Gurih Lumer Wedang Kacang Tanah Kapuran

Panas atau Dingin Sama Enaknya

Perebusan menghasilkan tekstur kacang tanah yang empuk. Lumer dan lembut sekali rasanya di mulut

Apa sih kuliner khas Semarang yang sudah pernah kamu cicipi? Lunpia, bandeng presto, wingko, kue moachi? Apa lagi? Sudah pernah menjajal wedang kacang?

wedang kacang kapuran
Wedang Kacang Tanah Kapuran yang lumer. (foto: metrosemarnag/zahra Saraswati)

Ini bukan ronde yang banyak ditemui di Salatiga, yang memiliki kacang sangrai sebagai isiannya. Wedang ini benar-benar seluruhnya hanya berisi rebusan kacang tanah berwarna putih. Karena namanya wedang, tentu saja berkuah. Ada santan pada kuahnya. Sulit membayangkan rasanya?

Itu belum seberapa. Karena ternyata lumayan sulit juga menemukan penjual wedang kacang di Semarang. Kini sudah tak banyak yang berjualan wedang jenis ini.

Kami beruntung menemukan salah satu warung wedang kacang yang legendaris. Warung yang menjual wedang kacang sejak 1975 ini dinamai Wedang Kacang Tanah Kapuran. Letaknya ada di Gang Kapuran, salah satu anak gang di Jalan Ki Mangunsarkoro, Gabahan, Semarang Tengah. Jika kamu berada di Jalan Ki Mangunsarkoro, cari saja nomor 45, maka akan ketemu warung wedang ini.

Warung ini didirikan oleh Yusman. Hingga tahun 2002 ia mewariskan warung kepada anak dan menantunya yang mengenalkan diri dengan nama Mbak Tum. Lapak di pinggir gang ini selalu ramai dikunjungi pembeli. Ia buka mulai pukul 15.00 dan tutup pada pukul 21.00, setiap hari.

Jika sedang ramai-ramainya, kurang dari pukul 20.00 seluruh dagangan warung sudah ludes. Jika keadaannya begitu maka Mbak Tum mau tak mau harus menutup warungnya.

Dagangan di warung ini tak hanya wedang kacang tanah saja. Ada pula wedang kacang hijau dan wedang ketan duren. Jika kamu sedang pengen yang dingin-dingin di Semarang, wedang kacang tanah dan kacang hijau tak hanya bisa disantap dalam keadaan panas atau hangat.

Wedang-wedang itu bisa disantap pula dengan es batu. Pencampuran es tidak mengubah rasa wedang kacang buatan warung ini. Tapi tidak dengan wedang ketan duren. Ketan sebagai salah satu isiannya bakal mengeras jika diberi es. Karenanya, Mbak Tum tidak menyajikan versi dingin untuk wedang ketan duren.

wedang kacang kapuran
Warung wedang kacang kapuran, sudah ada sejak 1975. (foto: metrosemarang/Jessica Celia)

 

Bagi kamu yang masih kesulitan membayangkan rasanya, rasa wedang kacang ini gurih. Tentu saja, rasa gurih ini keluar dari bulir-bulir kacang tanah tanpa kulit ari yang direbus cukup lama. “Direbus lama agar cita rasa kacang keluar, berbaur dengan kuah yang gurih dan manis,” kata Mbak Tum.

Butuh enam jam untuk perebusan dengan panci biasa. Untuk proses lebih singkat, sekitar empat jam, biasanya digunakan panci presto (panci bertekanan tinggi). Perebusan berjam-jam itu tidak menghancurkan bulir kacang tanah.

Di sisi lain, perebusan menghasilkan tekstur kacang tanah yang empuk. Lumer dan lembut sekali rasanya di mulut. Tekstur renyah yang melekat pada santapan berbahan kacang tanah, tidak akan ditemui pada wedang kacang.

Rasa gurih kacang diperkuat dengan penambahan sedikit garam saat perebusan. Penggunaan santan kental dari kelapa segar juga menambah rasa gurih, sekaligus menyumbang rasa manis.

Manis pada wedang kacang tanah ini juga dihadirkan oleh gula pasir yang dicampurkan dalam rebusan. Yang khas pada wedang kacang tanah di Kapuran ini adalah penyajian wedang dengan tambahan sirup.

Mbak Tum bakal menyediakan teh tawar  untuk setiap pelanggannya. “Ini untuk menetralkan rasa. Wedangnya kan manis,” katanya.

Semangkuk wedang kacang tanah nikmat di Kapuran bisa dibeli dengan Rp 7.000 saja. Wedang-wedang yang lain juga dipatok harga yang sama.

 

Kudapan

Jika sedang lapar dan tak cukup menyeruput wedang kacang saja, jangan khawatir. Karena di Warung Wedang Kacang Tanah Kapuran ada macam-macam kudapan. Siomai basah, siomai goreng, resoles, kroket, aneka bacem, arem-arem, martabak, bakcang ayam, ngoyang, sarang burung hingga sate telur puyuh.

wedang kacang kapuran
Mbak Tum, generasi kedua pengelola warung Wedang Kacang Tanah Kapuran, sedang melayani pembeli. (foto: metrosemarang/Jessica Celia)

 

“Semua makanan yang dijajakan disini buatan sendiri, bukan titipan orang,” kata Mbak Tum. Biasanya, kudapan-kudapan itu hanya akan bertahan sampai petang saja. Pembeli malam biasanya tinggal kebagian wedang-wedangan.

Setiap kudapan dilengkapi dengan saus berbahan bawang dan maizena yang kental dengan pilihan pedas atau manis, juga acar timun serta cabe rawit hijau. Harga kudapan pelengkap ini antara Rp 2.000 hingga Rp 5.000 per biji. Karena harganya yang murah, maka siap saja mengontrol diri supaya tidak kalap memakannya. (*)

Penulis: Jessica Celia (magang), Zahra Saraswati (magang)
Editor: Eka Handriana
You might also like

Comments are closed.