GINSI: Biaya Distribusi Barang di Indonesia Tertinggi Se-ASEAN

Ilustrasi
Ilustrasi

SEMARANG – Biaya logistik di Indonesia masih menjadi yang tertinggi di antara negara-negara ASEAN. Gabungan Importir Nasional Seluruh Indonesia (GINSI) berupaya menekan biaya logistik itu untuk membuat daya saing produk Indonesia meningkat.

Ketua Umum GINSI Rofiek Natahadibrata mengatakan, biaya logistik di Indonesia mencapai 27-28 persen. Padahal di Singapura hanya 5-7 persen dan rata-rata ASEAN sekitar 10 persen. “Kami ingin biaya logistik bisa turun signifikan. Terutama untuk pengiriman bahan baku sehingga nantinya ketika jadi produk harga bisa bersaing untuk ekspor,” katanya, dalam sambutan pengukuhan pengurus GINSI Jateng 2014-2019 di Hotel Patra Semarang, Selasa (24/2).

Hadir dalam acara itu Gubernur Jateng Ganjar Pranowo, Kapolda Jateng Irjen Noor Ali, dan Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan Jateng Priyo Anggoro.

Selain efisiensi biaya logistik, waktu atau delivery time menjadi titik berat GINSI. Dengan mempersingkat waktu pengiriman barang dan ketepatan waktu pengiriman akan membuat gairah impor dan distribusi barang meningkat. “Kami juga mengharapkan pemerintah menggencarkan sosialisasi undang-undang, terutama aturan dan persyaratan logistik yang benar,” jelasnya.

Untuk Jateng, peranan GINSI menurut Rofiek sangat krusial. Mengingat Jateng adalah jangkar distribusi dan transportasi di Jawa sehingga sangat mempengaruhi arus perdagangan. Selain itu, dengan upah buruh yang masih murah, Jateng berpotensi menampung limpahan investasi dari Jabodetabek.

Untuk mewujudkannya, pembangunan infrastruktur penunjang menjadi kebutuhan mutlak. GINSI Jateng diharapkan ikut mendorong penyelesaian pembangunan Jalan Tol Semarang-Solo, dan pengembangan pariwisata.

Selain itu juga mendorong program pengembangan angkutan barang dengan kereta api. Untuk itu, pengaktifan kembali rel-rel jalur pelabuhan harus segera dilaksanakan. Dengan langkah yang tepat, penggunaan jalur kereta api untuk logistik akan mampu memangkas beban jalan sehingga tidak mudah rusak dan mengurangi kemacetan serta kecelakaan.

“Saat ini 70 persen distribusi barang masih menggunakan jalan, 25 persen kapal dan udara serta 5 persen kereta. Bayangkan kalau yang 70 persen kereta maka distribusi akan lebih murah dan efisien,” jelasnya.

Partner Pemprov

Ketua GINSI Jateng Budiatmoko menyatakan siap melaksanakan petunjuk dan arahan GINSI pusat. Pihaknya siap menjadi partner Pemprov Jateng dan pemerintah kabupaten/kota menuju pembangunan yang lebih baik.

“GINSI akan menjadi jembatan antara anggota dan pemerintah dalam melaksanakan regulasi. Untuk mewadahi itu, saya mengapresiasi program Disperindag yang menggelar diskusi rutin bulanan untuk memecahkan persoalan yang terjadi,” katanya, didampingi Wakil Ketua GINSI Jateng Andreas BW.

Ganjar Pranowo mengharapkan GINSI dan kantong-kantong ekonomi lainnya mampu menjadi lokomotif pembangunan. Termasuk mengontrol impor barang yang benar-benar dibutuhkan masyarakat, bukan malah menyusahkan rakyat. (byo)

You might also like

Comments are closed.