Gelang dari Kopi, Kenapa Tidak?

Rosario dan Tasbih Juga Bisa

Semakin lama dipakai, gelang biji kopi ini semakin mengeluarkan aroma robusta. Semakin menyerap keringat, aroma akan semakin keluar

MULANYA hanyalah kebiasaan meminum kopi setiap pagi bersama suami. Suatu hari, kebiasaan itu memunculkan ide baru yang cukup unik. Ide yang kemudian mengubah keseharian kegiatan Nesia Wijayanti. Kesibukannya sebagai ibu rumah tangga bertambah dengan kesibukan sebagai perajin aksesori berbahan biji kopi.

Bentuk dan warna biji kopi yang menurut Nesia indah, mendorongnya untuk meronce dan menjadikannya pemanis penampilan. Nesia menggunakan biji kopi robusta yang sudah diroasting untuk membuat gelang, anting-anting dan kalung. Menurut Nesia, biji kopi memiliki daya tahan yang cukup lama jika diroasting Sehingga bisa dijadikan aksesori untuk dikenakan berkali ulang.

Roasting adalah proses mengeluarkan air dalam kopi, mengeringkan dan mengembangkan biji kopi. Dalam proses ini, bobot kopi menjadi berkurang namun biji kopi justru mengeluarkan aromanya. Biji kopi akan berubah menjadi berwarna coklat. Semakin lama diroasting, semakin gelap warna biji kopi. Teknik meroasting kopi merupakan suatu seni. Suhu yang berbeda akan memberikan rasa dan aroma kopi yang berbeda pula, kendati warnanya sama.

Sumber: coffeland.co.id

 

“Semakin lama dipakai, gelang biji kopi ini semakin mengeluarkan aroma robusta. Saya sudah buktikan, semakin menyerap keringat, aroma akan semakin keluar,” kata Nesia. Ia selalu menyelipkan plastik pengawet di dalam setiap pembungkus aksesori kopi buatannya.

nesia kopi
Nesia Wijayanti bersama aksesori biji kopi buatannya. (foto: metrojateng/Fariz Fardianto)

 

Cocok dengan Robusta

Semula, Nesia membaca beberapa literatur terlebih dulu untuk menentukan jenis biji kopi yang akan ia ronce menjadi gelang. Ia mencari spesifikasi biji kopi yang tidak mudah pecah.

Perempuan 27 tahun itu lantas meroasting satu kilogram biji kopi robusta di rumahnya di Jalan Borobudur Utara Raya Nomor 6, Manyaran, Semarang Barat. Setelah biji kopi dipastikan kering, Nesia melubangi biji-biji itu menggunakan mesin bor. Maka itulah ia butuh biji yang tak mudah pecah.

Biji kopi robusta berbentuk bulat utuh. Ukurannya lebih kecil dari biji kopi arabika, tergantung varietas biji. Tumbuh di dataran antara 300-700 meter diatas permukaan laut. Tinggi pohon sekitar 1-2 meter. Lebih tahan terhadap serangan hama dan penyakit. Di Indonesia, kopi robusta paling banyak dihasilkan di daerah Lampung dan Palembang.

Sumber: specialtycoffee.co.id

Proses pelubangan itu tidak bisa sekaligus, harus satu per satu. Karena itu membutuhkan waktu lama. Biasanya, Nesia mengerjakan proses tersebut di atas pukul dua belas malam, ketika anaknya sudah lelap.

Setelah proses pelubangan, barulah ia bisa mulai meronce. Tak butuh waktu lama untuk meronce biji kopi menjadi untaian gelang. Nesia menggunakan senar gelang, ditambah dengan variasi manik-manik untuk membuatnya lebih menawan.

 

Hampir saban hari Nesia melakukan kesibukannya itu. Maklum, pesanannya mencapai ratusan dari seluruh penjuru Semarang. Selain aksesori penunjang penampilan, pelanggan Nesia juga memesan rosario dan tasbih.

“Peminatnya kebanyakan kalangan perempuan muda yang meminati fesyen,” kata Nesia. Ia memamerkan karyanya lewat jejaring Instagram dengan nama akun @molijoz_design. Karya-karya Nesia dibanderol dengan harta Rp 30 ribu hingga Rp 75 ribu. (Fariz Fardianto)

 

Artikel ini telah diterbitkan metrojateng.com dengan judul
“Biji Kopi Tak Hanya untuk Minuman, Juga Bagus untuk Gelang, Rosario dan Tasbih”

 

Comments are closed.