol sampai bandara. Apa pandanganmu soal itu?  

Ini pertanyaan yang sulit, tapi saya akan coba menjawab sesederhana mungkin. Boleh bakar dan hisap dulu ya…

Konflik agraria akan terus terjadi sampai tanah terakhir dibeton. Saya juga dengar di desa juga mulai marak penggusuran. Semua atas nama pembangunan infrastruktur.  Mereka bilang, ini untuk mendukung pengembangan ekonomi yang berkelanjutan.

Apalagi wilayah nusantara ini terbentang luas penuh dengan sumber daya alam. Sedangkan pemodal dan pemerintah memiliki agendanya dalam kemasan yang kita kenal sebagai kebijakan, dalam rangka pembangunan infrastruktur.

Kita sudah tahu di belakangnya ada kepentingan korporasi, bank, alat keamanan negara dan lainnya. Itu saja sudah rumit. Apalagi warga masih berkeinginan mempertahankan tanahnya, karena di situlah hidupnya. Itu jauh lebih rumit lagi. Negara yang mencerabut hak hidup warganya, tetap saja menganggap ini adalah bagian dari tugasnya untuk membangun.

Tetapi, ini bukan soal manusianya saja. Bukan soal sekarang atau lima tahun lagi. Ini adalah warisan mengenyahkan alam dalam pembangunan akan menurun ke generasi berikutnya. Sehingga nanti aka nada anggapan bahwa merampas hak hidup masyarakat itu adalah hal biasa dalam peradaban.

Belum lagi deraan perasaan munafik, ketika kita sendiri menggunakan infrastruktur tersebut. Tapi kegelisahan itu juga baik, membuat lebih peka dan tahu apa yang harus dilakukan agar tetap berakal sehat. (*)

penulis: Eka Handriana
editor: Eka Handriana

 

You might also like

Comments are closed.