Hadirkan Novelis Eka Kurniawan, Kemah Sastra 3 Digelar Mei Mendatang

METROSEMARANG.COM – Komunitas Lereng Medini (KLM) bekerjasama dengan milis Apresiasi Sastra (Apsas)  kembali menggelar kegiatan rutin tahunan Kemah Sastra. Mengusung tema ‘Misteri Alam Dalam Narasi Sastra’ , Kemah Sastra yang ke-3 ini rencananya digelar 12-14 Mei 2017 mendatang di Bumi Perkemahan Medini, Ngesrep Balong, Limbangan, Kendal.

Menariknya, dalam Kemah Sastra kali ini, Novelis Eka Kurniawan dijadwalkan hadir sebagai pembicara yang akan mengisi materi Prosa Modern.

Sebagaimana diketahui, Eka Kurniawan saat ini tengah menjadi perbincangan hangat publik sastra baik nasional maupun internasional atas capaian literer novel Lelaki Harimau dan Cantik Itu Luka yang sudah diterjemahkan ke dalam beberapa bahasa asing.

Tercatat, Eka mendapatkan penghargaan Emerging Voices, World Reader’s Awarddan masuk  dalam nominasi The Man Booker International Prize tahun 2016 melalui Man Tiger (Lelaki Harimau).

“Rencananya nanti novel Lelaki Harimau juga akan dibedah dalam tiga bahasa, Inggris, Indonesia, dan Jerman,” kata anggota KLM sekaligus koordinator kegiatan Heri C Santoso, Jumat (28/4).

Dijelaskan Heri, selain Eka Kurniawan, sejumlah sastrawan juga dijadwalkan hadir mengisi berbagai kegiatan. Diantaranya, cerpen bersama Martin Aleida (cerpenis, Jakarta),  Diskusi Sastra Pesisiran bersama Eko Tunas (pengamat sastra pesisiran, Tegal), dan Sastra Pegunungan oleh Roso Titi Sarkoro (Pegiat sastra, Temanggung), Diskusi Sastra Muslim Amerika bersama Wawan Eko Yulianto (mahasiswa Doktoral Universitas Arkansas Amerika Serikat), bedah novel Ine Pare karya F. Rahardi oleh Gentry Amalo ( pengamat sosial budaya, NTT), serta Eksekusi Puisi bersama Iman Budhi Santosa (penyair, Jogjakarta).

“Kumcer Kupu-kupu Terbang dan skripsi karya Dina Ahsanta Puri juga akan dibedah. Ada juga pertunjukan wayang gogo serta pertunjukan teater dari Teater Sasmita UNY dan Teater Emka Undip,” beber Heri.

Heri berharap, kegiatan ini menjadi ruang asah-asih-asuh antar penulis baik itu penulis pemula maupun penulis yang sudah kategori maestro. Selain itu, juga bisa menjadi temu komunitas sastra dan literasi.

“Kami ingin menghadirkan suasana yang tak berjarak. Duduk lesehan, dan tidur sama-sama di tenda di tengah kebun. Sejenak menepi dari hirup pikuk kehidupan sehari-hari, dan menikmati udara gunung sembari mencecap khasanah kearifan dari karya sastra,” tandas Heri yang juga pengelola Pondok Baca Ajar ini. (yas)

Comments are closed.