Gugatan Ditolak, Walhi Ajukan Banding

Massa menggelar aksi di luar gedung PTUN Semarang, selama proses pembacaan putusan gugatan izin pabrik Semen Indonesia, Kamis (16/4) siang. Foto: metrosemarang.com/ilyas aditya
Massa menggelar aksi di luar gedung PTUN Semarang, selama proses pembacaan putusan gugatan izin pabrik Semen Indonesia, Kamis (16/4) siang. Foto: metrosemarang.com/ilyas aditya

SEMARANG – Pengadilan Tata Usaha Negara (PTUN) Semarang menolak gugatan yang diajukan Wahana Lingkungan Hidup (Walhi) tentang izin pendirian pabrik Semen Indonesia di Kecamatan Gunem, Rembang. Majelis hakim menilai, gugatan tersebut sudah kadaluarsa.

Persidangan yang diketuai Susilowati Siahaan, Kamis (16/4), berlangsung dalam suasana tegang. Kedua kubu yang menentang dan mendukung pabrik semen sama-sama menggelar aksi di luar gedung PTUN.

Dalam amar putusannya, majelais hakim menganggap bahwa para penggugat telah mengetahui adanya izin lingkungan serta rencana pendirian pabrik semen di wilayahnya. Menurut hakim, pihak penggugat dilayangkan setelah diketahuinya izin lingkungan, dengan adanya sosialisasi di Balai Desa Tegal Dowo pada 22 Juni 2013.

Sosialisasi itu juga dihadiri perwakilan kubu yang menolak pendirian pabrik semen. “Dalam eksepsi menerima eksepsi tergugat dan tergugat 2 tentang tenggang waktu dan dalam pokok sengketa menyatakan gugatan penggugat tidak diterima,” kata Susilowati.

Sementara, kuasa hukum penggugat, Siti Rakhma Mary Herwati langsung menyatakan banding. Dia berdalih, putusan majelis hakim belum sampai pada pokok perkara. “Kami akan ajukan banding,” tandasnya.

Ditemui terpisah, kuasa hukum tergugat, Sadly Hasibuan menyatakan bahwa persidangan itu merupakan pembuktian secara hukum bahwa Semen Indonesia telah mengikuti prosedur yang berlaku untuk pengurusan Amdal dan izin lingkungan.

“Kami akan melakukan upaya persuasif untuk mengajak mereka. Ini adalah kemenangan bersama dan kami sangat menghormati keputusan majelis hakim,” katanya. Majelis hakim memberi waktu 14 hari bagi kedua kubu untuk menyatakan sikap. (*)

You might also like

Comments are closed.