“Gorila” Yang Tak Lagi Lahirkan Jawara

Pengelola Tak Punya Biaya

Jawara-jawara panco lahir dari tempat ini. Alat kebugaran yang dulu dibanggakan, sekarang tak ubahnya tumpukan rongsokan.

KATROL besi, bench press, dumbbell, dan standing press teronggok di pojok rumah Kardi. Peralatan kebugaran itu dibiarkan kusam dan berkarat. Kata Kardi, sudah setahun peralatan itu tak dipakai. Tempat kebugaran yang dikelolanya, Gorila Power Gym, tak lagi didatangi pengunjung.

Kardi kehabisan dana, makanya ia tak lagi bisa meneruskan operasional Gorila yang ada di gang buntu, Jalan Pedamaran RT 04/RW 05 Kelurahan Kauman, wilayah Semarang Tengah. Itu terjadi tahun 2017 lalu, Gorila Power Gym yang terkenal dengan sebutan Gorila Gang Buntu ia tutup.

Gorila Gang Buntu
Kardi menunjukkan alat kebugaran yang usang dan berkarat. (foto: metrosemarang/Fariz Fardianto)

“Saya juga terkendala dengan tempatnya. Karena ini berada di tengah kampung, jadi mengganggu kegiatan warga yang lalu lalang,” kata Kardi.

Kardi mendirikan Gorila Gym pada tahun 1996. Ia yang waktu itu bekerja sebagai tukang las, kebetulan memiliki kegemaran berlatih beban di rumah, di Kauman. Untuk menunjang kegemarannya, Kardi mengumpulkan serpihan besi-besi bekas las listrik. Sedikit demi sedikit, lalu setelah serpihan besi terkumpul, Kardi membuat peralatan kebugaran ala kadarnya.

Semula, hanya ada sepuluh orang yang rutin fitnes yang bertempat di pinggir Jalan Gang Buntu, Kauman itu. “Lama-lama orang kampung ikut. Lalu mereka rutin latihan. Ada yang memanfaatkannya untuk meredakan stres sepulang kerja. Ada yang iseng-iseng untuk membentuk badan agar lebih berotot dan bugar. Kemudian, ada yang berinisiatif membayar sukarela, lalu lainnya mengikuti,” kata Kardi.

Anggota Gorila waktu itu membayar Rp 3.000 untuk sekali datang. Setelah ada yang membayar, Kardi mampu sedikit demi sedikit membeli lempengan besi untuk bahan baku pembuatan alat kebugaran. Medio 90-an itu belum banyak pusat-pusat kebugaran di Semarang. Belum banyak pula yang punya alat fitnes. Lantas Gorila Gang Buntu menjadi tersohor di seantero kota.

gorila gang buntu
Gang buntu tempat Gorila Power Gym berjaya di dekade 90-an. (foto: metrosemarang.com/Fariz Fardianto)

Ketika sudah mencapai dua-tiga tahunan, warga Kauman yang berlatih kebugaran di Gorila mulai mencoba-coba mengikuti kejuaraan panco, juga kontes body fit. Hasilnya? Ada yang menjuarai lomba panco di Surabaya. Kardi sendiri lolos semifinal lomba panco kelas 85 kilogram di Java Mal Semarang.

“Bangga sekali rasanya waktu itu, bisa mengalahkan gym-gym papan atas semacam Ryu Gym. Sayangnya waktu itu saya cidera. Jadi kalah dengan atlet panco andalan Ryu Gym,” kenang Kardi.

Kini semua kenangan itu sirna. Kardi tak lagi sekuat dulu. Pamor Gorila yang cemerlang selama 16 tahun sejak didirikan pun meredup. Alat-alat kebugaran yang dulu mengekarkan otot-otot warga sekitar dan melambungkan nama Gorila Gang Buntu di kontes-kontes panco, kini diabaikan layaknya rongsokan. Alat katrol besi yang berguna menguatkan otot lengan dan dada, sudah menjadi alas tidur kakak Kardi.

gorila gang buntu
Kardi di sudut tempat latihan, Gorila Gang Buntu. (foto: metrosemarang/Fariz Fardianto)

“Dulu setelah saya mulai (membuka ‘Gorila’), (tempat fitnes) yang lain ‘menjamur’. Tempat fitnes yang lebih moderen ada di mana-mana,” kata Kardi. Dengan keadaan itu, beberapa penggemar latihan kebugaran beralih ke pusat-pusat kebugaran yang lebih moderen. Nama Gorila Gang Buntu yang dulu menjadi kebanggaan lambat laun terlupakan.

Kardi tak bisa lagi memamerkan keriuhan warga yang berlatih angkat beban. “Sudah saya setop semua. Karena saya enggak punya uang. Lagian orang-orang sini sudah pada pindah rumah. Banyak juga yang pindah ke gym yang lebih bagus. Gorila sekarang benar-benar kosong,” pungkas Kardi. (*)

Reporter: Fariz Fardianto
Editor: Eka Handriana

Comments are closed.