Haji Samin dan Salamah Pelopor Pesta Kupat Jembut di Pedurungan

Tradisi Syawalan di Kampung Jaten Cilik, Pedurungan Tengah, biasa diisi dengan pembagian ketupat berisi uang. Sebagian warga juga ada yang membagikan uangnya secara langsung kepada anak-anak. Foto: metrosemarang.com/fariz fardianto
Tradisi Syawalan di Kampung Jaten Cilik, Pedurungan Tengah, biasa diisi dengan pembagian ketupat berisi uang. Sebagian warga juga ada yang membagikan uangnya secara langsung kepada anak-anak. Foto: metrosemarang.com/fariz fardianto

SEMARANG – Beragam cara dilakukan umat Muslim untuk merayakan Idul Fitri 1436 Hijriah. Di Kampung Jaten Cilik Kelurahan Pedurungan Tengah misalnya, ratusan orang mengikuti tradisi pembagian ketupat atau kupat jembut yang berisi tauge dan uang kertas yang diselipkan di belahan tengahnya.

Tapi tahukah Anda, bahwa kupat jembut ini sudah ada di kampung itu sejak puluhan tahun silam. Bahkan, pada masa zaman pergerakan kemerdekaan pun ketupat ini sudah dibagikan kepada warga Jaten Cilik. Lantas siapakah yang mengawali tradisi bagi-bagi kupat jembut ini?

Munawir, warga Kampung Jaten Cilik mengatakan, bagi-bagi kupat jembut ini dipelopori oleh dua sesepuh di kampungnya. Awal mula, tradisi itu muncul saat Haji Samin dan Salamah, dua tokoh lokal mendirikan Kampung Jaten Cilik usai hijrah dari Mranggen pada 1960.

Keduanya pun ikut memeriahkan peringatan Syawalan dengan membuat ketupat berisi tauge dan sambal kelapa parut. Mereka mengiris bagian tengah ketupat lalu dibagikan buat warga kampung.

Agar warga datang ke rumahnya, Mbah Samin menyalakan petasan dan memukul-mukul wajan selepas salat Subuh. Dan benar saja, begitu petasan-petasan itu dinyalakan warga pun berhamburan datang ke rumahnya. Mereka berebut mendapatkan kupat jembut.

Lambat laun, seiring perkembangan zaman, isi ketupatnya diganti dengan kubis dan sambal kelapa parut. Di tengahnya juga diselipkan uang kertas. Ia mengungkapkan, ketupat adalah simbol perdamaian umat Muslim. Bentuk ketupat menyerupai segi empat adalah simbol berjabat tangan pertanda antar umat Muslim saling memaafkan. Waktu pertama kali digelar, baru lima warga yang ikut rebutan kupat jembut.

“Tapi setelah berkembang diikuti 200 warga dan ratusan anak-anak,” jelasnya saat ditemui metrosemarang.com, Jumat (24/7).

Acaranya sendiri, kata dia, dimulai selepas Salat Subuh supaya bisa diolah kembali menjadi hidangan di makan pagi sekaligus pertanda berakhirnya ibadah puasa Syawal yang berlangsung selama enam hari. (far)

You might also like

Comments are closed.