Gerombolan Pemuda Radikal Bikin Onar di Acara Pameran Wiji Thukul

METROSEMARANG.COM – Segelintir pemuda radikal yang berafiliasi dengan Forum Umat Islam Semarang (FUIS) nekat membuat gaduh saat pameran tunggal lukisan Wiji Thukul berlangsung di kantor lama LBH Semarang Jalan Parangkembang Tlogosari, Pedurungan. Acara tersebut digeber enam hari mulai 1 Mei-6 Mei kemarin.

Foto: istimewa

Kelompok pemuda radikal itu bahkan mengajak ormas ekstrem lainnya macam Gerakan Pemuda Kabah Yogyakarta dan Kelompok Kepemudaan Muhammadiyah untuk menggagalkan pameran Wiji Thukul. Wahyu, yang mengklaim dirinya bagian dari FUIS sempat mengancam pemilik Gedung Sarekat Islam (SI) Sarirejo untuk tidak mengizinkan dipakai pameran.

“Habis diancam mau mengerahkan massa, pemilik sekaligus hak waris Sarekat Islam pada akhirnya keberatan dipakai untuk lokasi pameran. Kami akhirnya pindahkan lokasi ke kantor lama LBH di Tlogosari,” ungkap Yunantyo Adi, penggagas acara dari Komunitas Pegiat Sejarah Semarang, Minggu (7/5).

Segelintir pemuda berpikiran radikal itu menuding apa yang ditampilkan dalam pameran Wiji Thukul mengandung unsur yang mereka sebut kekiri-kirian. Itu, lanjut Yunantyo, dituding bisa membangkitkan komunisme.

Padahal, yang mereka tuduhkan itu salah kaprah. Pameran tersebut sekadar untuk mengenang sepak terjang Wiji sebagai mantan aktivis yang mengkritik rezim Orde Baru. Wiji adalah penyair karena puisi-puisinya sarat sindiran dan kritikan keras terhadap cukong yang menindas rakyat jelata.

“Kami juga membacakan puisi Wiji Thukul yang sarat akan makna perlawanan terhadap rezim Orba. Tidak ada sangkut pautnya dengan gerakan apapun. Justru FUIS yang menyebarkan fitnah kepada kami,” katanya lagi.

Ia mengecam ulah segelintir gerombolan pemuda tersebut. Bahkan, mereka mengerahkan Panglima FPI Jateng Ahmad Rofii untuk mengintervensi panitia acara. Rofii meminta penjelasan apa benar informasi tersebut.

“Setelah kami paparkan masalahnya, mereka bisa memahami. Cuma FUIS itu kenapa terus-menerus memprovokasi kami. Mereka bilangnya sudah tabayun, namun masih memfitnah. Kami bisa saja melaporkan mereka ke polisi,” tegasnya sembari mengancam balik ke kelompok tersebut.

Walau begitu, aksi intimidasi terhadap panitia pameran lukisan Wiji Thukul tak membuahkan hasil. Acara pamerannya berhasil digelar dengan sukses dan lancar.

Aparat TNI memperketat pengamanan di semua sudut kampung dan gedung LBH. Andreas Iswinarto sang pelukis potret Wiji Thukul tak gentar dengan ancaman tersebut. Ia justru menyatakan, ada 50 lebih lukisan potret Wiji Thukul yang ia bingkai di dinding maupun ditempel di kertas-kertas dinding.

Ada sejumlah penyair lokal yang memeriahkan pameran lukisannya. Parade penyair tampil bergiliran mulai Djawahir Muhammad, Evita Erasari, Nurin Dewi Arifia, Kelana, Dwi ana Risabela, Setara Merdeka, Swarnabaya, Aulia Muhammad.

“Acara ditutup dengan pegelaran lukisan yang disaksikan pengunjung dengan lancar,” tukasnya. (far)

You might also like

Comments are closed.