Harga Bensin Naik, Konsumsi Pertamax Meningkat

Antrean konsumen premium di SPBU Ngaliyan, beberapa waktu lalu. Kenaikan harga premium memicu peningkatan permintaan bensin jenis pertamax. Foto: metrosemarang.com/ade lukmono
Antrean konsumen premium di SPBU Ngaliyan, beberapa waktu lalu. Kenaikan harga premium memicu peningkatan permintaan bensin jenis pertamax. Foto: metrosemarang.com/ade lukmono

SEMARANG – Pasca kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi, konsumsi pertamax mengalami peningkatan. Adapun kenaikan konsumsi pertamax mencapai 7%. Kenaikan itu terjadi ketika harga premium mengalami penyesuaian dari Rp 6.900/liter menjadi Rp 7.400/liter.

External Relations Pertamina Marketing Operation Regional Jateng-DIY, Robert MV Dumatubun mengatakan, pada periode Januari hingga Maret lalu, konsumsi pertamax untuk wilayah Jateng-DIY mencapai 92.980 kiloliter (KL). Padahal pada triwulan III/2015, pihaknya hanya menargetkan konsumsi pertamax sebesar 87.280 KL.

“Dengan penerapan harga keekonomian sebagaimana harga tidak ada subsidi untuk BBM jenis premium ini berdampak pada harga menjadi berfluktuasi. Kondisi inilah yang mengakibatkan masyarakat tertarik untuk berpindah ke pertamax,” ungkapnya, Selasa (7/4).

Lebih lanjut dia menjelaskan, penerapan harga tersebut akhirnya mengikuti kondisi pasar yang sedang terjadi. Konsekuensinya, sewaktu-waktu komoditas tersebut dapat mengalami kenaikan maupun penurunan harga.

Kendati demikian, untuk konsumsi premium juga mengalami peningkatan meski tidak sebesar pertamax. Untuk premium peningkatan konsumsinya mencapai 2%. ”Target awal konsumsi premium mencapai 815.570 KL, sedangkan realisasi pencapaian sebesar 831.536 KL. Kenaikan konsumsi BBM nonsubsidi baik pertamax maupun premium merupakan indikasi dari tumbuhnya perekonomian dan jumlah penduduk di Jateng-DIY,” jelasnya.

Kemudian, jika dibandingkan dengan pertamax dan premium, BBM jenis solar mengalami fluktuasi yang cukup signifikan. Untuk bulan Januari konsumsi solar wilayah Jateng-DIY mencapai 144.028 KL, bulan Februari mencapai 132.371 KL, dan bulan Maret mencapai 151.310 KL.

Sementara itu, meski pertamax sudah mulai mengalami kenaikan konsumsi dan premium tidak lagi disubsidi hingga saat ini Pertamina masih merugi akibat subsidi BBM.

“Penghapusan subsidi BBM jenis premium hanya berlaku di Jawa, Madura, dan Bali, sedangkan daerah lain masih menerima subsidi premium. Selain itu, untuk solar juga masih disubsidi dan ini berlaku di seluruh daerah di Indonesia, ini yang mengakibatkan Pertamina masih merugi,” tandasnya. (MS-16)

You might also like

Comments are closed.