Gilo-Gilo Bukan Asli Semarang?

Penjaja Penganan Keliling

Beberapa sumber menyebut gilo-gilo telah ada sejak zaman kolonialisme Belanda. Pada tahun 1930 pedagang seperti ini tidak menggunakan gerobak

“Kepercayaan pelanggan adalah prioritas. Karena tidak mudah mendapatkan pelanggan.”

-Parnyo, Pedagang Gilo-gilo Bugangan-Semarang-

 

SEORANG mahasiswi Universitas Negeri Yogyakarta, Pujiyati, melakukan penelitian tentang potensi wisata makanan [PDF] di Kota Semarang, pada 2013 silam. Pujiyati mengidentifikasi gilo-gilo sebagai kudapan khas Semarang, menyertai tahu pong, gandos dan blanggem. Gilo-gilo sendiri bukanlah nama kudapan tunggal.

Ini adalah gerobak penuh mendoan, bakwan, tahu petis, risoles, nasi bungkus, arem-arem, sate keong, sate telur, sate usus, sate kolang-kaling, kerupuk hingga buah-buahan. Kendati khas Semarang, namun kebanyakan pedagang gilo-gilo adalah orang-orang perantauan dari luar Semarang.

Tahun 1985, seorang petani dari Kabupaten Purwodadi bernama Parnyo mendatangi Kota Semarang. Ia tahu ada yang bisa dikerjakannya di Semarang untuk mendapat penghasilan tambahan. Yakni berdagang penganan keliling. Beberapa tetangganya di Purwodadi lebih dulu melakoninya.

Setiap hari menjelang saat makan siang, Parnyo memulai pekerjaannya. Mendorong gerobak menyusupi gang-gang kampung Kota Semarang. Jika sudah terdengar teriakan “Wayahe! Wayahe!”, itu artinya Parnyo sudah dekat.

“Maksudnya, sudah wayahe (waktunya – red) makan siang,” ucap Parnyo. Pedagang gilo-gilo sepertinya adalah jenis pekerjaan lawas. Beberapa sumber menyebut gilo-gilo telah ada sejak zaman kolonialisme Belanda. Pada tahun 1930 pedagang seperti ini tidak menggunakan gerobak, melainkan memakai pikulan.

Lantaran beban pikulan yang berat, pedagang penganan ini berjalan lenggak-lenggok untuk menjaga keseimbangan. Orang-orang menyebutnya berjalan gela-gelo. Itulah yang oleh sebagian orang dipercaya sebagai akar istilah pedagang gilo-gilo.

gilo gilo semarang
Parnyo dengan gerobak gilo-gilo yang memuat dagangannya. Ia merupakan perantau dari Purwodadi yang telah berdagang gilo-gilo 33 tahun di Semarang. (foto: metrosemarang/Jessica Celia)

 

Namun ada cerita lain, seperti yang dituturkan Parnyo. Istilah gilo-gilo berasal dari teriakan pedagang penganan keliling. Dahulu, pedagang tidak berteriak “Wayahe! Wayahe!” seperti Parnyo. Yang diteriakkan adalah “Gi lo! Gi lo!”.

Berdasar cerita yang didengar kemudian dituturkan Parnyo, “gi lo” yang diucap penjaja penganan keliling terdahulu berasal dari kata “iki lo”. Kata “iki lo” merujuk pada penunjukan penganan yang dibawa para penjaja keliling yang memakai pikulan itu.

 

Purwodadi Hingga Klaten

Dari pikulan, alat yang dipakai berkembang menjadi gerobak. Pada saat sejumlah orang dari Kabupaten Klaten masuk ke Semarang pada tahun 1980-1981 dan menjadi penjaja gilo-gilo, gerobak sudah digunakan.

Hingga kini, penjaja gilo-gilo yang berasal dari Klaten itu masih bertahan. Mereka tinggal di Kampung Gandekan dan Kampung Kulitan, Kelurahan Jagalan, Kecamatan Semarang Tengah. Masyarakat Kota Semarang mengenal dua kampung itu sebagai pusat gilo-gilo.

Dalam artikel Sense of Place Masyarakat Kampung Kulitan dan Kampung Gandekan, Jurnal Ruang (volume 2, nomor 4) tahun 2016 [PDF], disebutkan mayoritas penduduk yang tinggal di dua kampung itu bekerja sebagai penjaja gilo-gilo, dan mereka adalah pendatang dari luar Semarang. Sisanya bekerja sebagai pedagang komoditi lain dan berwiraswasta di bidang lain.

Parnyo sendiri tidak tinggal di Kulitan maupun Gandekan. Ia menempati rumah di Jalan Indragiri, Kelurahan Bugangan, Semarang Timur, bersama lima pedagang gilo-gilo lain. Mereka adalah kawan-kawan Parnyo yang juga berasal dari Purwodadi.

 

Bertahan Puluhan Tahun 

Yang awalnya hanya berniat mencari penghasilan tambahan, hingga kini Parnyo malah bertahan menjadi penjaja gilo-gilo. Ada puluhan lainnya yang juga bertahan bertahun-tahun di Semarang menjajakan gilo-gilo.

Parnyo sendiri telah 33 tahun berdagang aneka penganan itu. Parnyo mengalami harga dagangan ratusan rupiah per satuan, hingga kini telah menjadi ribuan rupiah per satuan.

Sejak dulu, Parnyo selalu membeli dan membuat sendiri buah-buahan dan air minum yang dijualnya. Semangka, melon, nanas, bengkoang, sampai kedondong, dibeli sendiri oleh Parnyo dari pasar.

Sedangkan untuk nasi bungkus dan penganan lain, Parnyo percaya kepada para perempuan pengolah makanan yang ada di sekitar tempat tinggalnya. Biasanya, satu tetangga Parnyo membuat satu macam penganan. Parnyo menyeleksi kualitas dagangan dengan memilih sendiri penganan-penganan yang akan ia bawa.

Itu merupakan strategi Parnyo untuk menjaga kualitas dagangannya. Jangan sampai pelanggan kecewa karena mendapat buah yang sudah tidak segar, dan penganan yang tidak lagi enak dimakan. “Kepercayaan pelanggan adalah prioritas. Karena tidak mudah mendapatkan pelanggan,” kata Parnyo.

Dalam sehari, biasanya Parnyo dapat mengantongi uang hasil jualan sebesar Rp 100 ribu hingga Rp 150 ribu. Tapi jika sedang ramai-ramainya, bisa sampai Rp 500 ribu. Itu ia dapat setelah berkeliling seputaran Jalan Citarum, Jalan Barito, hingga Kaligawe.

Namun omzet sebesar itu tak lantas mendatangkan keuntungan yang besar pula bagi Parnyo. Meski begitu, Parnyo tak mengubah haluan. Karena itulah yang bisa dikerjakannya sebagai seorang perantau di Kota Semarang.

 

Penulis: Jessica Celia (magang), Zahra Saraswati (magang)
Editor: Eka Handriana
You might also like

Comments are closed.